Oleh : Ibnu Hajar

Tiba-tiba siang yang penuh memar dan suntuk seperti guguran kelopak bunga teratai
kucoba pahami bau tanah yang ditinggalkan desah embun
kemudian kau datang juga bersama kabar tentang pertempuran pohon-pohon sorga

Aku makin akrab dengan tangis biola
yang pernah kau mainkan di antara gema lonceng gereja yang tak pernah lelah memanggil kegaibannya
namun aku tak dapat merontokkan detik-detikmeruncing dalam gerak air yang terpatah-patah hingga tak sengaja kuanyam secuil dekapan

pada terjal aspal makin menguap aroma nafasmu yang menjulur jauh ke balik langit
dan anak-anak kita yang tak pernah dilahirkan menggigil dengan bentuk leher tak berwarna

jiwa kita sama-sama mencair
mengaliri setiap kubangan yang menyimpan fosil dari puntung peradaban
dan biarkan,
kita menjelma petualang yang datang dan pergi tapi tidak untuk masa lalu dan masa depan.

Malang, 1999

*Penulis adalah Sastrawan dan Budayawan yang alumni Pondok Pesantren Matha’liul Anwar, Pangarangan-Sumenep, lahir di Sumenep, 7 Juli 1971. Menempuh pendidikan tingginya di Univ. Muhammadiyah Malang pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan PMP-Kn dan Universitas Kristen Jawa Timur Malang, serta menyelesaikan Pendidikan Pascasarjana (S2-nya) di Univ. Kanjuruhan Malang, Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Mulai aktif menulis dan mempublikasikan karyanya sejak duduk di bangku kelas dua MTsN Sumenep.

Selain itu, beberapa puisinya juga terkumpul dalam berbagai antologi, di antaranya: Tagih (1995), Nuansa Diam (1995), Sajak-sajak Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka (TBS 1995), Getar II(1996), Bangkit III (1996), Kleptomania (1996), Instrumentalia Hening (1997), Surat Tugas Dari Jembatan (1997), Antologi Puisi Indonesia ’97 (KSI 1997), Tamansari (FKY 1998), Istana Loncatan (1998), Pertemuan di Balik Tanah (1999), Wulan Sendhuwuring Geni (1999), Kampung Indonesia Pasca Kerusuhan (2000).

Tinggalkan Balasan