Beranda blog Halaman 1004

Hari Kartini, Polres Sampang Gratiskan Pelayanan SIM dan Bagikan Bunga

Sampang, 21/4 (Media Madura) – Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Sampang, Madura, Jawa Timur, memberikan pelayanan gratis pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) bagi perempuan yang lahir bertepatan dengan peringatan Hari Kartini 21 April.

Kapolres Sampang AKBP Tofik Sukendar, melalui Kasat Lantas AKP Erika Purwana Putra, mengatakan memperingati Hari Kartini dengan menggratiskan pembuatan SIM baru dan perpanjangan sebagai bentuk apresiasi kepada pemohon khususnya perempuan di wilayah hukum Sampang.

“Meski pembuatan SIM gratis, prosedur dan mekanisme tetap dilaksanakan seperti uji teori dan praktek. Namun kita berikan apresiasi untuk biaya digratiskan berlaku hari ini,” ujar Erika, Jumat (21/4/2017).

Menurutnya, ada 5 orang perempuan yang digratiskan pembuatan SIM C. Terdiri dari, 2 pemohon SIM baru dan 3 pemohon SIM perpanjangan.

Sedianya, biaya administrasi pengurusan SIM sesuai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yakni Rp120 ribu untuk SIM A dan SIM B, dan Rp100 ribu untuk SIM C. Sedangkan untuk memperpanjang masa berlaku SIM dikenakan Rp80 ribu untuk SIM A dan SIM B, dan Rp75 ribu untuk SIM C.

Tak cuma itu, mengambil momen peringatan Hari Kartini, masing-masing Polisi Wanita (Polwan) yang bertugas di pelayanan masyarakat semuanya mengenakan kebaya. Dengan begitu dapat menunjukkan kemampuan yang komprehensif tak hanya bagi keluarganya.

Di ruas jalan tepat di Jalan Trunojoyo Monumen Sampang pada Jumat pagi, Polwan juga membagikan setangkai bunga diberikan ke para pengguna jalan raya.

“Ini wujud cinta kepada Kartini sehingga Polwan bertugas di pelayanan mengenakan baju kebaya khusus, sedangkan laki-laki memakai baju sakera,” katanya.

Sementara itu, Siti Faridah (32) warga Jalan Rajawali Kota Sampang, mengaku senang dan berterima kasih kepada polisi. Sebab, di hari kelahirannya itu dan bertepatan Hari Kartini pembuatan SIM digratiskan.

“Senang pak, dikirain dipanggil petugas ke dalam karena bermasalah, eh ternyata pembiayaan SIM digratiskan karena hari ini kelahiran saya bertepatan Hari Kartini,” singkatnya.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

Orde Baru dan Penumpulan Cita-cita Orde Kartini

0

Oleh : Nurani Soyomukti*)

Saya meyakini bahwa perempuan lebih hebat daripada laki-laki. Lebih kuat daripada laki-laki. Hanya saja, sistem sosio-budayalah yang membuat kaum perempuan terlemahkan, terpinggirkan, tersubordinasikan, dan bahkan terindas. Sistem sosial-budaya mengonstruksi budaya, cara pandang bahwa perempuan lemah. Bahwa perempuan tidak boleh berperan seperti laki-laki. Bahwa perempuan adalah pelayan laki-laki. Bahkan ada pandangan bahwa perempuan adalah sumber dosa, calon penghuni neraka terbanyak, dan urusan pahala untuk surga tergantung pada laki-laki (“Swarga nunut neraka katut”).

Pandangan budaya itu memvonis perempuan bahkan belum lahirpun. Sisa pemikiran feodal semacam itu tidak juga hilang dari masyarakat kita. Keberadan Kartini dengan pemikirannya yang kita baca kemudian, juga referensi-referensi perjuangan perempuan lainnya, ternyata belum mampu mengubah cara pandang masyarakat (termasuk perempuan sendiri). Mungkin karena memang budaya dan cara pandang feodalisme tidak hancur dan belum ada revolusi terhadapnya.

Sebab belum ada aksi massif merubah kesadaran kesetaraan laki-laki dan perempuan. Tidak ada gerakan perempuan yang berarti dalam relasi sosial-budaya dan politik. Seberapapun kita punya sejarah Kartini yang baru dibaca melalui penerbitan surat-suratnya di awal abad ke-20, ternyata perubahan kesadaran masyarakat itu hanya bisa dilakukan dengan gerakan. Nama Kartini memang mengilhami gerakan perempuan, tapi tidak semuanya.

Bila dibandingkan gerakan perempuan di barat di mana kekuatannya cukup massif dan berkelanjutan, baik dari perspektif radikal, liberal, maupun sosialis, tradisi gerakan perempuan di negara kita sempat terinterupsi dalam jangka waktu cukup lama. Terutama di era dominasi politik patriarki yang cukup Represif, yaitu Orde Baru.

Sebelum Orde Baru, kalau kita melihat era Pergerakan nasional, era Revolusi kemerdekaan, hingga era Orde Lama, tradisi gerakan perempuan cukup progresif dan variatif. Mulai munculnya organisasi perempuan yang masih “nebeng” dengan organisasi laki-laki, seperti Perempuan Mahardika-nya Boedi Oetomo, hingga munculnya kemandirian organisasi perempuan. Kemudian adanya Kongres Perempuan pada Desember 1928. Di pertengahan tahun 1920-an, wacana gerakan perempuan yang mencoba menjawab kontradiksi penjajahan dan penindasan sudah mulai muncul. Sejarah gerakan perempuan harus mencatat nama Sukaesih dan Munasiah dari Jawa Barat, yang merupakan aktivis yang pada akhirnya oleh Belanda dikirim ke kamp konsentrasi Belanda di Digul akibat aktivitas radikalnya dalam pemberontakan 1926/1927 yang dilakukan kaum kiri. Munasiah, misalnya dalam sebuah kongres perempuan di Semarang menyatakan bahwa: “Wanita itu mataharinya rumah tangga, itu dulu! Tapi sekarang perempuan jadi alatnya kapitalis. Padahal sejak zaman Mojopahit, wanita sudah berjuang. Sekarang adanya pelacur, itu bukan salahnya wanita. Tapi salahnya kapitalisme dan imperialisme!”

Maka tak mengherankan jika pada Kongres Perempuan 1928 adalah momentum yang luar biasa karena aktivis perempuan membicarakan bagaimana kedudukan perempuan di masyarakat. Isu TOLAK POLIGAMI adalah salah satunya. Selain isu bagaimana perempuan harus mendapatkan pendidikan dan pekerjaan. Domestifikasi perempuan mulai disadari sebagai kondisi yang menyempitkan peran perempuan.

Tahun 1930-an, sekitar satu dekade sebelum Indonesia Merdeka, ideologi gerakan perempuan semakin maju dan pengorganisirannya juga semakin massif. Yang layak dicatat adalah organisasi bernama “Isteri Sedar” (yang artinya ‘Perempuan Sadar’) pada tahun 1932. Bacaan organisasi ini terhadap masalah yang dihadapi perempuan amat progresif. Karena mereka menghubungkan nasib perempuan dengan kontradiksi ekonomi-politik masyarakat kapitalis dan kolonialisme.

Soewarni Pringgodigdo, ketua Isteri Sedar, menjelaskan sudut pandang organisasinya dengan mengatakan: “Di seluruh dunia, sembilan puluh persen dari penduduk adalah kelas pekerja. Di semua negara, nasib anak-anak kelas pekerja yang miskin sangat menyedihkan, tetapi di negara-negara yang tidak mempunyai kebebasan anak-anak bukan hanya kekurangan makanan dan pakaian, juga pendidikan”. Dalam Kongres itu Soekarno memberikan pidato yang bertema ”Gerakan Politik dan Emansipasi Perempuan”.

Belakangan Istri Sedar menjelma menjadi Gerwis, yang merupakan cikal bakal Gerwani nantinya. Tak mengherankan jika kemudian kesadaran akan penjajahan kapitalisme kolonial kian radikal, dengan jaman yang sudah mulai terbuka untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Hingga kemudian era semaraknya organisasi perempuan terinterupsi selama penjajahan Jepang yang cukup represif. Kisah tentang perempuan kita sebagai budak seks pasukan Jepang menjelaskan ketertindasan yang cukup parah, diiringi dengan terkonsolidasinya kaum perempuan untuk mendukung fasisme Jepang. Sedangkan gerakan progresif perempuan tiarap tak bisa berekspresi lebih jauh. Satu-satunya organisasi yang diijinkan berdiri adalam Fujinkai (perkumpulan perempuan). Programnya sama sekali tidak boleh politik, tetapi hanya bersifat sosial seperti memerangi buta huruf, menjalankan dapur umum, dan kerja-kerja sosial lainnya.

Setelah era kemerdekaan. Keinginan masyarakat untuk berorganisasi luar biasa, demikian juga gerakan perempuan. Tetapi pascadeklarasi Kemerdekaan 1945, upaya asing untuk merebut kembali KNRI juga membawa dinamika baru bagi gerakan kaum perempuan. Dalam kursus-kursus politik untuk perempuan yang kemudian bisa kita baca dari buku “Sarinah”, Bung Karno pada tahun 1945 bahkan mengatakan: “Soal perempuan adalah sama tuanya dengan masyarakat; soal perempuan adalah sama tuanya dengan kemanusiaan. Atau lebih tegas: soal laki-laki-perempuan adalah sama tuanya dengan kemanusiaan. Sejak manusia hidup dalam gua-gua dan rimba-rimba dan belum mengenal rumah, sejak “zaman Adam dan Hawa”, kemanusiaan itu pincang, terganggu soal ini”.

Kaum perempuanpun tak sungkan untuk berjuang di jalur laskar. Kelompok perjuangan yang pertama adalah Lasjkar Wanita Indonesia atau Lasjwi. Kongres Perempuan di akhir tahun 1945 dan tahun 1946 tampaknya semakin membuat isu perempuan semakin maju. Selain dorongan untuk bergabung dalam perjuangan merebut kembali kemerdekaan, juga ada isu kesteraan, misalnya: upah yang sama dan hak yang sama atas kerja, perbaikan hukum perkawinan, pendidikan untuk kaum perempuan, dan lain-lain.

Agresi militer Belanda sejak kemerdekaan hingga tahun 1950 cukup memporak-porandakan gerakan perempuan, terutama dalam hal konsolidasi. Reaksi terhadap serangan kolonialis dan sulitnya konsolidasi ini berefek pada polarisasi ideologis gerakan perempuan. Kongres Wanita Indonesia (Kowani) yang dibentuk pada tahun 1946 untuk menunjang perjuangan kemerdekaan, bubar.

Pada tahun 1949, ada pertemuan antar aktivis perempuan, tapi namanya Permusjawaratan wanita Indonesia, bukan Kongres. Konferensi yang berlangsung di Yogyakarta dari 26 Agustus hingga 2 September 1949 di bawah kepemimpinan Nyonya Soepeni ini dihadiri para delegasi dari seluruh daerah yang bebas atau masih diduduki Belanda, dan 82 organisasi perempuan dari seluruh pulau-pulau besar Indonesia.

Sesudah tahun 1950 persatuan gerakan perempuan Indonesia, yang telah dibangun pada hari-hari perjuangan nasional dahulu, berangsur-angsur hancur. Dalam artian, penyatuan gerakan antar organisasi jauh dari era sebelumnya. Badan organisasi perempuan diakui bukan lagi hanya satu. Kongres Wanita Indonesia yang merupakan salah satu upaya untuk memfasilitasi kontak di antara organisasi perempuan pun tidak memiliki otoritas melakukan keputusan sendiri.

Gerakan perempuan memang memasuki era baru yang bernama Demokrasi Liberal, di mana masing-masing kekuatan politik berusaha membangun organisasi, termasuk partai politik. Kekuatan kaum perempuan tampaknya juga banyak yang masuk berbagai macam partai politik. Masing-masing organisasi perempuan tampaknya juga terpolarisasi dalam perbedaan ideologi, dan berbeda dalam menyikapi situasi politik.

Misalnya sikap terhadap Poligami yang dilakukan Presiden Soekarno ketika menikahi Hartini pada tahun 1954. Perwari (Persatuan Wanita Indonesia) menolak sikap Soekarno. Bahkan Nani Suwondo dari Perwari mendukung Fatmawati untuk meninggalkan Istana. Sedangkan Gerwani (yang awalnya Wanita Sedar dan Gerwis) tidak memprotes perkawinan Soekarno dengan Hartini. Bagi sebagian kalangan yang menolak sikap Soekarno dan menyayangkan sikap Gerwani punya alasan bahwa isu anti-Poligami sudah muncul sejak Kongres 1928.

Sedang alasan untuk membenarkan sikap Gerwani untuk tidak menolak poligami Soekarno tampaknya yang akan membuat Gerwani sebagai organisasi yang nantinya berkembang cukup pesat dan kuat, mengakar ke bawah. Isu Poligami dianggap sebagai isu elit, sedangkan Gerwani lebih fokus untuk mengusung isu pemberdayaan ke bawah. Isu kerakyatan yang diusung oleh gerakan perempuan progresif ini membuatnya semakin populis.

Peran Gerwani berakhir pada tahun 1965. Demonisasi oleh Orde Baru terhadap gerakan perempuan tersebut dilakukan dengan penuh rekayasa, misal tentang kejadian di lubang buaya dan berbagai rekayasa ide dan informasi untuk menghasilkan justifikasi tentang depolitisasi terhadap perempuan di era yang baru dengan kekuasaan militer sebagai penyokong kekuasaan politik yang amat patriarkis.

Sejak saat itu gerakan perempuan mati, yang ada adalah domestifikasi massif terhadap peran perempuan melalui ideologi Ibuisme Negara. Negara mematikan organisasi perempuan yang merakyat dengan tujuan stabilitas nasional dan depolitisasi agar rakyat tak mengontrol kekuasaan. Kaum perempuan pada tataran negara hanya diberikan wadah berupa organisasi seperti “Dharma Wanita”.

Istilah “Dharma” artinya pengabdian. Kaum wanita harus mengabdi pada suami dan keluarga saja, ini tampaknya yang diinginkan. Negara mengondisikan di mana istri menteri akan menjadi ketua Dharma Wanita dalam level menteri. Pengkondisian itu dibuat pada level desa. Seakan perempuan akan berharga karena posisi pentingnya suami, bukan karena prestasi dan perannya sendiri. Bahkan perempuan akhirnya tidak punya namanya sendiri, si mbak Maya yang istri camat yang bernama Joko, akan dipanggil Bu Joko. Karena perempuan itu adalah abdi suaminya.

Sebagaimana diuraikan dalam buku mbak Julia Suryakusuma “Ibuisme Negara” (2011), negara Orde Baru menekan perempuan dengan Panca Dharma Wanita yang berisi butir-butir pokok untuk menjadi perempuan idealisme patriarkis. Sedangkan bagi wanita desa, ada PKK. Organisasi ini adalah lembaga perantara utama antara negara dan wanita desa bahwa di negara Orde baru. Konsepnya jelas mendefinisikan bahwa perempuan itu ya istri yang harus melayani suami, dan perannya pada kemanusiaan tak boleh keluar bingkai domestifikasi.

Intinya, Orde Baru adalah desain patriarki lewat negara dan disokong oleh tatanan militeritik untuk menekan gerakan perempuan dan rakyat seperti era sebelumnya. Setelah reformasi terjadi dan Soeharto turun dari jabatan, apakah struktur patriarki warisan Orde Baru ini sudah hilang? Sama sekali belum.***

* Penulis adalah pegiat literasi dan penulis buku.

Pelatih Persepam Pasang Target Tiga Poin di Laga Perdana

0

Pamekasan, 21/4 (Media Madura) – Pelatih Persepam Madura Utama (Persepam MU), Rudy William Kaltjes, menarget tiga poin pada laga perdana Grup 5 Liga 2 melawan Persatu Tuban di Stadion Gelora Ratu Pamellingan (SGRP) Pamekasan, Sabtu (22/4/2017).

Pelatih Persepam MU, Rudy William Keltjes mengaku persiapan timnya untuk meladani Persatu Tuban sudah maksimal meskipun tidak mencapai 100 persen.

“Persiapan kita memang singkat, tapi sudah maksimal,” katanya, Jumat (21/4/2017).

Pada pertandingan yang bakal berlangsung sekitar pukul 15:00 WIB itu tambah Rudy, pasukan laskar Sape Ngamok memasang target tiga poin atau menang melawan Persatu Tuban.

“Saya harapkan dapat tiga poin. Bertanding untuk menang. Apa lagi di rumah sendiri,” tegas pelatih keturunan Belanda-Madura.

Untuk itu, Opa Rudy sapaan akrab Rudy William Keltjes bersama pasukannya akan berusaha keras memburu tiga poin pada pertandingan nanti.

“Anak-anak sudah berkomitmen untuk berjuang karas untuk memenangkan pertandingan,” terangnya.

“Tim lawan juga ingin menang, tapi kita tuan rumah, harus memanfaatkan itu,” tandas Rudy.

Reporter: Rifqi
Editor: Ahmadi

Pelatih Madura United Waspadai Semangat Pemain Persela Lamongan

0

Pamekasan, 21/4 (Media Madura) – Pelatih Madura United, Gomes De Oliviera mewaspadai semangat pemain Persela Lamongan yang akan bentrok di pekan kedua Liga 1 di Stadion Surajaya, Lamongan, Jumat (21/4/2017) malam nanti.

“Saya lihat Persela punya semangat yang harus diwaspadai oleh kami,” katanya.

Laskar Sape Kerrab datang ke markas Laskar Joko Tingkir dengan penuh percaya diri tinggi. Mereka berkekuatan 20 pemain. Poin penuh adalah target mereka pada laga bertajuk derby Jawa Timur ini.

Namun, anak asuh Herry Kiswanto bukan tim lemah. Persela sulit ditaklukkan jika bermain di kandang sendiri. Persela akan tampil all-out guna memenangi pertandingan. Faktor suporter akan menjadi pelecut Persela bangkit dari kekalahan di pekan pertamanya.

Faktor suporter, imbuh Gomes, layak diwaspadai oleh tim asuhannya. Fakta tersebut turut disadari oleh Gomes, yang sudah berpengalaman melakoni laga tandang ke Lamongan pada turnamen ISC A 2016 lalu. Kala itu, Madura United kalah 2-1 dari Persela.

“Saya tahu Persela kalau bermain di hadapan suporter sendiri, semangatnya akan lebih tinggi. Tapi kami percaya diri dan bisa mengatasi Persela meskipun bermain di kandangnya sendiri,” ucap Gomes.

Pelatih asal Brasil ini, melontarkan pujian terhadap pemain depan Persela. Menurutnya, Persela memiliki striker yang dinilai bakal jadi ancaman bagi lini belakang timnya.

“Persela punya striker yang cukup bagus. Tapi, kita akan jaga pergerakannya,” jelas Gomes tanpa mau menyebutkan nama striker yang dimaksud.

Fandi Eko Utomo, gelandang Madura United punya keyakinan bahwa timnya akan membawa pulang tiga poin dari Lamongan. Walaupu bukan dirinya yang mencetak gol bagi timnya.

“Saya Insya Allah kalau diturunkan untuk pertandingan besok (hari ini.red) saya siap untuk berusaha maksimal meskipun saya tidak mencetak gol yang peting tim ini bisa menang. Semua itu untuk Madura United,” tutup Fandi Eko.

Reporter: Zainol
Editor: Ahmadi

Oknum LSM KPK di Sampang Diduga Peras Kades Marparan

Sampang, 20/4 (Media Madura) – Di balik adanya laporan polisi yang mengatasnamakan warga terkait dugaan pungli sertifikat massal melalui program Proyek Operasi Nasional Agraria (Prona) dilakukan pihak Kades di Desa Marparan Kecamatan Sreseh Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur terungkap sudah.

Kepala Desa Marparan Moh Romli, menuding buntut dari laporan itu karena dirinya tidak memenuhi keinginan oknum LSM Komunitas Pemantau Korupsi (KPK) Nusantara di Sampang yang akan mengusut dugaan praktik pungli Prona yang dilaksanakan di daerahnya tersebut.

“Oknum LSM KPK Nusantara itu minta uang sebesar Rp50 juta agar persoalan ini tidak diperpanjang, sempat tawar menawar mau dikasih Rp15-20 juta, tapi karena tidak mau dan dipenuhi akhirnya lapor ke polisi,” ujarnya, Kamis (20/4/2017).

Romli mengaku heran dengan ulah oknum LSM tersebut. Sebab, dugaan pungli pada program Prona yang dituduhkannya itu tidak ada pihak yang dirugikan. Karena warga di Desa Marparan sepakat membuat sertifikat masal dengan nominal Rp400 ribu. Total keseluruhan tanah yang ikut program Prona di Desa Marparan seluas 1.700 m2.

“Itu hanya buat ongkos administrasi petugas di desa seperti uang materai, foto copy berkas, dan lainnya. Warga sudah sepakat hasil rapat bersama sebelumnya. Meski pengurusan di BPN gratis,” jelasnya.

Terpisah, saat dikonfirmasi kepada juru bicara LSM KPK Nusantara di Sampang Saliman, mengelak bahwa dugaan pungli pada program Prona di Desa Marparan dilaporkan ke Polres Sampang. Hanya saja, sempat dilaporkan ke Polsek Sreseh.

“Kalau laporan ke polres gak tahu saya secara detail, mungkin itu masyarakat. Soal pemerasan tidak ada siapa yang diperas minta Rp50 juta, saya tidak tahu,” dalihnya.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

Kades Marparan Dilaporkan ke Polisi, Ini Dugaan Kasusnya

Sampang, 20/4 (Media Madura) – Sekelompok warga dari Desa Marparan Kecamatan Sreseh Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur melaporkan pihak Kades Marparan kepada polisi karena diduga memungut biaya sertifikat masal melalui program Proyek Operasi Nasional Agraria (Prona), Kamis (20/4/2017) siang.

“Kades Marparan Moh Romli ini diduga pungli dalam pembuatan sertifikat tanah. Warga yang mengurus program Prona dimintai uang sebesar Rp 500 ribu,” ujar Romli perwakilan warga Desa Marparan di Mapolres Sampang, Kamis.

Menurutnya, dari Rp500 ribu warga membayar kepada pihak Desa secara bertahap. Awalnya senilai Rp 250 dan jika sertifikat terbit kembali mengeluarkan Rp 250.

“Jelas sudah salah dan pungli karena menyalahi aturan, seharusnya bebas biaya dari BPN. Tapi diminta oleh aparatur desa, ” katanya.

Dalam laporan itu warga berjanji akan melengkapi berkas aduan itu kepada polisi.

Terpisah, Kapolres Sampang AKBP Tofik Sukendar melalui KBO Reskrim Ipda Iwan Kusdiyanto membenarkan pihaknya menerima laporan terkait dugaan pungli prona tersebut. Namun, karena berkas kurang sehingga diminta untuk melengkapi agar bisa melakukan penyeleidikan.

“Kami minta kepada pelapor untuk melampirkan berkas adanya dugaan pungli itu. Jika ada bukti yang kuat pasti dilanjutkan, ” singkatnya.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Zainol

Mulai Besok, 1000 Tiket Gratis Laga Persepam Vs Persatu Tuban Didistribusikan

0

Pamekasan, 20/4 (Media Madura) – Panitia pelaksana (Panpel) pertandingan laga perdana Persepam Madura Utama (P-MU) melawan Persatu Tuban, akan mendistribusikan 1000 lembar tiket masuk gratis mulai Jumat (21/4/2017) besok.

Ketua Panpel, Ach. Faisol mengatakan, 1000 tiket gratis masuk Stadion Gelora Ratu Pamelingan (SGRP) Pamekasan, pada Sabtu (22/4/2017) mendatang, untuk pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), akan didistribusikan melalui sekolah-sekolah yang ditunjuk.

“Mulai besok panpel akan membagi-bagikan 1000 lembar tiket gratis pada anak SD dan SMP,” katanya, Kamis (20/4/2017).

Pembagian 1000 tiket gratis itu tambah Faisol, akan dibagi menjadi dua sesi atau dua hari, pada hari pertama di tingkat SD, sedangkan hari kedua di tingkat SMP. Hal itu merupakan hasil keputusan rapat panpel.

“Hari Jumat besok kami ke SD-SD, sedang hari Sabtunya kami ke SMP,” tambahnya.

Faisol menambahkan, 1000 tiket gratis itu direncanakan akan diterapkan di setiap pertandingan kandang P-MU. Pendistribusiannya akan dilakukan secara bertahap untuk tingkat SD, SMP dan yang sederajat.

“Penyediaan spesial tiket ini untuk menumbuhkembagkan semangat olahraga terutama sepak bola sejak dini bagi pelajar,” tutupnya.

Penyedian spesial tiket ini sengaja dibatasi agar pemanfaatan stadion bisa terukur. Sementara harga tiket untuk masyarakat umum, kelas ekonomi Rp 15 ribu, VIP Rp 30 ribu, sedangkan di tribun VVIP Rp 50 ribu.

Reporter: Rifqi
Editor: Zainol

Terpengaruh Narkoba, Pria Ini Sebetkan Celurit Kenai Dua Korban

0

Sampang, 20/4 (Media Madura) – Pria berumur 40 tahun asal Dusun Cangak, Desa Tamberu Barat, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang, nekat berbuat onar dengan menyebetkan sebuah celurit hingga mengenai dua orang korban dan mengalami luka cukup parah.

Belum diketahui pasti penyebab peristiwa penganiayaan itu. Diduga pelaku berinisial MR terpengaruh akibat obat-obatan terlarang jenis narkotika.

Kejadian berawal, pada pukul 16.30 WIB Rabu (19/4/2017) kemarin di Desa Tamberu Barat. Saat korban inisial R (50) memperbaiki spanduk di depan toko miliknya. Seketika itu, pelaku langsung menyebetkan celurit dari arah belakang mengenai leher dan kepala korban.

“Tidak tahu kenapa tiba-tiba pelaku menghampiri korban membawa celurit langsung disebetkan ke korban sampai luka robek di leher dan kepala bagian belakang. Memang selama ini pelaku dikenal suka barang narkotika,” ujar Ali salah satu tetangga korban, Kamis (20/4/2017).

Usai menganiaya R, pelaku melarikan diri dan masuk ke rumah korban kedua, inisial A (35). Kejadian sama itulah terjadi di dalam rumah. Namun, tak mau banyak memakan korban. Warga sekitar dibantu orang tua pelaku, mengamankan MR dengan cara mengikat tangannya untuk diserahkan ke polisi.

“Korban A mengalami luka di tangan kanan sampai jari jempolnya putusnya, dan kedua korban dilarikan ke rumah sakit di Pamekasan,” jelasnya.

Terpisah, Kapolres Sampang AKBP Tofik Sukendar, membenarkan peristiwa penganiayaan mengakibatkan dua orang mengalami luka cukup parah. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap motif dibalik penganiayaan tersebut.

“Sementara kita masih dalami dulu, peristiwa ini mengakibatkan dua orang korban,” kata Tofik di balik pesan singkatnya.

Ditanya apakah pelaku dibawah pengaruh narkoba. Tofik mengaku masih belum bisa memastikan karena dalam proses penyelidikan.

“Kami masih melakukan penyelidikan, sampai saat ini belum menemukan adanya indikasi dibawah pengaruh narkoba,” tegasnya.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

Nusantara Mengaji Ratusan Napi Sampang Khataman Al-Quran

Sampang, 20/4 (Media Madura) – Tak seperti biasanya, lantunan ayat-ayat suci Al-Quran menggema di halaman Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Sampang. Ternyata, sebanyak 155 warga narapidana itu melakukan khataman Al-Quran, Kamis (20/4/2017) pagi pukul 08.00 WIB.

Mengaji bersama melibatkan para napi itu merupakan serentak digelar di rutan dan lapas seluruh Indonesia, termasuk di Sampang dalam rangka Nusantara Mengaji bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen Pas) Kemenkumham RI.

“Mengaji bersama para napi ini bertujuan agar mental dan spiritual mereka semakin baik dan kuat, sehingga dapat meminimalisir pelanggaran-pelanggaran. Apalagi ini adalah terobosan baru yang sebelumnya belum pernah dilakukan,” ujar Kepala Rutan Kelas IIB Sampang Gatot Tri Rahardjo, Kamis.

Gatot mengatakan, selain melatih mental dan spiritual para napi bisa menghayati kitab suci Al-Quran. Sehingga ketika kembali ke masyarakat, mereka memahami peran manusia sebagai pemimpin dan hamba Allah SWT yang mempunyai kewajiban menaati peraturan yang berlaku.

Menurutnya, khataman serentak ini dilakukan selama dua jam saja. Seperti lazimnya dilakukan Nusantara Mengaji, para peserta sebelumnya sudah diberi bagian bacaan masing-masing.

Bagi napi yang belum bisa membaca Al-Quran, mereka hanya membaca lima halaman saja, namun bagi napi yang sudah bisa membaca, maka ia membaca satu juz Al-Qurqan. Dengan demikian, diperlukan waktu tidak lebih dari dua jam untuk khatam bersama-sama.

“Diharapkan juga dengan membaca Al-Quran dapat mendatangkan ketenangan bagi napi, dengan demikian akan mengurangi stres dan tekanan yang dihadapi dalam tahanan,” imbuhnya.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

Dandim Pamekasan Serahkan Bantuan Puluhan Alsintan pada Poktan

0

Pamekasan, 20/4 (Media Madura) – Dandim 0826 Pamekasan, Madura, Jawa Timur Letkol Inf Nuryanto menyerahkan bantuan alat mesin pertanian (Alsintan) kepada kelompok tani (Poktan) di wilayah itu.

Penyerahan bantuan dilaksanakan di Kantor Balai Penyuluhan Pertanian Desa Sumedangan, Kecamatan Pademawu, Kamis (20/4/2017) pagi. Disaksikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Pamkab Pamekasan, Isye Windarti.

Dandim Nuryanto mengatakan, Alsintan yang diberikan kepada Poktan sebanyak 41 unit berupa hand traktor dan mesin pompa air.

“Rinciannya, hand traktor sebanyak 22 unit, dan mesin pompa air sebanyak 21 unit,” kata Dandim.

Menurutnya, dengan adanya Alsintan, luas tambah tanam meningkat, hasil panen meningkat serta target serapan gabah oleh Bulog terpenuhi.

“Mari kita membantu pemerintahan untuk meningkatkan hasil panen dengan target terpenuhi,” ujarnya.

“Dan, tolong sumbangkan sedikit ke pemerintah hasil panen para petani untuk di jual ke Bulog paling tidak 10 persen, agar pemerintah tidak impor beras dan ketahanan pangan kita selalu stabil,” kata Dandim lagi.

Dandim Nuryanto menambahkan, bantuan Alsinta dari pemerintah bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belaja Negara (APBN) tahun 2017.

“Mari kita sama-sama menjadi pahlawan bagi negara kita dengan cara menyukseskan program pemerintah yaitu, Swasembada Pangan,” tuturnya.

Pada penyerahan bantuan Alsintan juga dihadiri seluruh Ketua Poktan, Danramil, Danposramil Kadur serta 100 undangan. Penyerahan bantuan itu dilakukan secara simbolis.

Reporter: Zainol
Editor: Ahmadi