Kasus Kekerasan Jurnalis Belum Tuntas, AJP Kembali Datangi Polres Pamekasan

Advertisement

Pamekasan, (Media Madura) – Sekelompok jurnalis yang mengatasnamakan Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) mendatangi Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Senin (27/9/2021).

Kedatangan mereka meminta polisi untuk segera menuntaskan kasus kekerasan pada Fathur Rosi, wartawan televisi nasional yang terjadi pada Oktober 2020 lalu saat liputan penutupan tempat wisata.

Ketua AJP Miftahul Arifin meminta polisi segera memproses hukum pelaku kekerasan pada wartawan itu, jika pelakunya tidak ditemukan maka Koordinator Lapangan (Koorlap) harus bertanggung jawab.

Ipin sapaan akrabnya Miftahul Arifin menambahkan, alat kelengkapan yang digunakan polisi tentunya lebih canggih, sehingga untuk menemukan pelaku sangat bisa, apalagi ada foto dengan ciri-ciri rambut panjang sebagai alat bukti awal.

“Alat Polisi sangat canggih, mustahil tidak akan menemukan pelaku itu. Kalau memang sangat kesulitan Koorlap segera di proses sebagai penanggung jawab pada aksi penutupan wisata itu,” tambahnya.

Moh Zuhri penasehat AJP mengatakan, polisi harus tidak pandang bulu dalam menegakkan keadilan. Apalagi kekerasan hal ini dialami oleh mitranya sendiri.

“Saya minta Polisi segera mungkin menyelesaikan hal ini, masak sudah ganti dua kali Kasat masih tidak ada kejelasan,” tuturnya.

Sementara Kasatreskrim Polres Pamekasan, AKP Tomy Prambana menyatakan, akan segera menindaklanjuti kasus tersebut. Pihaknya akan segera berkoodinasi dengan bawahannya.

“Saya masih baru disini (Polres Pamekasan), dan saya janji akan segera menindaklanjuti berkas-berkas itu,” katanya.

Sebelumnya, Rosi seorang wartawan televisi nasional, yang melakukan peliputan demo penutupan Wisata Bukit Bintang yang terletak di Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan pada Senin (05/10/2020) pagi mengalami kekerasan fisik.

Awalnya massa berkumpul di lokasi wisata Bukit Bintang untuk demo mendesak penutupan lokasi wisata tersebut. Unjuk rasa itu dijaga sejumlah aparat dari Polsek Palengaan dan Koramil setempat. Peserta aksi sempat membakar dua fasilitas di lokasi wisata itu.

Wartawan tersebut hendak mengambil gambar dengan mengambil posisi di bagian bawah agar baliho nama obyek wisata terekam sebagai latar belakang gambar. Di tempat pengambilan gambar itu awalnya sepi karena massa terkonsentrasi di bagian utama lokasi wisata.

“Tiba-tiba, seorang yang mengaku bagian dari pengunjuk rasa mendekati saya dan membentak sambil berusaha merampas kamera saya,” kata Fathur Rosi.

Dikatakan Rosi, sapaan akrabnya, bahwa ia telah menjelaskan bawah wartawan yang sedang bertugas.

“Tapi penjelasan itu tidak dihiraukan dan tangan saya ditarik dengan kasar untuk merampas kamera. Beberapa orang, sekitar lima oramg, juga datang dan berupaya menarik tangan saya,” jelasnya.

Bahkan, kata Rosi, sekitar 5 orang oknum dari pendemo ini menarik baju, menjambak rambut dan memukul bagian belakang kepalanya. Beruntung dua orang anggota Polsek dan Koramil serta rekan wartawan lainnya berusaha mengamankan wartawan yang sedang mengalami kekerasan ini.

Setelah dibawa ke tempat yang aman, seorang oknum pengunjuk rasa mendekati dan meminta kartu pers Rosi, tetapi tidak diberikan karena khawatir kartu pers tersebut dirampas.

Penulis: Ahmad Rifqi /Editor: Zainol

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here