10 Hari Terakhir di Bulan Ramadan

Oleh : Fitrianingsih

*) Penulis adalah Mahasiswa IAIN Madura, Fakultas Tarbiyah, Prodi Pendidikan Bahasa Arab

Bulan ramadan adalah salah satu bulan terbaik dan mulia diantara bulan-bulan lainnya. Bulan ramadan begitu diistimewakan oleh Allah.

Dan diantara malam-malam dalam Ramadhan itu ada salah satu malam yang sangat istimewa. Bahkan keutamaan malam itu mampu mengalahkan keutamaan bulan dan tahun. Malam itu adalah malam lailatul qadar.

Saat bulan Ramadan tiba, kaum muslimin saling berlomba-lomba untuk mendapatkan malam lailatul qadar. Dan mereka akan sangat menyesali jika melewatkan malam tersebut.

Lalu, apa yang sebenarnya mendasari mereka sehingga mereka saling berlomba-lomba untuk mendapatkan malam lailatul qadar tersebut ? Berikut adalah ulasannya mengenai hikmah malam lailatul qadar:

Lailatul qadar sebagaimana yang dikutip oleh Abdul Aziz Muhammad As Salam adalah satu keutamaan pada bulan Ramadan. Secara etimologis (harfiyah), Lailatul qadar terdiri dari dua kata, yakni lail atau lailah yang berarti malam hari dan qadar yang bermakna ukuran atau ketetapan. Secara terminologis (maknawi), Lailatul qadar bermakna malam yang agung atau malam yang mulia. Ada juga yang mengatakan bahwa Lailatul qadar adalah malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Diturunkannya Alquran sebagai penetapan jalan hidup manusia yang harus dilalui, dengan berpaduan pada Al-Quran.

Disabdakan dalam hadis Rasulullah yang artinya: dan diceritakan kepadaku Zuhair bin Harb, diceritakan kepada kita Mu‟adz bin Hisyam,bapakku menceritakan kepadaku, dari Yahya bin Abi Katsir, berkata: diceritakan kepada kita Abu Salamah bin Abdur Rahman, sesungguhnya Abu Hurairah menceritakan kepada mereka: sesungguhnya Rasulullah SAW berkata: “Barang siapa berdiri (untuk ibadah) pada bulan Ramadan, dengan iman dan mengharap (pahala dari Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Barang siapa berdiri (untuk ibadah) pada malam lailatul qadar, dengan iman dan mengharap (pahala dari Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Lailatul qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ”Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 116)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)

Adapun sebuah riwayat yang dikeluarkan dari Ibnu Abi Hatim dan Al Wahidi dari mujahid: sesungguhnya Rasulullah SAW menyebutkan seorang laki-laki dari bani Israil membawa pedangnya untuk berjihad di jalan Allah selama 1000 bulan, maka orang-orang muslim merasa kagum dengan laki-laki dari bani Israil itu, maka Allah menurunkan surat al-Qadar ayat 1-3.

Jadi, salah satu hikmah dari Lailatul Qadar adalah: ketika kita shalat di malam itu, kita diibaratkan shalat 1000 bulan.(*)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.