Pamekasan, (Media Madura) – Di tengah jutaan doa yang melangit di Padang Arafah, pasangan suami istri asal Pamekasan, H. Taufadi dan Hj. Ansari, menerima kabar yang membuat hati mereka bergetar haru.
Saat keduanya sedang menjalani wukuf pada 9 Dzulhijjah 1447 Hijriah atau 26 Mei 2026, putri pertama mereka, Ihda Nazilla Taufadi, menuntaskan hafalan Al-Qur’an 30 juz.
Bagi keluarga itu, momen tersebut terasa begitu istimewa. Di saat jutaan umat Islam memohon ampun dan keberkahan di Tanah Suci, kabar bahagia datang dari Tanah Air. Seolah menjadi hadiah spiritual yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Nazilla bukanlah anak yang tiba-tiba sampai di titik itu dengan mudah. Selama enam tahun terakhir, siswi kelas XII MA Pondok Pesantren Kota (PPK) Alif Laam Miim Surabaya itu menempuh perjalanan panjang bersama ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Hari-harinya dihabiskan dengan setoran hafalan, murojaah, serta menjaga disiplin di tengah kehidupan pesantren. Saat banyak remaja seusianya larut dalam hiruk-pikuk dunia luar, Nazilla memilih jalan yang sunyi dekat dengan Al-Qur’an.
Enam Tahun Bersama Al-Qur’an
Pesantren yang berada di kawasan Kebonsari, Surabaya, itu memang dikenal kuat dalam pendidikan karakter dan pembinaan hafalan Al-Qur’an. Di tempat itulah Nazilla ditempa hingga akhirnya mampu menyelesaikan hafalan 30 juz.
Di Tanah Suci, sang ayah yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Pamekasan tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya.
“Selama enam tahun berjuang, Alhamdulillah bisa menyelesaikan hafalan ke-30 saat kami berada di Padang Arafah saat wukuf. Semoga menjadi perhiasan, perisai dan menjadi keberkahan dalam menjalankan kehidupanmu, sholehah,” tulis H. Taufadi melalui story WhatsApp miliknya.
Perasaan serupa juga diungkapkan sang ibunda, Hj. Ansari, yang saat ini menjabat anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Jatim XI Madura.
“MasyaAllah, bertepatan dengan Hari Arafah saat kami wukuf mendapatkan hadiah terbaik darimu, Nak Sholehah. Semoga menjadi ilmu yang barokah. Terima kasih telah berjihad untuk kami,” tulisnya penuh haru.
Menjaga Hafalan, Menjaga Kehidupan
Bagi Nazilla sendiri, perjuangan menghafal Al-Qur’an bukan sekadar capaian akademik atau kebanggaan keluarga. Ada doa panjang yang ia simpan di balik setiap ayat yang dihafalnya.
“Saya ingin Al-Qur’an ini menjadi mahkota untuk orang tua saya kelak di akhirat, dan menjadi cahaya untuk hidup saya,” ungkapnya.
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa begitu dalam. Sebab di usianya yang masih muda, Nazilla telah memahami bahwa hafalan Al-Qur’an bukan hanya tentang mengingat ayat demi ayat, melainkan tentang menjaga cinta kepada firman Allah sepanjang hidup.
Ia mengakui perjalanan tersebut tidak mudah. Ada lelah, ada jenuh, bahkan ada saat-saat ingin menyerah. Namun, keinginan membahagiakan kedua orang tuanya selalu membuatnya bertahan.
“Alhamdulillah, ini bukan perjuangan yang mudah. Tapi saya selalu ingat tujuan saya, ingin membahagiakan orang tua dan menjaga Al-Qur’an seumur hidup saya,” ujarnya dengan suara bergetar.
Nazilla juga menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga dan para guru yang selama ini mendampinginya.
“Saya hanya ingin membuat abi dan ummi, seluruh keluarga besar kami, guru-guru kami, bahagia dunia akhirat. Semoga hafalan ini bisa menjadi hadiah terbaik untuk mereka,” katanya lirih.
Perjalanan Nazilla tentu belum selesai. Tantangan berikutnya justru lebih besar, yakni menjaga hafalan agar tetap kuat sekaligus mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, di tengah zaman yang serba cepat dan penuh distraksi, pilihan jalan hidup yang diambil Nazilla menjadi pengingat bahwa masih ada anak muda yang memilih menenangkan hati bersama Al-Qur’an.
Dan di Padang Arafah, di tengah lautan manusia yang sedang berdoa, dua orang tua itu menerima hadiah paling indah dari putri mereka, hafalan 30 juz yang lahir dari perjuangan, doa, dan cinta. (Znl/Arif)


