Beranda blog Halaman 972

Lumpuh 20 Tahun, Pemuda di Pamekasan dapat Kursi Roda

Pamekasan, 15/6 (Media Madura) – Zainur Asiz (22) pemuda asal Desa Montok, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur yang lumpuh selama 20 tahun mendapat bantuan kursi roda.

Satu unit kursi roda itu diberikan oleh Koordinator Komonitas motor Byson Pamekasan, bantuan itu diberikan karena dirinya terketuk untuk membantunya.

“Bantuan ini saya ikhlas tanpa tendensi apa-apa, anggap saja berbagi rejeki di bulan Ramadan,” kata Bambang Budianto (38) saat memberikan secara langsung, Kamis (15/6/2017) pagi.

Ditambahkan oleh pria gempal itu, dengan adanya kursi roda itu diharapkan bisa membantu meringankan beban keluarga.

“Dengan adanya kursi roda ini kan bisa keluar rumah dan tidak selalu di dalam kamar,” tambah Bambang.

Sementara, Subli Rahmandar (38), kakak Aziz, mengucapkan terima kasih, karena dengan adanya kursi roda tersebut adiknya bisa merasakan angin segar seperti anak seumurannya.

“Terima kasih banyak pak, ini merupakan keinginan kami sejak 13 tahun yang lalu, tapi untuk membelinya sendiri tidak punya uang,” katanya.

Ia masih berharap adiknya bisa diobati sehingga bisa seperti normal kembali.

“Pinta kami semoga masih bisa diobatinya,” tutup Subli dengan mata berkaca-kaca.

Reporter: Rifqi
Editor: Ahmadi

Maju pada Pilkada Pamekasan Tujuan Taufadi Hanya untuk Ini

Pamekasan, 15/6 (Media Madura) – Taretan Taufadi memastikan diri untuk maju pada Pilkada Pamekasan tahun 2018 mendatang. Rupanya tekadnya untuk terjun ke dunia politik mempunyai tujuan khusus.

Pengusaha muda ini memilih untuk berpolitik dan mencalonkan diri sebagai salah satu kandidilat yang akan bertarung pada Pilkada Pamekasan melawan sejumlah tokoh lainnya, dengan tujuan hanya ingin mengabdikan diri dan berbuat untuk Pamekasan.

“Alasan saya maju cukup sedarhana, saya hidup di Pamekasan. Pekerjaan saya di Pamekasan. Saya sudah anjoy di Pamekasan, sehingha saya ingin berbuat untuk Pamekasan,” katanya kepada wartawan. Kamis (15/06/2017) malam.

Tetapi, kata politikus muda ini, kepestiannya untuk maju masih menunggu restu dari ulama dan tokoh masyarakat Pamekasan, sehingga komunikasi terus dilakukan.

“Alhamdulillah, para ulama menerima saya. Maaf, bukan mendukung saya ya, tetapi menerima saya ketika silaturahmi,” urainya.

Komunikasi dan silaturrahmi dengan ulama dan tokoh masyarakat terus dilakukan hingga saat ini, karena mantan aktifis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan ini ingin mendapatkan restu dari ulama dan bekerja sesuai dengan apa yang dikehendaki ulama dan masyarakat Pamekasan secara umum.

Selain itu, kata dia, pihaknya terus membuka diri terhadap komunikasi yang dilakukan oleh sejumlah tokoh lain yang nantinya akan menjadi pendampingnya. Termasuk aktif berkomunikasi dengan pengurus partai polititk.

Penulis : Arif
Editor : Ahmadi

Dewan Sampang Tolak Kebijakan Full Day School

Sampang, 15/6 (Media Madura) – Ketua Komisi IV DPRD Sampang Amin Arief Tirtana, secara tegas menolak kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy terkait Kebijakan sekolah 8 jam sehari dari Senin hingga Jumat.

Menurutnya, kebijakan itu tidak cocok dengan muatan lokal pesantren di wilayah Madura khususnya Kabupaten Sampang.

“Menolak kebijakan itu karena alasan lainnya sistem pelajaran untuk Madrasah Diniyah (Madin) sampai sekarang sudah berlangsung baik,” ucap Amin ditemui di ruangannya, Kamis (15/6/2017).

Untuk itu, tak perlu penerapan sekolah 8 jam sehari tersebut dilaksanakan di pendidikan Sampang. Jika tidak, maka harus mengubah tatanan atau pengkajian ulang.

Amin memastikan, pihaknya dalam waktu dekat akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama Sampang untuk membicarakan secara jauh kebijakan tersebut.

Untuk diketahui, terkait program sekolah dari Senin hingga Jumat, hal itu diterapkan atas dasar beban kerja Aparatur Sipil Negara (ASN).

Reporter : Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

Waspadai Titik Rawan Kecelakaan Jelang Mudik ke Sampang

Sampang, 15/6 (Media Madura) – Pengguna jalan wajib mewaspadai berbagai kerawanan di jalur mudik Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah. Salah satunya di wilayah Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.

Sejumlah jalur alternatif nasional terdapat rawan kecelakaan serta masih minimnya sarana rambu lalu lintas. Polisi sudah melakukan pemetaan terhadap jalur nasional tersebut.

Kapolres Sampang AKBP Tofik Sukendar mengatakan, jalur nasional yang masih rusak dan bergelombang itu diantaranya Jalan Nyiburan Kecamatan Jrengik, wilayah Kota Sampang di Jalan Teuku Umar, simpang tiga Jalan Mangkubumi, dan sepanjang Jalan Raya Taddan Kecamatan Camplong.

“Jalur nasional inilah menjadi atensi polisi saat memasuki arus mudik lebaran, karena saat ini kondisinya rusak dan minim rambu lalu lintas sehingga dapat membahayakan para pengguna jalan,” ucapnya, Kamis (15/6/2017).

Tofik menyampaikan, Satlantas Polres Sampang saat ini sudah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Sampang untuk bisa melakukan perbaikan jalan.

“Kita upayakan sehingga nantinya pada hari H lebaran masyarakat sudah bisa menggunakan dengan baik,” terangnya.

Selain itu, untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna jalan, dalam waktu dekat pihaknya akan memasang beberapa rambu-rambu lalu lintas.

“Untuk meminimalisir kecelakaan akibat jalan yang rusak kami akan pasang rambu-rambu lalu lintas menjelang H-7 lebaran,” terangnya.

Sementara, Kabid Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Sampang Abdul Rokib menjelaskan, sejumlah titik itu termasuk jalan nasional, pihaknya sudah mengirimkan surat ke Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VIII, Sidoarjo, terkait kerusakan itu.

“Sejauh ini untuk jalan nasional itu belum ada perbaikan, kita saja yang jalan kabupaten juga masih banyak yang rusak,” ungkapnya.

Ia menyebutkan untuk persiapan arus mudik tahun ini, perbaikan jalan kabupaten hanya dilakukan di wilayah perkotaan saja karena keterbatasan anggaran dan waktu. Adapun jalan kabupaten yang diperbaiki yaitu di Jalan Teuku Umar atau depan terminal bus dan di Jalan Jamaludin.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

PNS Sampang Diperbolehkan Mudik Pakai Mobil Dinas

Sampang, 15/6 (Media Madura) – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Sampang Fadhilah Budiono memperbolehkan para pegawai negeri sipil (PNS) bisa menggunakan mobil dinas untuk keperluan mudik Lebaran di tahun 2017.

“Tidak ada larangan kok, silahkan pakai mobil dinas itu kalau mau pulang kampung saat Lebaran, kumpul bersama keluarga,” ujar Fadhilah, Kamis (15/6/2017).

Dia mengaku juga akan mudik Lebaran tahun ini menggunakan mobil dinas bernopol M 2 NP. Terpenting, apabila mobil berplat merah itu digunakan semua biaya tidak dibebankan kepada anggaran pemerintah daerah jika digunakan saat mudik.

“Saya juga mau pakai itu karena tidak ada lagi. Tapi uang bensin, perawatan ketika ada kerusakan ditanggung sendiri,” katanya.

Sementara, Ketua DPRD Sampang Imam Ubaidillah, justru berbeda pendapat. Ia menegaskan agar PNS di lingkungan Pemkab Sampang tidak menggunakan mobil dinas saat mudik. Alasan itu karena sesuai intruksi dari pemerintah pusat.

“Mobil dinas inikan untuk pekerjaan, bukan khusus mudik lebaran. Jadi jangan digunakan untuk mudik, apalagi sudah ada perintah langsung dari pusat. Soal pak Fadhilah mempersilahkan itu faktor kearfian lokal, tapi memang dalam aturannya mobil dinas dilarang,” jelasnya.

Reporter : Ryan Hariyanto
Editot: Ahmadi

Pejabat di Pamekasan Boleh Bawa Mobdin saat Libur Lebaran

Pamekasan, 15/6 (Madia Madura) – Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, Madura, Jawa Timur, diperbolehkan menggunakan Mobil Dinas (Mobdin) selama libur lebaran Idul Fitri 1438 H.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pamekasan, Mohammad Alwi mengatakan, diperbolehkannya mobdin digunakan asalkan tidak keluar dari pulau Madura.

“Meskipun hal itu bukan pelanggaran berat, tetapi harus diperhatikan oleh semua pejabat,” katanya, Kamis (15/6/2017).

Adapun rute yang bisa dilalui oleh pengguna mobdin itu yaitu dari acara di pendopo dan main ke rumah kerabat atau famili.

“Nanti kan pasti balik lagi,” tambahnya.

Menurut mantan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Pamekasan itu, pejabat yang menggunakan mobdin selama libur lebaran agar merawatnya dengan baik karena merupakan fasilitas negara.

“Adanya kemudahan membawa mobdin selama libur itu bukan berarti tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku,” tutup Alwi.

“Setiap tahun sudah biasa seperti ini, yang penting dijaga dan dirawat dengan baik. Karena itu fasilitas negara, ” sambungnya menutup percakapan.

Reporter: Rifqi
Editor: Ahmadi

Lapas Sumenep Ajukan Remisi Idul Fitri untuk 99 Narapidana

0

Sumenep, 15/6 (Media Madura) – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur mengajukan remisi Idul Fitri 1438 H untuk 99 Narapidana dari berbagai kasus.

Pengajuan remisi merupakan hak setiap narapidana yang sudah inkrah putusan hukumnya. Pengajuan remisi dilakukan dua kali dalam satu tahun.

Bagi yang beragama Islam, remisi diajukan saat Hari Kemerdekaan dan Hari Raya Idul Fitri, sementara untuk non muslim, Hari Kemerdakaan dan hari raya sesuai dengan agama masing-masing.

“Pengajuan remisi itu dua kali dalam satu tahun, Idul Fitri dan Hari Kemerdekaan. Nah, untuk saat ini kita ajukan 99 orang,” kata Kalapas setempat, Ketut Kabar Harry Achjar, Kamis (15/6/2017).

Akbar menerangkan, warga binaan di Lapas Sumenep berjumlah 219 orang, 113 tahanan tidak bisa diajukan remisi, karena belum mendapat putusan dari hakim, sedangkan 106 narapidana sisanya hanya 99 orang yang diajukan.

“Tujuh warga binaan lainnya tidak bisa mendapat remisi dikarenakan ada yang pidana seumur hidup, dan ada pidana di bawah enam bulan,” terangnya. 

Akbar menambahkan, syarat pengajuan remisi, diantaranya harus sudah mendapat putusan dari hakim atau berstatus narapidana, harus berkelakuan baik, serta pidananya harus di atas enam bulan. 

“Tidak sering melanggar dan berkelakuan baik, serta tidak sedang menjalani proses kurungan pengganti denda,” imbuhnya.

Namun menurut dia, jumlah tersebut tidaklah pasif, masih berpotensi bertambah, karena terdapat beberapa tahanan yang tengah menjalani sidang menjelang putusan. 

“Sekarang pengajuannya melalui online total, jadi jumlah tersebut yang baru kami ajaukan sekarang, bisa jadi bertambah bisa jadi berkurang, bertambah bila ada yang diputus dalam wajtu dekat dan memenuhi syarat, beekurang jika ada yang ditolak,” tandasnya. 

Reporter: Rosy
Editor: Ahmadi

Kadisdik Pamekasan Tidak Tegas Menyikapi Rencana Penerapan Full Day School

0

Pamekasan, 15/6 (Media Madura) – Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Moch Tarsun, tidak tegas menyikapi kebijakan Full Day School yang bakal diterapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhajir Effendy.

Moch Tarsun menganggap kebijakan itu rawan bertentangan dengan kearifan lokal Pamekasan. Salah satu dampak jika kebijakan full day school diterapkan, jam sekolah Madrasah Diniah (Madin) yang fokos pada pendidikan keagamaan, di sore hari, akan terganggu.

“Secara pribadi keberatan dengan rencana kebijakan penerapan full day school itu,” kata Tarsun, Kamis (15/6/2017).

Namun disisi lain, sebagai abdi negara, dirinya menyatakan akan tetap melaksanakan kebijakan pemerintah, jika kebijakan itu diberlakukan.

Tarsun menilai, rencana penerapan itu hanyalah sebatas wacana belaka, pasalnya sampai saat ini instansinya belum mendapat surat resmi dari Kemendikbud.

”Tetapi, sampai saat ini belum menerima edaran dari Kemendikbud. Jadi, saya pikir itu masih sebatas wacana,” tambahnya.

Sebelumnya, penerapan masuk sekolah mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB dengan lima hari aktif, mendapat penolakan dari berbagai pihak, mulai praktisi pendidikan, DPRD hingga DPR RI Dapil Madura.

Penolakan tegas disampaikan oleh salah satu dosen STAIN Pamekasan, Atiqullah. Ia menilai rencana Kemendikbud itu sangat memberatkan bagi masyarakat pesantren. Kebijakan itu dianggap mengganggu terhadap program pendidikan agama dan keagamaan yang telah eksis di masyarakat.

“Sebaiknya Mendikbud tidak perlu memadatkan kegiatan pendidikan dalam waktu 5 hari sekolah karena alasan berlibur bersama orang tua. Perlu dipahami bersama bahwa pendidikan itu adalah proses transformasi pengetahuan dan penanaman nilai-nilai,karakter anak-anak bangsa,” katanya tegas.

Hal senada dikatakan oleh Ketua Komisi I DPRD Pamekasan Ismail. Menurut Ismail, mayoritas masyarakat di Madura tidak hanya menempuh pendidikan formal saja. Melainkan juga bersekolah di madin pada sore hari.

”Kalau kemudian sekolah sehari penuh dari pukul 07.00–16.00, maka banyak anak didik yang tidak bisa sekolah diniyah,” ujarnya.

Dijelaskan Ismail, madin di Madura sangat berarti bagi masyarakat, karena melalui pendidikan keagamaan itulah, karakter anak didik dibentuk.

“Madin tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga akhlak, budaya, moral, dan agama. Sementara madrasah diniyah itu dilaksanakan mulai pukul 14.00–17.00,” tegasnya.

Bahkan, anggota DPR RI, KH Kholilurrahman juga buka suara menanggapi persoalan tetsrbut. Ia mengatakan kebijakan full day school saat ini masih kontroversial di tengah-tengah masyarakat. Salah satunya adalah pelaksanaan madrasah diniyah tidak mendapat waktu, sehingga kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah.

“Ada masyarakat yang sudah siap dan ada yang tidak siap melaksanakan full day school ini. Makanya pemerintah harus mengkaji ulang,” pintanya.

Reporter: Rifqi
Editor: Ahmadi

Ada Beking Aparat, Satpol PP Sumenep Tak Berdaya Hentikan Peredaran Miras

Sumenep, 15/6 (Media Madura) – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur dibuat tak berdaya menghentikan peredaran minunan keras (Miras) di wilayah setempat. 

“Saat kami audiensi ke Bupati, Kasatpol PP bilang, bahwa mereka kesulitan berantas peredaran miras di toko-toko karena adanya beking aparat,” kata aktifis HMI, Urip Prayitno pada wartawan. 

Pengakuan mahasiswa pun dibenarkan oleh Kasatpol PP Sumenep, Fajar Rahman. Kata dia, penjualan miras memang ada yang membekingi, sehingga banyak berani melakukan transaksi meskipun saat bulan Ramadan.

“Yang jelas beking itu adalah orang kuat, entah itu berasal dari mana, kami juga tidak tahu,” akunya. 

Karena alasan itu, lanjut Fajar, dirinya sangat berhati-hati saat melakukan razia warung-warung penjual miras, demi menghindari konflik sosial antar intansi.

Yang bisa dirinya lakukan saat ini hanyalah mengatur strategi agar pemberantasan miras berjalan, namun juga tidak menimbulkan masalah, salah satunya melakukan koordinasi secara intens dengan para pengak hukum lainnya, seperti TNI dan Polri. 

“Kami juga punya Provos, itu yang kami tugaskan berkomunikasi sebelum melakukan razia, sehingga kalau ada apa-apa, mudah untuk diselesaikan,” pungkasnya.

Untuk diketahui, masalah miras memang tengah menjadi perhatian serius di Kabupaten Sumenep. Pasalnya, hampir setiap pekan Kepolisian setempat menciduk segerombolan pemuda yang sedang pesta miras. 

Reporter: Rosy
Editor: Ahmadi

Uji Coba Perssu Sumenep Vs Persepam MU Berakhir Skor Kacamata

0

Sumenep, 15/6 (Media Madura) – Pertandingan uji coba antara Perssu Sumenep versus Persepam Madura Utama (PMU) berakhir tanpa gol alias skor kacamata.

Pada laga yang dihelat di Stadion A Yani Sumenep, Rabu (14/6/2017) sore itu, kedua tim sama-sama tak mampu mencetak sebiji gol pun.

Sejatinya, Perssu tampil lebih impresif di babak pertama, beberapa kali serangan sempat dilancarkan ke lini pertahanan Laskar Sape Ngamok, namun hingga 45 menit usai tak satupun yang berbuah gol. 

Sementara tim tamu mencoba bangkit di babak kedua, tapi pertahanan Perssu yang mulai terlihat kokoh tak mampu dijebol oleh pasukan Rudi Kaljtes. Alhasil, hingga peluit panjang dibunyikan, skor kacamata menjadi hasil akhir.

Usai laga, Pelatih Persepam MU mengungkapkan, uji coba tersebut digelar cukup mendadak, dan dirinya pun tidak mematok target menang, karena hanya untuk sekedar menjaga kondisi pemain.

“Ya, saya tidak butuh uji cobanya, tapi butuh lapangannya, karena di Pamekasan kita kesulitan lapangan untuk latihan taktis strategi,” ungkapnya. 

Pelatih Caretaker Perssu, Jamal Yastro juga mengatakan hal yang sama, bahwa uji coba tersebut hanya sekedar menjaga kondisi dan mental bertanding, sehingga dia tidak mempermasalahkan hasil tersebut. 

“Dari hasil uji tanding ini, memang masih banyak yang harus dibenahi, terutama di lapangan tengah yang terlihat didominasi pemain lawan. Selain itu, ada beberapa pemain yang terlihat lambat melakukan pressing,” tandasnya. 

Reporter: Rosy
Editor: Ahmadi