Oleh : Esa Arif As

Menjelang penyelenggaraan Pilkada serentak tahun 2018 mendatang banyak dijumpai berbagai spanduk bergambar para tokoh dengan berbagai gestur serta jargon tertentu. Hal itu dilakukan dalam kerangka memperkenalkan diri kepada halayak dengan penuh tujuan dan maksud. Ada komunikasi verbal dan non verbal yang digunakan dan disebarkan melalui media serta spanduk dan baleho.

Dalam Ilmu komunikasi terdapat siklus tersampaikannya pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media dengan tujuan untuk mempengaruhi sikap dan prilaku komunikan, pesan tersebut bisa dalam bentuk verbal yakni gestur maupun simbol atau pesan non verbal berupa kata-kata maupun jargon. Tentu seluruh pesan tersebut harus sampai kepada komunikan agar tercipta Mutual understanding antara penyampai pesan dan khalayak.

Yang menarik, banyak politikus yang terus melibatkan gestur untuk menyampaikan pesan politik. Memang substansi pesan melalui politisasi gestural ini akan mempengaruhi fikiran (mind) sikap pribadi (self) dan sikap masyarakat secara umum (society). Tetapi dalam ilmu komunikasi, komunikasi nonverbal lebih dapat dipercaya dibandingkan dengan komunikasi verbal. (Anderson, 1999).

Gestur mengandung pesan mendalam meskipun terkadang butuh penjelasan terkait subsansi yang ingin disampaikan dari gestur tersebut. Dalam termenologi gestur, terdapat segudang makna yang bisa diinterpretasi oleh semua orang, sehingga memerlukan garis penjelasan yang utuh dari maksud dan tujuannya agar pemaknaannya sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan.

Pesan gestural tersebut saat ini beredar bertebaran, dikampanyekan, dibranding, disounding, disebar dan dimuat di sejumlah media, baik media konvenaional yakni media massa maupun media sosial. Tentu substansi pesan gestural itu bisa saja sampai dan diterima dengan baik oleh netizen atau justru malah terdistorsi. Kemungkinan-kemungkinan itu perlu mendapatkan respon khusus dari penyampai pesan agar netizen tidak berada dalam ekosistem asumsi yang pada akhirnya mengalir pada saluran persepsi.

Jika netizen sudah berada dalam kebenaran persepsi maka media sosial akan menjadi pabrik informasi perspektif, asumtif dan menjauh dari alur substantif komunikasi gestural tersebut. Sesungguhnya media sosial merupakan sarana untuk komunikasi massa di mana setiap individu saling mempengaruhi. Setiap orang memiliki pengaruh ke sekelilingnya sehingga komunikasi massa melalui media sosial sebagai saluran sangatlah efektif. Maka akan sangat membahayakan kondisi media sosial dalam domain politik yang dibiarkan interaksinya berdasarkan asumsi.

Melalui komunikasi, sesungguhnya orang tengah menyatakan eksistensi diri, memupuk suatu hubungan, menemukan kebahagiaan, menjalani proses kehidupan dan bagian dalam membentuk pemahaman konsepsi diri secara utuh dan terintegrasi sehingga perlu meminimalisir asumsi-asumsi.

Ingatlah bahwa media sosial tidak terlepas dari efek perspektif dan persuasif yang dengan cepat dapat tumbuh. Efek media sosial adalah suatu kesan yang timbul pada pikiran khalayak akibat adanya suatu proses penyampaian pesan melalui media atau alat-alat komunikasi mekanis, mempengaruhi cara pandang dan sikap dari penerima pesan, sehingga terjadi perubahan pada pengetahuan, sikap, emosi, atau tingkahlaku setiap individu atau seseorang yang mengkonsumsi media tersebut sebagai hasil dari paparan media massa ataupun media sosial yang dilakukan secara terus-menerus (Straubhaar et al., 2011).

Selain mengandung pesan, gestur yang digunakan sebagai simbol gerakan politik juga berfungsi sebagai identitas kelompok. Kuatnya simbol yang dibangun oleh sebuah kelompok mempunyai sejumlah dampak, baik dampak positif maupun negatif.

Dampak positifnya yakni memudahkan publik untuk mengetahui sebuah kelompok atau person, sebagai penanda basis dukungan, memudahkan pemetaan kekuatan dukungan. Tetapi dampak negatifnya yakni memudahkan lawan untuk membaca kekuatan sebuah kelompok, penggunaan gestur oleh lawan sebagai legalitas terhadap tindakan negatif sehingga mempunyai dampak destruktif terhadap citra pemilik gestur.

Tentu kita masih belum lupa dengan gestur fasis Adolf Hitler yang sangat melegenda dan menakutkan, bahkan gestur tersebut menjadi simbol kekuatan hingga pada akhirnya menjadi gestur paling dilarang sepanjang sejarah eropa bahkan dunia.

Pada masa jayanya, gestur fasis Hitler menjadi sebuah simbol kekuatan yang sangat menakutkan, sebuah gestur politik yang menggambarkan keakbaran, kengerian dan membuat takut lawan-lawannya. Tetapi pada akhir cerita simbol tersebut justru menjadi kelemahan dan label kekelaman sejarah yang terus disandangkan kepada pasukan Nazinya Hitler.

Menariknya, dalam kontestasi politik kekinian, politik selalu bermain ditingkatan simbol, gestur serta jargon untuk menggerakkan arus perspektif, sehingga mempengaruhi pola fikir pemilih dengan harapan tingginya popularitas dan berujung pada elektabilitas.

Tetapi teori tentang tingginya popularitas akan sebanding dengan elektabilitas telah terbantahkan. Terbukti pada penyelenggaraan Pilgub DKI Jakarta, di mana popularitas Ahok yang mencapai 99,1 persen tidak sebanding dengan elektabilitasnya, bahkan pasangan Ahok-Djarot kalah telah dari Anies-Sandi dengan angka yang sangat mencolok, bahkan mencapai angka 15%.

Politik memang penuh drama dan kita tinggal menunggu apakah politisasi gestur akan sangat efektif untuk membawa kemenangan atau justru membawa kekalahan.

* Penulis adalah pengamat sosial, dan merupakan mahasiswa magister ilmu komunikasi universitas dr Soetomo Surabaya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.