Oleh Esa Arif As*

Penemu Filsafat sejarah dan pelopor sosiologi Giovanni Battista Vico (1668-1744) dalam bukunya La Scienza Nouva (1725) menguraikan, faktor yang tetap dalam sejarah adalah kehidupan sebuah bangsa, kehidupan bangsa dikuasai oleh hukum negara, hukum alam yang umum dan berkembang secara terus-menerus bersama sifat masyarakatnya.

Seperti yang ditulis dalam buku Sosiologi karya J. Bierens de Haan terjemahan Adnan Sjamni (1962) diuraikan bahwa peran individu maupun secara kelompok dalam suatu masyarakat menuju sebuah peradaban bergerak secara melingkar, dari tingkat primitif ke tingkat pertumbuhan rohaniah dan kemasyarakatan yang lebih tinggi, jika tercapai sebuah kemajuan maka perubahan terus berlangsung dan mundur ke arah primitif dan dari sinilah bergerak menuju kemajuan baru, siklus ini yang terus berputar hingga saat ini.

Ilmu Pengetahuan

Sejarah ilmu pengetahuan manusia dimulai sejak jaman yunani kuno yakni mengacu pada kebudayaan Minos-Misena. Zaman itu merupakan inspirasi untuk perekaan mitos-mitos Yunani yang kemudian pudar pada masa Perang Troya pada tahun 1200 Sebelum Masehi.

Ilmu pengetahuan merupakan hal penting dalam kemajuan peradaban manusia dan mengalami kemajuan sejak ditemukannya filsafat yang bersifat umum pada tahun 300 masehi. Tidak sampai di situ, ilmu terus berkembang hingga pada abad ke-17 lahirlah ilmu pengetahuan alam, abad ke-18 lahir ilmu ekonomi, abad ke-19 lahir ilmu sosial dan ilmu-ilmu lain sesuai dengan kondisi yang berkembang saat itu.

Fenomena-fenomena sosial dan politik di tengah-tengah masyarakat modern ini sudah terjadi di masa lampau, isu tentang pemisahan agama dan negara tentu menjadi perbincangan panas dan salah-satu yang paling menunjol di masa itu.

Berangkat dari pemikiran Plato (429-347) dalam bukunya Politeia yang membahas tentang bangunan sistem sebuah negara. Dilanjutkan oleh Aristoteles (384-322) yang menguraikan tentang susunan sistem sebuah negara. Pada abad pertengan muncul pertentangan tentang pemisahan kerajaan dengan gereja, dimana dominasi gereja sangatlah besar pada abad itu.

Dalam konteks filsafat, pada abad tersebut memasuki masa tasawuf dan scholastik. Dalam pemahaman filosuf scholastik yakni Thomas Dari Aquino (1225-1274) mengartikan bahwa tujuan negara memang hanya sebatas duniawiah, sedangkan tujuan manusia ialah mendapatkan keridaan tuhan. Tetapi negara harus tunduk kepada gereja dalam arti kekuasaan duniawi harus tunduk kepada kekuasaan rohani dan keduanya harus berjalan seiring.

Sementara pemikiran itu ditentang oleh filosuf lain, seperti yang diungkapkan oleh Dante (1265-1321), kerajaan duniawi terlebih dahulu ada dalam sejarah, sehingga menurutnya gereja dan negara haruslah hidup sendiri-sendiri dan hidup berdampingan saja untuk menciptakan pertahanan bagi kekuasaan raja.

Perdebatan itu terus saja berulang dari masa ke masa, dari generasi ke genarasi di setiap pembentukan sebuah kekuasaan. Di negara kita tercinta ini, perdebatan tentang pemisahan agama dan negara itu sudah tuntas dibahas pada era awal kemerdekaan yang akhirnya semua pihak bersepakat mengambil jalan tengah dan menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara, yang tidak paham sejarah akan terus berdebat tentang ini sampai waktu yang entah. Tetapi begitulah saat kemajuan berada di puncak maka kita akan terus bergerak ke arah kemunduran dan itulah yang sedang terjadi.

Kemajuan peradaban manusia hingga mencapai puncak yang saat ini tengah dalam euforia, yakni kemajuan di berbagai aspek, baik tekhnologi, ekonomi, politik, persenjataan dan berbagai bidang lainnya sudah diprediksi oleh Giovanni Battista Vico (1668-1744). Dari puncak kemajuan ini akan terus bergerak kearah kemunduran, lantaran prilaku manusia moderen dalam penggunaan dan pemanfaatan kemajuan itu mulai bergeser kearah yang bersinggungan dan mulai tak berputar pada porosnya.

Perang
Perang menjadi salah satu penyebab kehancuran peradaban manusia sejak jaman Yunani Kuno, mulai perang Troya 1200 Sebelum Masehi hingga sejumlah perang dalam invasi perluasan kekuasaan pada masa itu. Perang juga terus mewarnai perjalanan pembentukan kerajaan-kerajaan di berbagai negara di Eropa. Peperangan juga terjadi di masa kejayaan Islam hingga pada puncaknya umat Islam kalah dalam perang salib (Crusades), peristiwa-peristiwa tersebut telah memenuhi lembaran demi lembaran sejarah kelam manusia, termasuk perang-perang yang terjadi menjelang abad 21.

Dalam setiap peperangan tentu ada efek besar bagi peradaban manusia, bahkan kehancuran yang tercipta akan terasa dalam rentan waktu yang tidak terkira. Perubahan sosial yang tercipta pascapeperangan akan membentuk sosio kultur baru meskipun hidup dalam trauma yang panjang. Begitupun di kehidupan sosial selanjutnya, peperangan demi peperangan bukan tidak mungkin berulang meskipun dalam skala kecil hingga skala yang tidak bisa tergambarkan.

Dalam sejarahnya, sejumlah peperangan besar telah mewarnai laju waktu dan perputaran bumi ini. Seperti Perang penekalukkan kota  Konstantinopel, perang salib (Crusades) yang merupakan perang penaklukan kota Yerusalem Palestina pada (1096–1099). Selain itu di Eropa pernah terjadi perang Napoleon Bonaparte di Perancis dari 1799 hingga 1815. Perang dunia 1 dari 28 Juli 1914 hingga 11 November 1918. Perang dunia ke 2 yang berlangsung dari tanggal 1 September 1939 hingga 14 Agustus 1945. Perang Israel Palestina yang dimulai sejak tahun 1948 bahkan hingga kini perang ini tidak kunjung selesai.

Terlepas dari sejarah panjang peperangan itu, jika pada abad ini kembali terjadi peperangan antar negara-negara besar dengan sistem persenjataan modern, yang kerap bersinggungan secara politik selama ini, tidak akan menimbulkan efek traumatik seperti perang sebelumnya, dapat dipastikan penduduk dunia modern ini tidak akan mengalami trauma, mungkin hanya kepunahan yang ada. Sebab perang di era modern dalam peradaban manusia ini merupakan titik kulminasi kemajuan ilmu pengatahuan dalam bidang persenjataan yakni nuklir, dampaknya hanya kehancuran bumi dan mungkin dunia ini.

* Penulis adalah Mahasiswa S2 Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Dr. Soetomo Surabaya. Aktif menjadi pemerhati sosial.

Tinggalkan Balasan