Beranda blog Halaman 1035

Peter Odemwingie Bukan yang Terakhir

0

Pamekasan, 20/3 (Media Madura) – Peter Osaze Odemwingie, yang berstatus marquee player bukan rekrutan terakhir. Pasalnya, manajemen Madura United berniat masih mendatangkan pemain baru, utamanya pemain kelahiran 1995.

“Ya kita masih berlangsung (merekrut pemain baru), khusus mengisi slot pemain kelahiran 1995,” kata Manajer Madura United, Haruna Soemitro.

Hal itu dilakukan, berdasarkan aturan baru Liga 1 2017 yang ditetapkan oleh PSSI.

“Dan, kebijakan PSSI tidak mungkin berubah, bahwa kita minimal mengontrak pemain usia 22 atau kelahiran 1995, minimal 5 orang,” imbuhnya.

Haruna menambahkan, pihaknya menargetkan komposisi pemain Laskar Sape Kerrab sebanyak 28 pemain untuk Liga 1 yang akan bergulir pada 15 April mendatang.

“Kita targetkan pemain ini kita krucutkan pada jumlah 22 untuk senior dan lima untuk yunior. Kan kouta yang diberi PSSI 30 dan dengan marquee player, mungkin kita akan berhenti pada posisi 28 pemain,” tandas Haruna.

Reporter: Zainol
Editor: Ahmadi

Madura United Jalani 2 Turnamen, Haruna: Untuk Tambah Jam Tanding

0

Pamekasan, 20/3 (Media Madura) – Sebelum kompetisi Liga 1 2017 bergulir, Madura United bakal menjalani dua turnamen, yakni Cilacap Cup dan Magelang Cup.

Laskar Sape Kerrab, menurut Manajer Madura United, Haruna Soemitro, dipastikan mengikuti dua turnamen tersebut. Cilacap Cup 2017 akan bergulir pada 24-25 Maret, dan Magelang Cup digelar 29 Maret hingga 5 April mendatang.

“Kami sudah konfirmasikan siap ikut Magelang Cup setelah mengikuti Cilacap Cup,” ucapnya.

Magelang Cup yang akan berlangsung di Stadion Dr. H. Moch Soebroto, Kota Magelang, diikuti PPSM Sakti Magelang, PSMP Mojokerto Putra, Madura United, dan Persipur Purwodadi. Demikian Cilacap Cup diikuti 4 tim.

Kata Haruna. Madura United sebelum kompetisi Liga 1, membutuhkan setidaknya 8 pertandingan.

“Kedua turnamen tersebut bagi kami menjadi ajang yang baik untuk menambah jam tanding pemain dan juga menguji kekompakan tim,” ujar Haruna menjelaskan.

Sementara itu, Pelatih Gomes De Oliviera mengatakan, akan membawa seluruh pemainnya ke Cilacap dan Magelang.

“Semua pemain kami pastikan bawa semua. Karena itu juga menjadi ajang untuk melihat perkembangan pemain setelah jalani latihan. Karena Manajemen juga memastikan mengikuti kejuaraan di Magelang,” pungkas Gomes.

Reporter: Zainol
Editor: Ahmadi

Satpol PP Pamekasan Kesulitan Tertibkan Gepeng

Pamekasan, 20/3 (Media Madura) – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur kesulitan untuk menertibkan pengemis dan gelandangan yang meminta-minta di keramaian kota atau tempat umum.

Kondisi tersebut diakui Kepala seksi (Kasi) Penyelidikan dan Penyidikan Satpol PP Pamekasan, Yusuf Wibiseno. Menurutnya, permasalahan penertiban gepeng belum ada aturan yang jelas termasuk penanganannya.

“Kami tinggal nunggu regulasi, kalau ada regulasinya kenapa tidak,” katanya, Senin (20/3/2017).

Ditambahkannya, selama ini penertiban yang dilakukan hanya berdasarkan aturan ketertiban umum. Sehingga, pengemis yang tertangkap saat penertiban hanya dilakukan pendataan dan pembinaan singkat, setelah itu dipulangkan.

“Jika sudah ada payung hukumnya maka tidak akan ada kendala dalam penertiban,” tambah Yusuf.

Dijelaskan, dari data hasil penertiban sepanjang tahun 2015 hingga 2016 sebagian besar pengemis di Kota Pemekasan berasal dari Sumenep, sebagain kecil dari Kecamatan Tlanakan, Pemekasan.

Untuk diketahui, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sudah membuat raperda ketertiban sosial, yang didalamnya mengatur penanganan pengemis. Namun, saat ini masih dalam proses evaluasi Gubernur.

Reporter: Rifqi
Editor: Ahmadi

Kunker DPRD Demak Dukung Madura Jadi Provinsi

Sampang, 20/3 (Media Madura) -Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah melakukan kunjunagan kerja ke DPRD Kabupaten Sampang, Senin (20/3/2017).

Dalam kunjungannya, DPRD Demak memberikan dukungan rencana Pulau Madura yang ingin menjadi provinsi.

“Madura memang layak untuk menjadi Provinsi, mengingat kaya akan budaya dan tempat wisatanya tinggal meningkatkan stabilitas keamanan. Dan kami selalu mendoakan yang terbaik untuk negara terutama Madura ini,” tutur Wakil Ketua DPRD Demak Muntohar, Senin.

Muntohar menjelaskan, kunjungannya tersebut juga mempertanyakan soal pengelolaan lahan pertanian, peternakan dan minyak dan gas bumi (migas) di Madura khusunya Kabupaten Sampang.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Sampang Fauzan Adhima mengaku sangat puas dengan adanya pertemuan tersebut karena bisa bertukar pengalaman untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dan kesejahteraan masyarakat. 

“Sebelumnya kami sudah berkunjung ke Demak, dan disana itu memang antara eksekutif dan legislatif saling bahu – membahu untuk meningkatkan PAD,” pungkasnya.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

Regulasi PSSI Belum Jelas, P-MU Kesulitan Rekrut Pemain Anyar

0

Pamekasan, 20/3 (Media Madura) – Manajemen Persepam Madura Utama (P-MU) mengaku kesulitan mendatangkan pemain anyar, dikarenakan regulasi Liga 2 yang digulirkan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) belum jelas.

Menurut Asisten Manajer (Asmen) P-MU Nadi Mulyadi, selain kendala regulasi usia pemain yang diwacanakan oleh PSSI belum jelas. Jadwal liga juga belum menentu.

“Beberapa hari terakhir sempat muncul wacana baru bahwa di Liga 2 tahun 2017 akan diberlakukan pembatasan usia, yaitu klub hanya diperbolehkan mengontrak 5 pemain di atas usia 25 tahun. Sedangkan di atas usia 25 tahun yang diperkenankan main dalam satu pertandingan dibatasi menjadi 2 pemain saja,” katanya, Senin (20/3/2017).

Ditambahkan oleh Nadi, dengan adanya wacana tersebut, manajemen harus memutar otak untuk memenuhi aturan tersebut. Pasalnya, P-MU sendiri sudah terlanjur mengontrak beberapa pemain dengan usia di atas 25 tahun.

“Belum fix-nya regulasi yang akan diterapkan di Liga 2 tentu sangat berpengaruh pada langkah dalam menyusun tim. 19 pemain sudah dikontrak, idealnya memiliki 25 pemain,” tanbahnya.

Sementara, untuk pemain dipasrahkan sepenuhnya kepada tim pelatih. Dan pelatih pastinya sudah menyiapkan evaluasi.

“Tapi sekali lagi kami masih tetap harus menunggu kepastian regulasi dulu,” ujar Nadi.

Reporter: Rifqi
Editor: Ahmadi

Abrakadabra

0

Oleh : Esa Arif As

Dimemori kita, kata abrakadabra begitu lekat, saat mendengarnya, secara reflektif pikiran terarah pada dunia sulap, dimana disemesta mentalis, kalimat itu sering dilafalkan.

Dulu, Abrakadabra adalah kata sederhana tanpa makna, menjadi istimewa saat pengucapannya memuncaki sebuah atraksi seorang pesulap yang seolah menjadikan hal yang mustahil, jauh dari rasional menjadi mungkin, hingga semua yang melihat atraksi sulapnya terpukau.

Dari sanalah kemashuran Abrakadabra bermula, seolah memberi isyarat kepada kita bahwa ucapan dan tindakan haruslah seirama, ibarat dua sisi mata uang yang dekap, jika salah satunya terabaikan maka akan mereduksi keakbaran pesan yang ingin disampaikan. Pepatah lama mengatakan, jika pesan tidak sampai dengan sempurna, maka pasti kalah dalam perang, begitulah kira-kira gambarannya.

Saat ini dunia sulap sudah berevolusi, dimana seorang pesulap sudah jarang, bahkan tidak lagi menggunakan kalimat itu, tetapi menghidupkan idiom lain yang serumpun, serupa simsalabim yang substansinya sublim.

Kiasan di atas, seolah mengajarkan kita tentang dahsyatnya penyelarasan kata dan perbuatan, yang apabila disandingkan membuat sempurnanya wibawa, serta anggunnya pesona. Tetapi penyelarasan itu harus dilakukan pada orbitnya, dan pada ruang dan waktu yang tepat pula, jika tidak, akan menghasilkan nada sumbang yang tak seirama.

Nada yang tidak seirama itu membuat tidak nyaman dan jauh dari kata menyenangkan. Hal seperti itu terkadang dapat dilihat dalam prilaku kehidupan sosial masyarakat, tidak jarang pemimpin-pemimpin kitapun menunjukkannya, dimana terkadang mereka merendahkan dirinya dengan dipertegas oleh kata-kata mulya serupa Abrakadabra pada prilaku yang cela, dan terkadang pula memulyakan prilakunya yang dipertegas dengan kata-kata tak bersahaja.

Prilaku seperti itu menjadi bias makna, yang akan menumbuhkan banyak tanya. Apakah dia pemimpin yang baik, atau sebaliknya.

Semua orang pasti tahu bahwa hanya tuhan yang mampu menjawab pertanyaan tersebut, sebab pengetahuan manusia terbatas pada panca indranya, dan prilaku seperti itu telah melampauinya.

Tidak selesai pada absurditas itu, sebab dampak prilaku pemimpin yang tak seirama, tak se-iyaa se-kata dengan prilakunya, akan memancing gelombang ombak kebencian, yang akan terus menggerus dan menghancurkan tebing kepercayaan rakyat, pada siapapun yang benar-benar tulus mau menghibahkan kemampuan, kebaikan serta keilmuannya.

Kepunahan kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya akan segera tiba, jika tidak ada upaya yang radikal, instropektif, dilakukan secara holistik, dan menghentikan mesin industri kebohongan berupa janji-janji yang tak pernah ditepati, serta sajian bahasa-bahasa langit yang tidak pernah bisa dibumikan kepada rakyatnya.

Akumulasi dari absurditas, pertunjukan keangkuhan, kesombongan dan parade kebohongan, akan menjadi tembok pembatas tebal yang memisahkan antara pemimpin serta rakyat yang dipimpin, jika begitu, kebencian rakyat kepada pemimpinnya akan terus tumbuh subur laksana rumput di musim hujan. Memang, rakyat sampai hari ini masih menjadi pemilik sah atas kedaulatan Bangsa dan Negara, tetapi apalah artinya, sebab kini menjadi tidak penting dan terabaikan, justru seolah hanya menjadi komoditas politik yang bisa diperjual belikan serupa saham, di mana harganya disesuaikan dengan permintaan pasar, semakin tinggi kuantitasnya semikin tinggi tawarannya, dan semakin tinggi kualitasnya maka semakin murah, sebab rakyat yang cerdas dan bisa menyuarakan kebenaran bahkan menolak bentuk-bentuk ketidak adilan, cenderung sulit untuk dikendalikan serta diperjual belikan.

Korporasi yang berselingkuh dengan kekuasaan tidak mempunyai rambu-rambu yang jelas, tetapi menggilas, melindas tanda-tanda hukum, sosial, budaya bahkan agama, sebab semua itu berideologi pasar dan hasil menjadi tujuan.

Maka tidak jarang, pajabat pemerintahan daerah, di Wilayah Indonesia dikuasia dicengkram oleh korporasi, sebab telah disponsori sebelum memporoleh jabatannya dengan kompensasi potensi di wilayah itu sebagai jaminannya, padahal Konstitusi, mengamanatkan, bahwa sember daya alam dan pemanfaatannya digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.

Dalam realitas seperti itu, maka harus ada upaya, untuk merestorasi Ideologi Negara, Pancasila, Undang-undang Dasar 45, dan NKRI. Serta langkah untuk mengembalikan kedaulatan sepenuhnya kepada rakyat.

Mencerdaskan kehidupan bangsa, seperti yang tertuang dalam pembukaan undang-undang Dasar 45, memang telah menjadi tugas Negara, tetapi itu tidak akan datang dengan sendirinya tanpa kita berusaha meraihnya.

Penulis, memang tidak alim dalam politik, juga tidah terlalu hafal rukun poltik, tetapi terkadang perlu mengambil jalan yang berbeda, untuk merubah caosnya moral bangsa, akibat pemusnahan peran, pembodohan terstruktur, massif dan terencana, atas nama kekuasaan.

Realitas seperti itu sungguh nyata, dan telah menghiasi setiap sendi kehidupan bernegara kita, bahkan ironisnya, banyak masyarakat yang saat ini sudah tidak lagi takut pada tuhan, tidak takut pada hukum, tidak takut untuk mati, tetapi lebih takut lapar. Dalam kondisi lapar, kanibalisme, perampasan hak dan peran, jual beli serta perebutan jabatan, semua menjadi niscaya. Itulah yang setiap saat bisa dinikmati, sebagai sajian berita dari berbagai media.

Dalam Hal ini, penulis tidak dalam upaya meyakinkan siapapun, hanya saja, akbarnya harapan akan kemajuan, kesejahteraan, mencerdaskan kehidupan bangsa serta meraih kembali kedaulatan rakyat, dibenturkan pada realitas yang jauh panggang dari api.

Maka sudah saatnya mencari kata serupa Abrakadabra, yang mungkin bisa membuat bangsa ini kembali menjadi macan Asia, bahkan dunia.dan bukan sebaliknya, ekakan macan (Dimakan Macan).

* Penulis adalah direktur mediamadura.com

Tangkapan Ikan di Pamekasan Menurun, Nelayan Pilih Tidak Melaut

Pamekasan, 20/3 (Media Madura) – Sejumlah nelayan di Desa Pegagan, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, memilih tidak melaut, lantaran hasil tangkapan ikan menurun.

Menurut warga setempat, Moh Uri, para nelayan meminggirkan perahunya, selain tangkapan ikan yang berkurang juga kondisi cuaca agak buruk.

“Tangkapan ikan saat ini menurun drastis, makanya banyak nelayan tidak melaut,” katanya, Senin (20/3/2017).

Menurut Uri, di daerah tersebut, 80 persen dari 2280 penduduk mayoritas berprofesi sebagai nelayan, dan saat ini para nelayan itu memilih alih profesi.

“Sementara para nelayan kebanyakan beralih profesi untuk bisa menyambung hidup,” tambahnya.

Jika dipaksakan melaut, maka tidak sebanding antara pendapatan dan pengeluaran.

“Mereka akan lebih merugi jika memaksakan diri untuk melaut disebabkan kos oprasionalnya tidak sebanding dengan hasil yang didapatkannya,” tutup Uri.

Reporter: Rifqi
Editor: Ahmadi

Guru Resah Harus Ikut Seminar dengan Membayar Uang Rp 250 Ribu

0

Pamekasan, 20/3 (Media Madura) – Sejumlah guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) di bawah Dinas Pendidikan Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, mengaku resah dengan adanya edaran untuk mengikuti seminar smart teaching dengan membayar uang kontribusi sebesar Rp 250 ribu.

Salah satu guru dari salah satu SDN yang enggan disebutkan namanya, kepada mediamadura.com menuturkan, ia beserta guru lainnya merasa keberatan dengan adanya seminar tersebut karena harus membayar uang yang dinilai terlalu besar.

“Kami keberatan karena harus membayar uang Rp 250 ribu, masak seminar harganya sangat mahal,” keluh salah satu guru.

Selain itu, guru yang meminta namanya dirahasiakan ini menanyakan kejelasan terkait penyelenggaraan seminar tersebut, apakah diwajibkan atau hanya anjuran.

Menanggapi hal itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pamekasan, Moh Tarsun menuturkan, kegiatan seminar tersebut akan digelar oleh yayasan Adi Luhung dengan melibatkan guru sebagai pesertanya.

Dikatakan Tarsun, Disdik mendukung digelarnya seminar smart teaching itu karena kegiatan tersebut sangat bagus untuk peningkatan mutu guru.

Guru yang mengikuti kegiatan tersebut akan mendapatkan materi dan berbagai fasilitas termasuk buku untuk menunjang peningkatan mutu guru.

“Tetapi kegiatan ini tidak boleh memberatkan bagi guru, tidak ada paksaan bagi guru untuk ikut. Kalau kegiatan ini dianggap penting oleh guru ya silahkan ikut, kalau tidak ya tidak apa-apa,” kata Tarsun.

Penulis : Arif
Editor : Ahmadi

Wali Murid SDN Banaresep Timur I Lakukan Aksi Penolakan Pergantian Kepsek

0

Sumenep, 20/3 (Media Madura) – Ibu-ibu wali murid mendatangi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Banresep Timur I, Desa Banaresep Timur, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur melakukan aksi penolakan pergantian Kepala Sekolah (Kepsek), Senin (20/3/2017).

Para wali murid menilai, Kepsek lama, Akh. Zaini sudah sangat baik dan memberi banyak perubahan disekolah tersebut. Sehingga para wali keberatan ia digantikan Kepsek baru. 

“Alasan kami menolak Pak Zaini dimutasi dan diganti yang baru bukan karena apa, tetapi karena kinerja beliau sudah terbukti baik dalam membangun sekolah ini,” kata salah satu wali murid, Alfia.

Alfia membeberkan, kontribusi Akh. Zaini dalam memberikan perubahan di sekolah tersebut tidak dapat dibantah, dan selama 2 tahun lebuh bertugas, wali murid sudah merasakan banyak perubahan terhadap anak-anaknya.

“Saya ini jauh-jauh dari lain desa menyekolahkan anak saya kesini karena sekolah disini sudah sangat baik. Pertanyaan kami, kalau sudah baik ngapain harus diganti,” ungkap Alfia yang mengaku berasal dari Desa Poreh, Kecamatan Lenteng. 

Aksi puluhan ibu-ibu tersebut ditemui oleh jajaran guru dan Kepsek lama, Akh. Zaini diruang Kelas I. Pada kesempatan itu, Zaini memberikan klarifikasi terkait pergantian dirinya, bahwa hal itu adalah keputusan Bupati, dan mutasi Kepesek adalah hal yang wajar.

“Yang pasti, sebagai aparatur sipil negara (ASN), saya hanya bisa mengikuti perintah dari atasan dalam hal ini Bapak Bupati, dan kita harus memahami, bahwa proses mutasi itu biasa terjadi,” tuturnya didepan para wali. 

Informasi yang dihimpun mediamadura.com, calon pengganti Akh. Zaini ternyata masih salah satu guru setempat bernama Asmuni, sedangkan Zaini akan dimutasi ke SDN Ellak Laok 4 Kecamatan Lenteng. 

Penulis : Rosy
Editor : Arif

Rombongan Guru Asal Pamekasan Terlibat Kecelakaan Maut di Akses Tol Suramadu

0

Pamekasan, 20/3 (Media Madura) – Rombongan guru asal Kabupaten Pamekasan terlibat kecelakaan di akses tol Suramadu sisi Madura sekitar pukul 05.00 WIB. Senin (20/03/2017) pagi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun mediamadura.com, kecelakaan tersebut terjadi antara mobil Xenia dengan nomor polisi N 1273 DI yang mengangkut sejumlah guru asal Pamekasan dengan fuso yang memuat garam.

Dalam peristiwa itu, sopir xenia atas nama Nanang Suliharyadi, warga Sukun, Kabupaten Malang meninggal di tempat kejadian. Sementara sebanyak 3 orang penumpang termasuk seorang bayi dilarikan ke rumah sakit di Surabaya.

Penumpang atas nama Fitriyah, guru SMAN 3 Pamekasan dan Aan, guru fisika SMAN 2 Pamekasan dalam kondisi selamat dan melanjutkan perjalanan ke Malang.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pamekasan, Moh Tarsun membenarkan peristiwa kecelakan kendaraan yang mengangkut guru yang terjadi di akses tol Suramadu tersebut.

“Iya benar tadi terjadi kecelakaan kendaraan yang mengangkut guru di Suramadu, saya tadi dapat laporan,” kata Tarsun kepada mediamadura.com.

Sementara itu, Kepala UPT Cabang Disdik Perwakilan Provinsi Jawa Timur di Pamekasan Slamet Gustiantoko mengaku belum mengetahui peristiwa tersebut dan masih akan mencari kebenaran informasi itu.

Penulis : Arif
Editor : Ahmadi