Beranda blog Halaman 1123

Ini Harapan Fabiano Beltrame di Tahun Baru 2017

0

Pamekasan, 1/1 (Media Madura) – Bek Madura United FC, Fabiano Beltrame memiliki segudang harapan di tahun baru 2017. Utamanya untuk kesuksesan Laskar Sape Kerrab.

Pemain asal Brasil itu merupakan pemain asing satu-satunya yang diperpanjang kontraknya oleh manajemen klub untuk mengarungi kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2017.

“Semoga kita tetap bersatu dan dapat prestasi lebih baik di musim ini,” harap Fabiano.

Madura United mengakhiri kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016 finish di peringkat tiga. Usai kompetisi, seluruh pemain Madura United diliburkan dan pulang ke kampung halaman masing-masing. Tak terkecuali Fabiano.

“Saya sudah rindu kalian. Salam dari family Beltrame,” ucap kapten Madura United tersebut.

Fabiano juga mengucapkan selamat tahun baru 2017 kepada rekan setimnya di Madura United. “Happy new year my bro,” tandasnya.

Reporter: Zainol
Editor: Ahmadi

Menderita Penyakit Aneh, Asmani Butuh Uluran Tangan Dermawan

0

Pamekasan, 1/1 (Media Madura) – Asmani (59), membutuhkan uluran tangan atau bantuan dari dermawan untuk membantu biaya berobat. Asmani berasal dari keluarga tidak mampu.

Dia dan suaminya, Junaidi (61) tinggal dan hidup bersama di sebuah gubuk yang sudah tidak layak tinggal di Dusun Batu Putih, Desa Larangan Dalam, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Sudah hampir 7 bulan Asmani terbaring karena menderita perut buncit yang hingga kini belum diketahui jenis penyakitnya.

Bahkan, pihak medis pun belum bisa mendeteksi penyakit yang bersarang di tubuh Asmani.

“Beberapa pekan lalu kami sempat berobat ke RSUD Pamekasan. Namun karena keterbatasan biaya maka kami pulang,” katanya, Sabtu (31/12/2016).

Junaidi tidak bisa berbuat banyak melihat kondisi Asmani yang tiap hari merengek kesakitan. Sesekali ia mengelus perut sang istri yang terus membesar.

Perutnya, menyerupai perut orang yang sedang hamil tua. Keluarganya sangat membutuhkan uluran tangan dari dermawan.

“Selain memang kami kena musibah sepanjang 7 bulan, kami menderita tidak punya apa-apa, kami berharap ada bantuan dari pemerintah atau dermawan untuk bisa mmengobati istri saya,” tambahnya lirih.

Pasangan suami istri (Pasutri) ini sudah dikaruniai satu orang anak. Sementara, Junaidi tidak mempunyai pekerjaan tetap.

“Kami tak punya biaya untuk berobat. Penghasilan saya juga tidak menentu,” tutup Junaidi.

Reporter: Rifqi
Editor: Zainol

Disbudparpora Sumenep Ajak Investor Kembangkan Lokasi Wisata

0

Sumenep – Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Sumenep berusaha mengajak investor untuk mengembangkan sejumlah lokasi wisata setempat.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Sumenep, Bambang Iriyanto, Sabtu, menjelaskan, anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) setempat memiliki keterbatasan untuk mengembangkan sejumlah lokasi wisata.

“Untuk mengembangkan lokasi wisata tersebut, kami butuh pihak ketiga atau investor. Sejak beberapa waktu lalu, kami sudah mencoba mengkomunikasikan rencana pengembangan lokasi wisata itu kepada sejumlah investor di Surabaya,” katanya di Sumenep.

Untuk sementara, lokasi wisata yang ditawarkan kepada investor untuk dikembangkan adalah Pantai Lombang di Kecamatan Batang Batang dan Pantai Slopeng di Dasuk.

“Dua wisata alam tersebut sebenarnya sudah dikenal publik sejak dulu. Pengunjung dari luar daerah pun, termasuk wisatawan mancanegara, juga mengetahui Pantai Lombang dan Slopeng,” ujarnya.

Namun, kata dia, selama ini, potensi wisata alam itu masih dalam kemasan aslinya, yakni belum dipoles layaknya lokasi wisata di Lamongan maupun Bali.

“Kalau pun ada sarana penunjang, itu masih standar. Di dua lokasi wisata alam tersebut juga tidak terdapat sarana penginapan yang membuat para pengunjung luar daerah, utamanya wisatawan mancanegara, bisa tinggal lebih lama (menginap),” ucapnya.

Ia juga mengemukakan, rencana pengembangan dua lokasi wisata tetap akan memperhatikan nilai-nilai kultural warga setempat.

“Kami tidak ingin rencana pengembangan lokasi wisata di Sumenep mendapat penolakan dari warga setempat. Itu poin penting yang harus tetap kami pegang dalam mengembangkan dua lokasi wisata alam tersebut,” kata Bambang.

(sumber: http://www.antarajatim.com/lihat/berita/90635/disbudparpora-sumenep-ajak-investor-kembangkan-lokasi-wisata)

Kahmi Pamekasan Usulkan Pilgub Dilakukan DPRD

0

Pamekasan – Fungsionaris Korp Alumni HMI (Kahmi) Pamekasan, Madura, Hosnan Achmadi mengusulkan agar pemilihan gubernur (pilgub) dan pemilihan bupati (pilbup) sebaiknya oleh anggota DPRD.

“Ini sebagai salah satu upaya untuk memutus matarantai terjadinya korupsi. Pemilihan oleh masyarakat secara langsung sebaiknya pada pilpres dan pemilu legislatif saja,” katanya di Pamekasan, Minggu.

Maraknya praktik korupsi yang dilakukan oknum pejabat publik di Indonesia akhir-akhir ini, menurut dia, salah satunya karena biaya politik yang terlalu tinggi.

Ia mencontohkan seperti saat pilkada bupati. Untuk bisa mendapatkan perhatian masyarakat pemilih saja, seorang calon bupati harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit.

“Itu untuk biaya sosialisasi agar dikenal semua lapisan masyarakat dimana yang bersangkutan mencalonkan diri,” katanya.

Belum lagi, kata Hosnan, untuk biaya operasional tim sukses calon, dan biaya kampanye. Sehingga seorang bupati harus bisa menyediakan uang lebih untuk bisa menang dalam pilkada.

Dari sisi biaya operasional pelaksanaan, pemilihan gubernur dan bupati melalui wakil rakyat juga jauh lebih sedikit, Karena pihak penyelenggara tidak perlu mencetak surat dan kotak suara dalam jumlah banyak. Demikian juga dalam hal biaya operasional pengamanan.

“Kalau dalam pemilihan langsung, kita tahu biaya operasional pengamanan tidak kurang dari Rp3 miliar,” katanya menjelaskan.

Hosnan yang juga politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini menambahkan, sistem pemilihan pilgub dan pilbup melalui wakil rakyat ini memang tidak menjamin praktik politik uang bisa dihapus.

Akan tetapi, sambung dia, dengan sistem perwakilan, biaya pigub dan pilkada bisa ditekan, sehingga anggaran untuk kegiatan tersebut bisa lebih hemat.

Hal lain yang juga menjadi pertimbangan mantan aktivis HMI Cabang Malang ini, adalah kondisi masyarakat. Baik dari sisi sumber daya manusia (SDM), maupun dari sisi pola berfikir.

“Sejauh pengamatan kami selama ini, pilihan calon pemimpin oleh masyarakat langsung, lebih ditentutan oleh tokoh masyarakat, bukan atas keinginan nurani para pemilih itu sendiri,” ucap dia.

Di Madura dan Pamekasan secara khusus, kiai memiliki pengaruh kuat terhadap masyarakat dalam menentukan pilihan politiknya. Sebab patronase kiai masih sangat kuat.

Apa yang disampaikan dan dipilih oleh kiai sering menjadi pertimbangan utama masyarakat pemilih, khususnya di daerah perdesaan yang jumlah pemilihnya lebih banyak.

Dari sisi itulah, pemimpin terpilih, baik bupati ataupun gubernur, faktanya sering tidak bisa mengambil kebijakan cemerlang dan sering terkooptasi oleh para pendukungnya.

Beda halnya, kata dia, jika pemilihan dilakukan hanya oleh wakil rakyat saja, yakni anggota DPRD.

“Nah, atas dasar itulah kami mengusulkan agar pilgub dan pilkada di negeri ini sebaiknya dilakukan oleh anggota DPRD saja, bukan pemilihan langsung sebagaimana telah dilakukan selama ini,” katanya menambahkan.

Dari sisi konsep demokrasi ideal, Hosnan mengakui, pemilihan melalui wakil rakyat ini memang kurang ideal. Namun, fakta yang terjadi di lapangan setidaknya harus menjadi pertimbangan.

 

(sumber: http://www.antarajatim.com/lihat/berita/91060/kahmipamekasan-usulkan-pilgub-dilakukan-dprd)

Gempa di Pamekasan Tak Mengganggu Aktivitas Nelayan

0

Pamekasan – Gempa yang melanda Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Minggu, tidak mengganggu aktivitas nelayan di wilayah itu dan mereka tetap menangkap ikan ke tengah laut.

“Memang, ada sebagian yang tidak berangkat melaut, karena ketakutan, namun kebanyakan tetap melaut,” kata salah seorang nelayan di Dusun Tambak, Desa Kaduara Barat, Busadin.

Hal yang sama juga diakui para nelayan di Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan.

Para nelayan payangan di dusun itu umumnya tetap melaut, meskipun mereka sempat panik, karena gempa bumi terjadi di saat mereka hendak berangkat melaut.

Gempa dengan skala kecil melanda Pamekasan, Madura, Jawa Timur, pada Minggu pukul 04.30 WIB
Getaran gempa ini berlangsung selama sekitar 1,5 menit dan dirasakan masyarakat di empat kecamatan, yakni Kadur, Larangan, Galis dan sebagian di Kecamatan Pakong.

Di Kecamatan Larangan dan Kecamatan Kadur ini, getaran gempa sempat terjadi selama dua kali, sebagian informasi menyebutkan hingga tiga kali.

Kepanikan akibat gempa ini juga terjadi di perkampungan nelayan di Desa Kaduara Barat, Kecamatan Kadur, Pamekasan.

(Sumber: http://www.antarajatim.com/lihat/berita/85958/gempa-di-pamekasan-tak-mengganggu-aktivitas-nelayan)

Gempa di Pamekasan Tak Terekam BMKG

0

Pamekasan – Gempa yang melanda sebagian wilayah di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, pada sekitar pukul 04.30 WIB Minggu pagi, tidak terekam Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika.

Prakirawan BKMG Tanjung Perak Surabaya, Supeno menjelaskan, kejadian gempa bumi yang terjadi hari ini dan terekam oleh badan khusus itu hanya di Pandeglang Banten.

Ia menjelaskan, gempa di wilayah itu terjadi pada kedalaman 10 km dengan lokasi 7.17 LS 105.13 BT dan pusat gempa berada di Laut 95 Km Barat Daya Pandeglang, Banten.

“Kalau di Pamekasan saya lihat di prakiraan tidak terekam di sini,” kata Supeno kepada ANTARA melalui saluran telepon.

Gempa dengan skala kecil melanda Pamekasan, Madura, Jawa Timur, pada sekitar pukul 04.30 WIB, Minggu pagi.

Getaran gempa ini berlangsung selama sekitar 1,5 menit dan dirasakan masyarakat di empat kecamatan, yakni Kadur, Larangan, Galis dan sebagian di Kecamatan Pakong.

“Saya sempat keluar rumah dan pergi ke rumah tetangga membangunkan mereka,” kata warga Dusun Daporah, Desa Gagah, Kecamatan Kadur, Sahama.

Di Kecamatan Larangan dan Kecamatan Kadur ini, getaran gempa sempat terjadi selama dua kali.

“Yang kedua, sekitar pukul 07.00 WIB. Tapi hanya sebentar saja,” kata warga lain di Desa Sokalelah, Kecamatan Kadur, Mutimma.

Kepanikan akibat gempa ini juga terjadi di perkampungan nelayan di Desa Kaduara Barat, Kecamatan Kadur, Pamekasan.

Masyarakat di desa ini mengaku khawatir akan terjadi tsunami, sebagaimana yang pernah terjadi di Aceh beberapa waktu lalu.

(sumber: http://www.antarajatim.com/lihat/berita/85950/gempa-di-pamekasan-tak-terekam-bmkg)

Gempa Guncang Pamekasan

0

Warga Pamekasan, Jawa Timur, Minggu (15/4/2012) pagi dikagetkan dengan terjadinya gempa, meskipun skalanya cukup kecil. Namun kejadian itu sempat membuat warga panik dan berhamburan keluar dari rumah.

Kejadian itu, menurut Mafluhah, warga Dusun Sumber, Desa Lancar, Kecamatan Larangan, Pamekasan cukup singkat. Namun meskipun kejadian sudah membuat panik. “Kebetulan di masjid, warga berkumpul mau solat subuh, tapi tiba-tiba ada guncangan keras sehingga berhamburan keluar masjid,” katanya.

Sementara itu, Fauzi Ahmad, warga Desa Kertagena Tengah, Kecamatan Kadur, juga merasakan getaran gempa. “Istri saya langsung menjerit kemudian saya bawa keluar rumah takut ada gedung yang runtuh,” terangnya.

Kejadian gempa ini baru kali ini terjadi di Madura. Gempa dan tsunami di beberapa daerah membuat trauma warga di Pamekasan. Junaedi, warga dusun Biyen, Desa Montok, yang rumahnya berada di pinggir laut cukup kaget. “Bayangan saya sudah mau seperti di Aceh beberapa tahun lalu. Tapi Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa,” katanya cemas.

Meskipun tidak ada korban dalam kejadian ini, warga masih tetap waspada. “Saya bangunkan semua keluarga dan tidak boleh ada yang berada di dalam rumah, takut ada gempa susulan,” tambah Junaedi.

(Sumber: kompas.com)