Kisah Mutofa yang Nekat Mudik ke Madura Karena Bibinya Sakit

Ilustrasi mudik ke Madura
Advertisement

Demak (Media Madura) – Dari berabagai pemberita di media, baik media massa seperti televisi, radio, media online hingga media cetak jenis koran, Mustopa warga asal Kabupaten Sampang ini telah mengetahui, bahwa pemerintah melarang warga melakukan mudik Lebaran karena alasan untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Kabar itu, bukan kabar baik, tapi justru meresahkan. Sebab, bagi dirinya, Lebaran merupakan momentum yang sangat tepat untuk bisa bertemu dengan keluarga di kampung halamannya di Sampang, Madura.

Sejak kabar larangan pemberlakukan larangan mudik itu, ia dan para kerabatnya selalu berfikir bagaimana bisa tetap pulang. Mustofa semakin resah, saat mendengar kabar dari keluarganya di Madura bahwa bibinya sedang sakit. Kepada istri dan anaknya, akhirnya ia memutuskan untuk tetap mudik.

Keinginannya semakin kuat bahwa dirinya tetap bisa sampai ke Madura meski pemerintah telah menyampaikan larangan mudik, setelah mengetahui dari pemberitaan bahwa penutupan akses jembatan Suramadura, yakni jembatan penghubungan antara Pulau Jawa di Surabaya dengan Pulau Madura di Bangkalan masih akan ditutup mulai tanggal 6 hingga 17 Mei 2021.

Sekitar pukul 21.00 WIB, Mustofa dan sembilan keluarganya yang terdiri dari anak, istri dan beberapa orang kerabat dekatnya, akhirnya nekat berangkat ke Sampang, Madura, dengan mengendarai mobil pikap bernomor polisi B 9448 WAG.

Pengiritan ongkos transportasi, menjadi alasan utama Mustopa mudik ke Madura, meskipun ia dan keluarganya tahu, bahwa jenis kendaraan ini untuk angkutan barang. Untuk menutupi pandangan petugas, maka ia menutup mobil pikapnya itu dengan menggunakan terpal, sehingga nampak seperti menangkut barang.

Selain itu, sejumlah barang seperti kipas dan beberapa kelengkapan rumah tangga juga dibawa pulang, sehingga tidak memungkinkan apabila mudik dengan angkutan umum, seperti bus.

Selama perjalanan dari Tanggerang Selatan, perjalanan satu keluarga yang penumpangnya berjumlah sembilan orang ini, lancar-lancar saja. Namun, saat melintas di jalur Pantura, Demak, Jawa Tengah, ia dicegat oleh petugas gabungan yang sedang operasi di jalur itu.

Kendaraan yang dibawa Mustofa akhirnya ditilang, karena jelas menyalahi aturan. Apalagi ia sendiri belum mengantongi Surat Izin Mengemudi (SIM). “Saya memang baru kali ini pulang kampung, dari Tangsel mau ke Sampang, Madura. Sebelum sampai sini, perjalanan lancar, bahkan sempat istirahat tiga kali,” katanya seperti dilansir sejumlah media, Senin (3/5/2021).

Petugas memang tidak meminta Mustofa dan keluarganya kembali ke Tanggerang, akan tetapi harus mengikuti tes COVID-19.

“Kalau hasilnya negatif, bisa dilanjutkan. Tapi kalau ada positif, ya terpaksa harus diisolasi, sesuai dengan protokol kesehatan,” kata Kasat Lantas Polres Demak AKP Fandy Setiawan waktu itu.

Ritual Mudik
Bagi Mustofa dan warga Madura lainnya, mudik saat Lebaran seolah merupakan keniscayaan, bahkan seperti kewajiban. Sebab, momentum Idul Fitri merupakan momentum untuk bertemu, bermaaf-maafan dengan keluarga dan para kerabat lainnya yang selama ini tinggal berjauhan.

Tak heran, jika menjelang Hari Raya Idul Fitri, volume warga dari luar Madura yang menuju ke Madura selalu meningkat tajam. Bahkan, sebagian warga Madura yang hidup di perantauan di Pulau Jawa Timur mudik lebih awal, melalui jalur transportasi laut, yakni melalui pelabuhan Jangkar, Situbondo.

Pemudik dari luar Madura yang masuk ke Madura tidak hanya di Indonesia saja, akan tetapi juga dilakukan oleh warga Madura yang merantau ke luar negeri sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI), seperti Malaysia dan Singapura.

Di Pamekasan saja, selama kurun waktu 30 April hingga 3 Mei 2021 ini sudah tercatat sebanyak 96 orang, dengan perincian pada gelombang pertama, yakni pada 30 April 2021 PMI yang tiba di Pamekasan sebanyak 44 orang dan pada gelombang kedua, yakni pada 3 Mei sebanyak 52 orang.

Bedanya dengan Mustofa, sebagian PMI yang tiba di Pamekasan ini bukan murni pulang karena Lebaran, akan tetapi sebagian diantara mereka karena memang dideportase oleh negara tempat mereka bekerja, karena tercatat sebagai PMI ilegal. (Tim Media Madura)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.