Buta aksara belum terentaskan. (dok/MM)

Sampang, (Media Madura) – Badan Pusat Statistik (BPS) Sampang mencatat di tahun 2016 ada 23 ribu penduduk di wilayah itu tidak pernah menempuh pendidikan. Sementara warga yang belum tamat Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) diketahui sekitar 29 ribu orang.

“Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan 38 Kabupaten/Kota lain di Jawa Timur,” terang Kasi Statistik Sosial BPS Sampang Nur Amin Setiawan, Selasa (19/9/2017).

Data BPS disebutkan, kata dia, merupakan penduduk yang tidak pernah sekolah rata-rata berusia lanjut. Meski sebelumnya di Sampang ada program keaksaraan fungsional (KF) dan program lain, namun tidak menurunkan tingginya angka tersebut. Selebihnya dari jumlah itu merupakan warga buta aksara.

Menurut Amin, hal inilah yang ditetapkan Kabupaten Sampang sebagai salah satu daerah tertinggal karena indeks pembangunan manusia rendah, faktor penyebabnya adalah lemahnya pendidikan, minimnya pengelolaan tenaga kerja potensial.

Tak hanya itu, lemahnya sektor pendidikan sangat berdampak pada kehidupan sosial dan perekonomian masyarakat. Apalagi ditambah dengan tidak adanya lapangan pekerjaan.

“Ini juga mengakibatkan banyak masyarakat yang mempunyai taraf pendidikan tinggi dan cukup baik, tapi bekerja di luar daerah,” tuturnya.

Sementara Bupati Sampang Fadhilah Budiono, peningkatan IPM menjadi program prioritas pemerintah. Namun, Dinas Pendidikan diminta bekerja keras dalam menjalankan beberapa program untuk meningkatkan sektor pendidikan. Salah satunya, program pengentasan buta aksara melalui KF.

“Gubernur Jatim juga meminta agar IPM di Sampang lebih ditingkatkan,” tandasnya.

Reporter : Ryan Hariyanto
Editor : Arif

Tinggalkan Balasan