Terlantar, Ibu di Sampang Melahirkan Depan Rumah Bidan

Detik-detik seorang ibu melahirkan di depan pagar rumah bidan yang dibantu warga setempat. Kejadian ini terjadi pada Sabtu (4/7/2020) malam sekitar pukul 21.30 WIB. (Foto Istimewa)

Sampang, (Media Madura) – Aljannah, seorang ibu berusia 25 tahun di Desa Ketapang Laok, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, melahirkan bayi perempuan di depan rumah bidan desa. Persalinan darurat itu dibantu sejumlah warga setempat tanpa peralatan medis.

Peristiwa menghebohkan ini terjadi sekitar pukul 21.30 WIB pada Sabtu (4/7/2020) malam.

Menurut keterangan keluarga, sebelum melahirkan putri pertamanya, Aljannah bersama suami bermaksud ingin memeriksakan kandungannya di bidan Ibu Totok.

- Advertisement -

Namun karena bidan desa yang dituju sedang di luar kota, sang suami beralih menuju rumah bidan desa terdekat yakni Sri Fuji di Desa Ketapang Barat.

Sayangnya, Aljannah mendapat penolakan dari keluarga bidan Sri Fuji. Saat itu pihak bidan tak mau menemui pasien dengan alasan sedang sakit.

Lantaran lama menunggu hingga 30 menit, tiba-tiba Aljannah mengalami kontraksi dan melahirkan di depan pagar rumah bidan tanpa penanganan medis.

“Kita sudah panggil ibu bidan Sri Fuji di depan rumahnya, tapi lama tidak ditemui, malah suami ibu Sri yang keluar dengan nada tinggi menyampaikan bahwa ibu sakit tidak bisa menerima pasien, padahal kondisi istri sudah pendarahan berat,” ujar Zainuri (29) suami Aljannah menceritakan kronologis persalinan, Selasa (7/7/2020) siang.

Selang beberapa menit setelah persalinan, bidan Sri Fuji akhirnya menemui Aljannah menggunakan peralatan lengkap APD. Istri petugas Satpam Pasar Ketapang itu pun dirawat dan diinfus.

“Sedangkan bayi kami ditaruk di inkubator,” tuturnya.

Aljannah diperbolehkan pulang oleh bidan Sri usai dirawat dan dikenakan biaya sebesar Rp 800 ribu. Meski begitu, Aljannah hingga Senin kemarin masih mengalami pendarahan.

“Kurang tau itu biaya untuk apa saja meski hanya diinfus dan inkubator,” ucap Zainuri.

Saat dikonfirmasi, bidan Sri Fuji membantah tudingan tersebut. Menurutnya ia bukan tak mau menerima pasien lantaran khawatir ditengah pandemi COVID-19. Namun karena kondisi yang benar-benar sakit.

“Pasien dari manapaun pasti tetap dilayani, memang sedang sakit dan lemas kondisi saya, makanya pukul 21.00 WIB sudah saya tutup, tapi ada pasien yang datang mau melahirkan meski sempat disarankan agar ke bidan lain, tidak ada dari keluarga kami yang bentak ke pasien,” terangnya.

Dengan kondisi lemas, Sri Fuji berusaha tegar membantu pasien melahirkan. Saat itu, dirinya melayani tanpa dibantu perawat karena di malam hari.

“Setelah terdengar tangisan bayi saya terpaksa keluar pakai APD tanpa ada asisten, malah anak saya sendiri yang bantu memegang alat-alat, lahirnya memang sendiri tapi plasentanya saya yang mengeluarkan,” jelas Sri Fuji.

“Mengenai biaya Rp 800 ribu itu untuk perlengkapan bayi dan ibu, pasang infus, injeksi, underpet, dan biaya kontrol, semua biaya ini termasuk sampai masa nifas 40 hari,” katanya.

Sri Fuji menambahkan, sampai saat ini kondisi ibu dan bayi tersebut dalam keadaan sehat. Berat bayinya pun keadaan normal yaitu dengan berat badan 3 kilo 7 ons.

“Kalau pasien tetap pendarahan sampai Senin kenapa tidak kesini sudah disarankan kontrol tiga hari setelah persalinan,” imbuhnya.

Mendengar tragedi ibu melahirkan diduga ditelantarkan bidan membuat DPRD Sampang meradang. Ketua Komisi IV Musoddaq Halili meminta Dinas Kesehatan segera memberikan tindakan terkait hal tersebut.

“Sangat prihatin atas kejadian itu, segera tindak bidan desa ini agar tidak ada kejadian terulang, kalau bisa cabut ijin prakteknya,” tegasnya.

Senada juga disampaikan Politisi Demokrat Dapil IV Abdus Salam. Ia menyayangkan tindakan oknum bidan yang dianggap tidak berperikemanusian.

“Dia (bidan) mungkin ketakutan ditengah pandemi virus Corona, makanya tidak menerima pasien sampai lahir didepan pagar rumahnya, ini sangat miris semoga nanti persoalan ini dibahas bersama Dinkes dengan DPRD,” tandasnya.

Reporter : Ryan
Editor : Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.