Pamekasan, 1/3 (Media Madura) – Aktivis Forum Mahasiswa dan Masyarakat Revolusi (Formaasi) Pamekasan, Iklal Mahardika menyatakan, tim satuan tugas sapu bersih pungutan liar (Saber Pungli) Pamekasan, Madura, Jawa Timur hanya gertak sambal melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT).

Pasalnya kata mahasiswa Pascasasarjana UNTAG Surabaya itu, OTT terhadap Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Perhubungan (Dishub) oleh Tim Saber Pungli justru membuat preseden buruk. Sebab, operasi itu terkesan dipaksakan dan kurang matang.

“Padahal sudah berlebel OTT, kenapa kok tidak ada seorang pun orang yang terjaring razia ditetapkan sebagai tersangka malah yang sudah masuk sel dilepas,” kata Iklal, Rabu (1/3/2017).

Ditambahkan oleh Iklal, pelapasan PNS Dishub yang terjaring OTT yaitu Mohammad Lutfi (ML) (42) dari sel tahanan menjadi indikasi bahwa bukti-bukti yang dimiliki penegak hukum lemah. Sebab, jika mereka mempunyai bukti kuat, penahanan akan dilanjut untuk proses pengembangan penyelidikan.

“OTT yang dilakukan beberapa hari yang lalu itu terkesan main-main, atau hanya gertak sambal,” tambahnya.

Iklal berharap, Tim Saber Pungli segera memperbaiki citranya. Dengan harus lebih gereget memberantas pungli di Kota Gerbang Salam. dan tidak hanya menggasak pungli kelas teri dengan nominal di bawah Rp 500 ribu.

“Pungli bernilai jutaan rupiah tidak terdeteksi.Kami mendukung penuh upaya Tim Saber Pungli membersihkan Pamekasan dari praktik pungli,” tutupnya.

Sebelumnya, perihal pelepasan PNS yang terjaring OTT itu, Katua Tim Saber Pungli Pamekasan, Kompol Harnoto, enggan memberikan komentar dengan alasan ada kepentingan keluarga.

“Maaf mas saya sedang mengurus orang tua yang masuk rumah sakit. Silahkan langsung konfirmasi ke wakil ketua atau Ketua Pokja Yustisi,” kata pria yang juga Wakapolres Pamekasan itu melalui pesan WhatsApp.

Sementara Wakil Ketua Unit Penanggulangan Pungutan Liar (UPP) Pamekasan, Sucipto Utomo mengaku sempat merapatkan dugaan pungli itu dengan sejumlah pihak. Rapat melibatkan Kasatreskrim, Pokja Penindakan, dan Yustisi UPP. Hasilnya, dugaan pungli itu tidak cukup bukti. Namun menanggapi persoalan itu ia tetap mengalihkannya lagi ke Wakapolres.

”Silahkan ke Pak Wakapolres. Saya tidak bisa berkomentar. Takut salah. Mungkin Pak Waka memiliki pemikiran lain,” katanya mengalihkan.

Mengenai pelapasan Luthfi, Utomo mengaku belum mengetahui secara pasti. Dia beralasan melaksanakan tugas kedinasan di luar kota. Lagi pula, penanganan kasus tersebut berada di kepolisian.

Sementara Kasatreskrim Polres Pamekasan AKP Bambang Hermanto, membenarkan pelepasan PNS Dishub yang terjaring OTT itu, PNS yang menjadi Koordinator tukang parkir di RSUD dr Slamet Martodirdjo itu hanya diberi sanksi wajib lapor selama proses penyelidikan.

”Prosesnya terus berlanjut, polisi masih mencari unsur yang bisa menjerat terduga pelaku pungli tersebut. Nanti kita buktikan,” katanya seraya tersenyum.

Seperti diketahui, Rabu (22/2) Tim Saber Pungli melakukan OTT dan meringkus empat orang diduga melakukan praktik pungli. Keempat orang itu adalah, DP (45) dan HW (35) keduanya warga Kelurahan Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu. Lalu SL (60) warga Jalan R. Abd Aziz, ia terjaring OTT di terminal Ronggosukowati, ia berprofesi sebagai makelar saat menarik uang pada sejumlah armada bus dari tangannya petugas menyita uang sebesar Rp 210 ribu.

Sedangkan Mohammad Lutfi ML (42) warga Kecamatan Pademawu, merupakan PNS di Dinas Perhubungan (Dishub), ia sebagai koordinator petugas parkir RSUD dr Slamet Martodirdjo, terjaring OTT karena memungut uang pada keluarga pasien di luar ketentuan, petugas menyita barang bukti berupa uang Rp 275 ribu dan dua bendel kertas parkir.

Reporter: Rifqi
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan