Petugas dari Dinas Perikanan Pamekasan tengah memantau budidaya lele dengan sistem bioflok

Pamekasan, (Media Madura) – Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur terus melakukan pengembangan budidaya lele dengan sistem bioflok atau tebar padat karena dinilai bisa mempercepat perluasan kawasan budidaya hingga ke wilayah suplai air terbatas.

“Dinas Perikanan Pamekasan telah melakukan uji coba teknik budidaya lele sistem bioflok pada pada tahun 2018-2019, terbukti berhasil. Hemat pakan dan hemat air,” kata Plt Kepala Dinas Perikanan Pamekasan, Fathor Rasyid, kepada mediamadura.com, Senin (19/8/2019).

Fathor menambahkan, keuntungan pembudidaya lele dengan sistem bioflok menjadikan hasil panen lebih banyak, karena biaya produksi menurun. Uji coba dilakukan untuk mendapatkan SOP yang telah diadaptasi dengan kondisi dan ketersediaan bahan di Pamekasan.

“Dalam teknik budidaya banyak faktor yang mempengaruhi, sehingga SOP yang sama belum tentu bisa diterapkan di tempat yang berbeda, tergantung kondisi lingkungan dan geografis,” tambahnya menegaskan.

Petugas dari Dinas Perikanan Pamekasan tengah memantau budidaya lele dengan sistem bioflok

Sementara Kabid Pemberdayaan Pembudidayaan Ikan Dinas Perikanan Pamekasan, Luthfie Asy’ari memaparkan, praktik percontohan budidaya lele sistem bioflok dilakukan dalam dua tahap. Pertama, dimulai pada pertengahan tahun 2018 dan berhasil, kedua, pada bulan Agustus 2019 sebagai upaya penyempurnaan teknik yang diterapkan.

“Pada Tahun 2019 ini merupakan paket percontohan yang dilakukan di dua Pokdakan, yaitu Pokdakan Barokah Batuampar, Desa Campor, Kecamatan Proppo dan Pokdakan Ar-Rahman Desa Kadur, Kecamatan Kadur,” jelasnya

“Kedua kelompok tersebut dipilih berdasarkan hasil identifikasi lokasi dan administratif memenuhi persyaratan sesuai Juknis DAK TA 2019,” sambungnya menjelaskan.

Dari Pemerintah, dua Pokdakan itu mendapat bantuan antara lain kolam bulat beton, pakan, benih, peralatan budidaya sebanyak 10 paket per kelompok.

“Ke depan Dinas Perikanan Pamekasan berharap agar SOP budidaya lele Bioflok dapat disebarluaskan kepada pembudidaya dan masyarakat yang berminat, khususnya di wilayah sulit air, sehingga target peningkatan produksi lebih cepat tercapai,” ujar Luthfi berharap.

Sebab, sistem itu akan memenuhi permintaan lele yang saat ini masih menjadi komoditas favorit di Pamekasan, buktinya permintaan lele setiap tahun terus meningkat. Namun diakui, peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar masih terdapat kendala, utamanya saat musim kemarau.

“Pada musim seperti ini, para pembudidaya lele yang berlokasi di wilayah dengan suplai air terbatas hanya memfungsikan 50-60 persen kolam ikan yang dimiliki untuk menghemat air atau bahkan menghentikan proses budidayanya, sementara permintaan meningkat,” terangnya.

Bahkan, pada bulan-bulan tertentu, pengepul lele di Pamekasan masih mendatangkan lele konsumsi dari pulau jawa, terutama pada saat musim kemarau puncak.

“Hal ini terjadi karena pasokan lele konsumsi pada saat itu menurun sementara permintaan lele tetap, bahkan naik signifikan jika bertepatan dengan Maulid Nabi, bulan Ramadhan, dan bulan Syawal,” pungkasnya.

Reporter: Ahmad Rifqi
Editor: Zainol

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.