Oleh : Abdurahman

Teringat pesan KH. Hajar Dewantara tentang konsep pendidikan yang mengajarkan humanisme menekankan pentingnya eksistensi pelestarian human/manusia, dalam artian bahwa pendidikan membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif).

Sebagaimana juga telah terkonsep dalam pendidikan berkarakter atau K 13. Dalam hal ini ada tiga aspek yang berepan penting dalam pendidikan:

Orang, Lingkungan, Sekolah.

Orang tua harus menyadari sedalam-dalamnya bahwa, pendidikan anak tidak cukup dipasrahkan ke sekolah dan guru, pendidikan anak adalah kewajiban yang melekat pada setiap orang tua, baik dalam keadaan aktif belajar disekolah ataupun dalamm keadaan pasif dilaur sekolah.

Hindarkan anak-anak tergantung sama android/smartphone ajak terus berkomunikasi ketika sudah lepas dari sekolah, ajak berdialog tentang keadaan disekolah, teman-temannya dan lingkungan disekolah, sehingga anak merasa punya teman berbagi cerita ketika pulang dari sekolah.

Kedua adalah lingkungan, tanggng jawab lingkungan cukup besar untuk memastikan pengawasan terhadap aktifitas anak setelah mereka pulang dari sekolah, lingkungan harus ikut mengawasi bagaimana pergaulan anak dan aktifitasnya sehingga semua elemen berjalan terintegrasi satau sama lain.

Yang perlu disadari juga bahwa, pendidikan menjadi sangat bermakna ketika anak didik tahu tentang lingkungan dan lingkungan menyambut baik tentang proses pengetahuan sebagai wujud perubahan sosial.

Terakhir adalah sekolah, sekolah jangan hanya mengajarkan sesuatu hanya bersifat materialistik atau economically productive, kalau hal ini yang diajarkan maka kedepan peserta didik akan menjadi manusia yang individualis dan apatis terhadap lingkunga. Kedaan sosial saat ini atau sering orang sebagai kondisi global dengan peran serta tinggi yang mendominasi aktifitas manusia, maka guru dituntut untuk lebih profesional, kreatif dan inovatif dalam memberikan matari pelajaran.

Biar peserta didik kagum kepada guru, karena dianggap guru lebih pintar daripada mainannya (mainan disini adalah smartphon). Tunjangan profesi guru, hendaknya dimanfaatkan untuk pengemangan skills dan pengetahuan, bukan untuk aksesoris, ini menjadi ruang dinas pendidikan untuk melakukan pemantauan terhadap guru-guru yang kurang proaktif dalam pengembangan diri.

Tiga elemen pendidikan tersebut penting untuk saling bersinerga dalam menjaga dan mengembangkan peserta didik supaya pendidikan kabupaten sampang kedepan tambah maju dan profesional. Terlebih lagi saaat ini kita ditantang oleh kondisi sosial yang lebih kompetitif.

*) Penulis adalah Dosen Universitas Madura (UNIRA). Saat ini menjabat sebagai Sekretrais Dewan Pendidikan Sampang.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.