Pak Petok menunjukkan hasil karyanya membuat Keseh dari anyaman bambu, Selasa (3/7/2018). (Ryan Hariyanto/MM).

Sampang, (Media Madura) – Dengan ramah, Pak Petok menjawab salam saya ketika berkunjung ke rumahnya. Lalu mempersilahkan saya duduk di teras depan. Disitulah satu persatu mulai diperkenalkan dengan keluarganya.

Bapak berusia 72 tahun itu merupakan penyandang disabilitas asal Dusun Talela, Desa Banjar Talela, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.

Sebuah rumah gubuk bambu, Pak Petok tinggal bersama istrinya, Rokamah (69), dan adiknya Rokimah (40). Meski puluhan tahun berkeluarga, dia belum dikaruniai seorang anak.

Awal mula, saya menganggap Pak Petok tidak bisa berkreativitas secara individu. Sebab, kesehariannya hanya duduk dan rebahan di atas ‘lencak’ (tempat tidur) ditemani sebuah kipas angin kecil. Namun, siapa sangka pandangan negatif tersebut terhapus.

Pak Petok rebahan di lencak (tempat tidur) / Foto: Ryan Hariyanto

Sekitar 30 menit perbincangan saya, Pak Petok menunjukkan kreativitas yang dimiliki secara otodidak. Ternyata, penyandang psykotik ini kesehariannya bisa membuat kerajinan keseh (bakol nasi) dari anyaman bambu.

“Hanya ini mata pencarian saya setiap hari, itu pun jika ada pesanan dari tetangga sekitar,” ujar Pak Petok sembari menunjukkan keseh yang telah jadi, Selasa (3/7/2018).

Terkadang, sehari dia mampu membuat keseh dari anyaman bambu dua biji. Itu pun jika dipaksakan meski kondisi tidak bersahabat. Hasil dari kerajinannya hanya dijual dengan kisaran harga Rp 5 ribu hingga Rp 25 ribu.

“Hampir 30 tahunan buat kerajinan ini belajar dari diri sendiri, kalau bahan baku bambu diambilkan sanak keluarga, hasil penjualan ini dibuat kebutuhan sehari-hari,” terangnya.

Pak Petok kembali bercerita, dirinya selama ini menjadi tulang punggung keluarga. Sedangkan istrinya, Rokamah meski berkehidupan normal, sudah tak bisa sedikit mengurangi rasa beban karena sering mengalami sakit.

Apalagi, adiknya, Rokimah sama-sama penyandang disabilitas. Maka itu, dirinya tetap banting tulang dalam bekerja.

Mirisnya lagi, pengakuan Pak Petok bahwa sudah jenuh dengan alih-alih oknum perangkat desa yang kerap meminta foto copy kartu keluarga (KK) dengan harapan mendapat bantuan. Alhasil, hingga kini tak satu pun bantuan diterima keluarga bina sosial tersebut.

“Lastareh Epentah, Tapeh Adhek Napah, Lok Oning Pola Tasellem KK Nah Nikah, (Sudah pernah dimintai, tapi tidak ada apa-apa, gak tahu mungkin tenggelam KK nya ini),” ungkap Pak Petok dengan candanya.

Sementara itu, Aktivis Perlindungan Perempuan dan Anak, Jaringan Kawal Jawa Timur (Jaka Jatim) Korda Sampang, Siti Farida menuturkan saat ini keluarga Pak Petok belum terdaftar pada program Kartu Indonesia Sehat (KIS), termasuk identitas penduduk elektronik (e-KTP). Mengingat, keterbatasan fisik sehingga tak bisa mengurus administrasi kependudukan.

“Hak-haknya tidak pernah dia rasakan, apalagi bantuan tunadaksa lainnya, kalau sekadar rastra masih diterima,” jelas Farida.

Dirinya berharap, pemerintah setempat bisa peduli untuk memberikan bantuan permodalan atas keterampilan yang dimiliki keluarga disabilitas tersebut guna mendorong keterampilan yang dimiliki dengan maksimal.

Hal ini sesuai Undang Undang Nomor 8 Tahun 2016 yang mengatur tentang pemenuhan hak penyandang disabilitas atau difabel baik hak ekonomi, politik, sosial maupun budaya.

“Paling tidak pemerintah bisa memberikan alat-alat atau modal yang dibutuhkan dari kerajinan itu sebagai mata pencariannya, bantuan sosial yang lebih efektif hanya untuk mereka,” tandasnya.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.