Oleh : Dwi Budayana ED

*) Penulis adalah Arsitek, tinggal di Kabupaten Pamekasan.

Kata “kota” tidak bermakna sebagai “Kotamadya” yang secara administratif setara/setingkat dengan Kabupaten (Permendagri No. 2 Tahun 1987). Makna “kota” dalam pembahasan ini yaitu sebuah wilayah yang mandiri atau memiliki pengertian “town” atau “city” dalam Bahasa Inggris (Permendagri RI No. 4 Tahun 1980 dan UU No. 22 Tahun 1999 Tentang Otonomi Daerah).

Sekilas, perkembangan kota selalu identik dengan perubahan fisik kota itu sendiri, dari yang sebelumnya kecil menjadi besar. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Proses bertambah besarnya fisik sebuah kota dipengaruhi dan memiliki keterikatan yang sangat erat dengan kondisi kehidupan yang dialami oleh masyarakat penghuninya. Ketika aktivitas masyarakat semakin meningkat, maka dibutuhkan ruang yang semakin luas pula. Hendarto (1997), memberikan definisi bahwa perkembangan kota (urban development) merupakan sebuah perubahan di dalam masyarakat kota secara menyeluruh, baik perubahan sosial ekonomi, sosial budaya, maupun perubahan fisik. Dengan kata lain, perkembangan fisik dan kondisi kehidupan masyarakat berjalan beriringan, berhubungan dan tidak bisa dipisahkan.

Meski tidak begitu tampak, Kota Pamekasan perlahan mulai bisa mengembangkan diri ketika memasuki era Orde Baru. Kota yang awalnya hanya terbatas di wilayah Kecamatan Pamekasan (9 desa dan 9 kelurahan), pada era ini mampu berkembang ke sisi timur dengan “mencaplok” dua kelurahan yang masuk dalam wilayah Kecamatan Pademawu, yaitu Kelurahan Barurambat Timur dan Kelurahan Lawangan Daya. Jalur transportasi utama ke wilayah Kabupaten Sumenep adalah faktor utama terjadinya perkembangan. Sebagai titik-titik simpulnya, terdapat beberapa fasilitas perkantoran dan pendidikan peninggalan Belanda serta fasilitas-fasilitas lain yang dbangun oleh pihak swasta.

Era reformasi/keterbukaan, yang selanjutnya menjadi gerbang memasuki era milenium, merupakan titik awal bagi Kota Pamekasan untuk memulai perkembangan fisik dalam kapasitas yang sebenarnya. Pertumbuhan penduduk yang semakin pesat, kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang meningkat serta perubahan pola kehidupan dan tata cara masyarakat akibat pengaruh sistem informasi dan komunikasi dari luar, adalah faktor penyebab secara umum.

Perkembangan Kota Pamekasan secara nyata diawali dengan pembangunan jalan lingkar (ring road), dimulai dari sisi selatan kota (wilayah KecamatanTlanakan) hingga ketimur kota (wilayah Kecamatan Pademawu dan Galis). Sisi selatan-timur terpilih sebagai lokasi, karena merupakan akses yang mudah dan cepat untuk jalur transportasi dari Surabaya (selatan) menuju Sumenep (timur). Jalan lingkar yang dibangun memang bukan jalan yang benar-benar baru, namun memanfaatkan jalan poros lama yang diperlebar, diperkeras ulang, diberi fasilitas pendukung seperti lampu jalan, marka, rambu, traffic light, dsb. Angkutan antar kota, terutama bus AKDP maupun AKAP, dari dan menuju Surabaya/Sumenep dan kendaraan-kendaraan niaga, wajib melewati jalan lingkar. Hanya untuk kendaraan niaga, diperbolehkan masuk kota pada jam-jam tertentu.

Setelah jalan lingkar dibangun, maka simpul-simpul di sisi selatan dan timur mulai tersambung, termasuk pula akses dari pusat kota inti menuju simpul-simpul di jalan lingkar. Jaringan jalan beserta fasilitas-fasilitas yang melekat, terbentuk secara sistematis. Maka, kegiatan perekonomian juga makin menggeliat cenderung meningkat, baik di sepanjang jalan dari pusat kota inti menuju akses jalan lingkar maupun di wilayah sepanjang jalan lingkar. Menurut Northham dalam Yunus (1994), perkembangan kota terjadi bukan hanya memusat, tapi juga terjadi secara merata pada bagian luar mengikuti pola jaringan jalan. Teori ini diperkuat oleh pendapat Hudson dalam Yunus (1994), bahwa perkembangan kota terjadi di sepanjang jalan utama yang melingkar dan pendapat Babcock dalam Yunus (1994), bahwa perkembangan kota terjadi di sepanjang jalur transportasi.

Selanjutnya, pada wilayah di sepanjang akses jalan lingkar dibangun fasilitas-fasilitas pendukung, baik oleh Pemerintah maupun pihak swasta. Fasilitas tersebut diantaranya terminal penumpang, terminal barang, perkantoran, stadion, pertokoan/pasar, hotel/restoran, dealer/showroom, perumahan, gudang dan pabrik. Selain itu fasilitas lama yang telah ada semakin terlihat jelas fungsi dan keberadaannya, seperti lembaga pendidikan, perumahan dan perkantoran.

Pengembangan juga dilakukan ke sisi barat dan utara. Pengembangan ke sisi barat dan utara ini tak begitu mulus bila dibandingkan pengembangan ke sisi selatan dan timur. Penyebab utamanya adalah karena dua sisi wilayah ini bukan merupakan akses jalan antar kabupaten. Sebagai “pancingan”, aspek yang menjadi prioritas pengembangan adalah fasilitas non jalan/non transportasi, yaitu membangun perumahan skala besar di Desa Samatan, Kecamatan Proppo, termasuk juga memaksimalkan fasilitas yang telah ada seperti perkantoran, lembaga pendidikan, gudang dan pertokoan/pasar di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan. Baru pada tahap berikutnya adalah memperbaiki fasilitas jalan poros penghubung antar kecamatan yaitu ke Kecamatan Proppo di sisi barat dan jalan poros menuju Kecamatan Palengaan, Pegantenan, Pakong dan Kadur di sisi utara.

Lambat laun, perekonomian di wilayah barat dan utara mulai meningkat. Hal ini juga didukung oleh pembangunan infrastruktur dan fasilitas pelayanan umum serentak di seluruh kecamatan se Kabupaten Pamekasan, seperti fasilitas kesehatan, pendidikan, jalan dans ebagainya. Gairah masyarakat di wilayah kecamatan di sisi barat dan utara semakin meningkat. Orientasi serta pola pikirnya pun mulai berubah kearah yang lebih baik.


Proses perkembangan Kota Pamekasan yang telah dan sedang terjadi, berimbas pada kondisi kecamatan-kecamatan di sekeliling Kota Pamekasan. Aktivitas perekonomian, sosial dan budaya menunjukkan peningkatan. Setiap kecamatan telah menyiapkan dan memaksimalkan produk dan potensi unggulan lokal yang siap jual. Adapun produk dan potensi unggulan tersebut diantaranya adalah :

1. Kecamatan Tlanakan : Pelabuhan dan Wisata Alam

2. Kecamatan Pademawu : Agrobisnis dan Wisata Alam

3. Kecamatan Galis : Agrobisnis dan Perdagangan

4. Kecamatan Larangan : Agrobisnis dan Wisata Alam

5. Kecamatan Kadur : Agrobisnis dan Wisata Alam

6. Kecamatan Palengaan : Wisata Alam, Wisata Agropolitan dan Sentra Batik Tradisional

7. Kecamatan Proppo : Wisata Religi dan Sentra Batik Tradisional

Dengan demikian, terbentuklah pusat-pusat kota (urban centers) terutama di ibukota-ibukota kecamatan, sebagai bukti bahwa proses perkembangan juga berlangsung. Tidak menutup kemungkinan ibukota-ibukota kecamatan akan bergabung dengan Kota Pamekasan sebagai induk untuk menjadi kota yang lebih besar. Hoyt dalam Djaldjoeni (1998) mengungkapkan bahwa daerah luar kota makin berkembang dan bergabung pada kota induk. Semakin meningkatnya aktivitas di masing-masing kecamatan, semakin kuat pula integrasi, keterikatan dan ketergantungan kepada kota utama, demikian pula sebaliknya. Kota utama dan kota-kota kecil mengalami pertalian fungsional yang lebih efektif dan efisien (Hudson dalamYunus, 1994). Maka bisa dipastikan, cepat atau lambat, akan terbentuk simpul-simpul baru yang merupakan cikal bakal perkembangan kota ke arah yang lebih luas (Urban Sprawl, Northam dalam Yunus, 1994) dengan menggabungkan kota inti dan kota-kota kecil di luar kota inti [Konurbasi] (Hoyt dalam Djaldjoeni, 1998).

Secara alami maupun terencana, Kota Pamekasan akan terus berkembang tanpa dapat dihindari. Supaya tidak terkesan liar dan justru merugikan masyarakat sendiri, perlu dipersiapkan segala sesuatu dalam rangka perkembangan tersebut. Sumber daya manusia yang handal, cerdas, proporsional dan profesional, terutama para pemangku kebijakan berserta seluruh jajaran yang membidangi, adalah modal utama dalam merencanakan, mengawal sekaligus mengarahkan segala proses perkembangan kota. Namun yang tak kalah pentingnya adalah peran serta dari masyarakat untuk turut berpartisipasi aktif dalam segala bentuk dan proses perkembangan kotanya.

Sebuah situs pencari jawaban, Brainly, pada tahun 2015 melempar sebuah pertanyaan “apa tujuan dari perkembangan kota” kepada masyarakat luas. Dari jutaan jawaban yang masuk, diperoleh jawaban terbanyak dan paling realistis yaitu “untuk meningkatkan kemakmuran suatu kota (itu sendiri)”. Maka, perkembangan Kota Pamekasan pada akhirnya bertujuan untuk dan demi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Kota Pamekasan pada khususnya dan masyarakat Kabupaten Pamekasan pada umumnya. Semoga.(*)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.