Hairul Anwar

Sumenep, (Media Madura) – 24 jam terakhir, bangsa Indonesia dikejutkan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang melorot hingga Rp. 15.000/ US dolar. Dan, disebut-sebut, terburuk dalam 20 tahun terakhir.

Kepanikan pun tak dapat disembunyikan, dari pemerintah hingga masyarakat biasa, tak terkecuali para pengusaha di Indonesia, karena trauma krisis 1998 yang khawatir terulang.

Namun, terlepas dari itu semua, ada “curhatan” menarik dari salah satu pengusaha muda, Hairul Anwar. Curhatan pengusahan sukses asal Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur patut disimak.

Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Sumenep itu membuat analisis tajam mengenai kondisi ekonomi di tahun politik.

Berikut isi analisinya sebagaimana mediamadura.comkutip dari akun FB resminya, Hairul Anwar:

Pasti ada hikmah di balik peristiwa, ketika saya memutuskan untuk nyaleg di DPR RI, saya pada saat itu begitu PD (percaya diri) untuk ikut kontestasi di 2019. Semua persyaratan pencalonan sudah dilengkapi bahkan saya ikut ramai ramai penandatangannan caleg seluruh Indonesia di gedung DPP salah satu partai. Dan datanglah hal tidak disangka sangka. Saya tidak dimasukkan ke daftar caleg, entah sebab apa itu sudah di luar jangkauan kita sebagai kader yang berkontribusi sejak 98.

Tapi ada hikmah di balik ini semua. Sekarang negara kita sudah memasuki fase demam karena ekonomi lagi tidak bersahabat dengan negara kita, di mana ekonomi kita saat ini terus memburuk. Masyarakat memang tidak begitu merasakan karena sebetulnya negara kita sudah autopilot. Tapi yang bingung dan pusing tujuh keliling adalah pemerintah kita saat ini yang berdarah-darah menahan laju dolar dan defisit transaksi berjalan yang saat ini sudah mencapai 17 miliar dolar, yang pada saat 2019 nanti bisa sampai 25 miliar dolar.  

Ini sudah saatnya lupakan dulu hiruk pikuk politik, kita harus bisa fokus menangani ekonomi dulu. Karena sebetulnya ini yang perlu ditangani serius. Masyarakat masih agak tahan selama bahan bakar tidak naik. Tapi kalau sudah bahan bakar yang naik diatas kemampuan masyarakat baru masyarakat kita akan bergejolak.

Kenaikan BBM ini sudah tidak akan mampu diredam oleh pemerintah sepertinya. Cepat atau lambat perintah tidak akan menahan beban BBM yang kita sudah jadi negara net imported untuk minyak. Cepat harga BBM pasti disesuaikan. 

Ditengah tahun politik saat ini sebetulnya ini adalah buah simalakama bagi pemerintah. Kalau ini tidak dikelola dengan baik, maka ini akan membuat pemerintah bisa kelabakan menangani masalah sosial. Karena bagi kebayakan perusahaan tidak ada jalan lain untuk efisiensi sudah tidak mampu selain PHK, yang tentunya ini akan dihindari juga oleh perusahaan.

Biang keladi dari sektor ekonomi kita tiap tahun selalu sama, yaitu defisit transaksi berjalan. Karena apa? kita punya produk tapi kita tidak berhak menentukan harga ini sebetulnya yang jadi masalah. Yang punya barang diatur yang mau beli. Sehingga ekport komoditi kita seakan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. 

Sedangkan kebutuhan dalam negeri semuanya tergantung dari pasar import. Mulai dari barang barang teknologi tinggi sampai kebutuhan pangan. Semuanya pasti ada kaitannya dengan import. Kalau sampai saat ini belum dibenahi dengan baik maka itu akan tidak akan cukup untuk membuat kita menjadi bangsa yang mandiri. 

Sudah saatnya kita menatap dan merenung untuk 2019 ini supaya kita tidak salah melangkah. Kencangkan ikat pinggang untuk efisien bagi para pengusaha, dan  untuk rakyat kebanyakan, kurangi pemgeluaran karena sepertinya ekonomi akan semakin sulit untuk tahun depan.

Kebanyakan pemerintah didunia akan kesulitan menghadapi oposisi klau sudah dihantam isu ekonomi. Kita lihat saja dan tunggu jurus ekonomi apalagi yamg akan dikeluarkan pemerintah. Its economy mr. president. Selonjorkan kaki segera minum teh hangat dan tempe  gorengnya.

Reporter: Rosy
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.