Pamekasan, 14/8 (Media Madura) – Ada yang berbeda dalam pelaksanaan gerak jalan di Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-72.

Kalau biasanya peserta even tahunan itu memakai seragam dengan mengekan celana dan sepatu, yang satu ini justru memakai sarung dan kopiah.

Ternyata, mereka adalah santri delegasi Pondok Pesantren An-Nasyiin, Desa Grujugan. Para santri membuktikan kecintaannya pada bumi pertiwi Indonesia.

“Santri yang dikenal dengan kaum sarungan dan dikenal salaf tidak mengabaikan terhadap peringatan HUT RI,” kata Ketua Pengurus PP An-Nasyiin, Moh Kurdi usai kegiatan, Senin (14/8/2017).

“Santri menunjukkan cinta tanah air dan siap membela NKRI dalam bingkai asas Binneka Tunggal Ika,” sambungnya.

Menurut Kurdi, salah satu alasan santrinya diikut sertakan dalam kegiatan pasukan baris berbaris (PBB) itu, mengenalkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari perjuangan kaum sarungan.

“Indonesia dapat meraih puncak kemerdekaannya berkat santri. Makanya santri juga harus mengisi kemerdekaan itu dengan kegiatan positif,” tambahnya.

Lomba gerak jalan dengan mengenakan sarung upaya mempertahankan tradisi lama yang dicontohkan oleh para ulama utamanya yang ikut berperang melawan penjajah.

“Kiai Hasyim Asyari pendiri NU ia adalah komandan pejuang dari kalangan santri, dan sekarang ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional,” tutupnya.

Reporter: Rifqi
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan