WUB, Desa Tematik, dan Sambang Desa Baddrut Tamam (5)

Advertisement

Banyaknya pelaku usaha baru dari program yang dicanangkan Pemkab Pamekasan dengan target pembentukan sedikitnya 10.000 pengusaha baru atau yang disingkat “Sapu Tangan Biru” ini, secara otomatis akan memperluas sebaran pelaku usaha di berbagai desa dan tumbuhnya ekonomi desa yang lebih baik.

Pada akhirnya, program ini juga akan mendorong program penguatan ekonomi di tingkat desa, disamping sebagai upaya sistemik memberdayakan para pemuda dan remaja di desa-desa. Upaya membentuk pelaku usaha mandiri sebagai tujuan pokok, di samping itu, juga dalam rangka mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan serapan tenaga kerja di sektor informal merupakan cara efektif yang dilakukan pemkab dibawah kepemimpinan Baddrut Tamam ini. Apalagi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka penangangguran terbuka di Kabupaten Pamekasan ini masih mencapai 3,27, dengan angka kemiskinan yang masih tergolong tinggi, yakni 129,41 ribu jiwa atau sekitar 14,60 persen dari total jumlah penduduk Pamekasan.

Berdasarkan data BPS, pada tahun 2010, persentase penduduk miskin di Kabupaten Pamekasan mencapai 179,2 ribu jiwa (22, 44 persen) dari total penduduk saat itu dan terus mengalami penurunan menjadi 122,4 ribu jiwa (13,95 persen) pada tahun 2019. Sebaliknya di tahun 2020 terjadi peningkatan menjadi 14,60 persen, hal ini merupakan dampak dari adanya pandemi COVID-19.

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2010 – 2020, garis kemiskinan meningkat sebesar 54,51 persen atau naik Rp151,58 ribu dari Rp205,49 ribu per kapita perbulan pada tahun 2010 menjadi Rp357,07 ribu per kapita perbulan pada tahun 2020. Meskipun, peningkatan garis kemiskinan diikuti oleh penurunan jumlah penduduk miskin, hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk Kabupaten Pamekasan dalam memenuhi kebutuhannya semakin meningkat dan daya belinya setiap tahun meningkat akibat adanya program stimulan dari pemerintah.

Namun demikian, fakta ini setidaknya bisa menjadi dasar bagi Pemkab Pamekasan dalam membuat program kebijakan yang berpihak pada upaya menggerakkan sektor ekonomi mikro berbasis pedesaan, sehingga diharapkan bisa menopang pergerakan ekonomi di era pandemi ini ke arah lebih baik.

Tema Potensi Desa

Bupati Pamekasan ngobrol di sawah bersama aparat desa dan pimpinan organisasi perangkat daerah pada acara sambang desa di Kecamatan Pakong, Pamekasan.

Desa merupakan tingkatan terendah dalam struktur pemerintahan, sekaligus ujung tombak dalam hal tata kelola pemerintahan, termasuk ekonomi. Sebab, hampir semua potensi sumber daya alam (SDA) berada di desa.

Hanya saja, ekplorasi potensi desa, selama ini cenderung kurang diperhatikan, sehingga desa hanya menjadi tempat menggali potensi, akan tetapi produksi dari hasil sumber daya alam yang terkandung di desa tidak dilakukan di desa. Sehingga perputaran uang nyaris tidak ada.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menginginkan agar desa lebih berdaya, lebih maju dan secara ekonomi, dan lebih baik dalam banyak hal, dengan mengoptimalkan semaksimal mungkin semua potensi yang ada di desa.

Caranya dengan memetakan potensi yang terkandung di masing-masing desa, kemudian potensi yang ada dikelola secara profesional dengan cara meningkatkan pendidikan keterampilan warga melalui dukungan pemerintah kabupaten.

Desa yang memiliki potensi dasar ekonomi yang kuat di bidang pertanian, maka bisa ditetapkan sebagai desa pertanian. Sedangkan yang memiliki potensi ekonomi kuat di bidang pariwisata, maka bisa ditetapkan sebagai desa wisata dan dikembangkan pariwisata desa.

Dalam pandangan Bupati Baddrut Tamam, dengan cara memetakan potensi di masing-masing desa itu, maka dukungan pemerintah kabupaten terhadap pengembangan ekonomi dan usaha unggulan dan pembangunan desa, akan lebih terarah, tepat guna, dan bernilai guna.

Disamping itu, penguatan identitas desa, identitas sosial dan kegiatan ekonomi masyarakat desa, akan lebih terarah, lebih fokus, dan pada akhirnya juga akan lebih maksimal, disamping akan bisa saling mengisi antara unggulan di desa tertentu dengan desa lainnya.

“Dan melalui desa tematik ini, maka secara otomatis, perekonomian masyarakat di desa dalam jangka panjang akan lebih baik,” kata Baddrut Tamam dalam sebuah kesempatan.

Melalui program desa tematik, para kepala desa dituntut untuk bisa bekerja keras dalam menentukan dan menggali potensi ekonomi yang terkandung di desanya. Selain ketelatenan, kejelian dalam menentukan dan memilih program prioritas juga menjadi perhatian. Sebab, menentukan tema yang salah tidak hanya berisiko pada upaya memajukan desa, akan tetapi juga bisa berdampak negatif pada upaya mengembangkan ekonomi desa.

Disinilah pentingnya urun rembut, dan menyamakan persepsi diantara semua elemen masyarakat di tingkat desa menjadi penting, sebelum memutuskan tema yang hendak ditetapkan.

Bagi aparat desa yang belum memiliki kemampuan dalam melakukan pemetaan, apalagi di desanya memang belum ada produk unggulan yang menonjol, seperti di Desa Gagah dan beberapa desa lainnya di Kecamatan Kadur, maka menggunakan jasa konsultan ahli menjadi salah satu alternatif. Beda halnya dengan Desa Bajang, Kecamatan Pakong yang memang sejak awal diketahui bahwa di desa ini memiliki objek wisata menarik yang bisa dikembangkan, yakni Bukit Brukoh, sehingga desa ini langsung menetapkan tema desanya dengan Desa Wisata.

“Program ini memang tidak mudah, butuh kejelian dan perencanaan yang matang. Tapi harus dilakukan, agar ikhtir mewujudkan tema besar kita, ‘Desaku Makmur, Pamekasan Hebat’ bisa segera terwujud, dan endingnya adalah kemakmuran bersama bagi kita semua,” kata Baddrut Tamam. (Bersambung ke halaman-6)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.