Jamu dan Perempuan Perkasa di Madura

Advertisement

Bangkalan (Media Madura) – Budaya Madura yang patriarkhis menempatkan perempuan Madura di bawah kekuasaan laki-laki. Hal ini tergambar dalam ungkapan “Bu ppa’, Babu’, Guru, Rato (ayah, ibu, guru, dan pemerintah)”. Terlihat jelas dari ungkapan ini betapa kedudukan laki -laki lebih tinggi dibandingkan perempuan seperti terwujud dalam posisi sebagai ayah, guru, dan pemerintah.

Kedudukan sebagai ibu pun hanya di tempatkan setelah ayah. Posisi yang lebih rendah ini juga terlihat dalam ritus daur hidup perempuan. Dalam ritus daur hidup tersebut perempuan mendapat banyak larangan karena siklus pertumbuhan dan perkembangannya (menstruasi).

Hasil penelitian mahasiswa Mutmainnah dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya ( FISIB), Universitas Trunojoyo, Madura ini menyebutkan, perempuan diibaratkan sebagai gelas yang mudah pecah. Artinya, kalau dirawat dia akan bagus tapi kalau tidak dirawat akan sulit mendapat jodoh. Dengan sendirinya, penggunaan jamu itu mengikuti siklus pertumbuhan dan perkembangannya. Misalnya, saat haid diberi minum jemo bengkes, jemo paka’, jemo saningrom supaya organ vitalnya harum dan rapat.

Saat akan menikah diberi minum jamu: jemo paraban, jemo paka’ agar vaginanya tidak basah. Saat mengandung minum jemo cellep (dingin) supaya kandungannya kuat, membantu pertumbuhan janin dan metabolisme darah lancar agar memudahkan persalinan. Setelah melahirkan, perempuan diharuskan minum jemo babajhe untuk memperlancar air susu, jemo ronronan, jemo pakak, jemo latek untuk mengembalikan kondisi seperti perawan serta menggunakan parem bebe (beras, jahe, masoji, merica, air cuka) yang dioleskan ke bagian perut ke bawah dan bedak tabur yang dioleskan ke bagian wajah. Di sisi lain, laki-laki saat memasuki puber diberi minum jemo lanceng dan pada saat menikah diberi minum jemo anga’.

Dalam perkembangannya kemudian, relasi laki-laki dan perempuan yang timpang itu
pada akhirnya menentukan interaksi dalam kehidupan rumah tangga. Relasi laki -laki dan perempuan kemudian berubah menjadi suami istri yang sarat makna sosial. Laki -laki berperan di luar rumah sebagai kepala rumah tangga dan berfungsi sebagai pencari nafkah utama sementara perempuan lebih banyak aktif di dalam rumah.

Meskipun membantu suami di luar rumah, peran perempuan tetap dianggap sebagai peran sekunder yang bertugas membantu suami sebagai 5 pencari nafkah utama. Demikian pula, meskipun perempuan akhirnya menjadi pencari nafkah utama, kedudukannya tetap di bawah laki -laki. Artinya, pemegang kekuasaan dan penentu keputusan tetap terletak di tangan suami.

Fenomena bahwa peran perempuan Madura tidak hanya terbatas di sektor domestik
sudah lama menjadi pengetahuan umum sebagaimana menjadi rahasia umum pula bahwa banyak laki-laki di Jawa Timur berpoligami dengan menikahi perempuan Madura dengan hanya memberinya sebuah mesin jahit. Kerapkali terbukti keluarga kecil itu dapat hidup hanya dengan menggantungkan diri pada penghasilan sebagai penjahit. Ketika suami memilih berpoligami, sang anak tetap dapat hidup dari penghasilan ibunya yang bekerja sebagai penjahit.

Peran perempuan Madura yang aktif baik dalam sektor domestik maupun publik pada
gilirannya membawa konsekuensi logis pada pemanfaatan jamu Madura, salah satunya seperti di Kabupaten Bangkalan.

Pemanfaatan Jamu Madura
Perempuan Madura umumnya mengkonsumsi jamu sejak remaja, sejak menikah, bahkan ada yang mengaku sejak lahir. Rata-rata mereka minum jamu 2-3 kali seminggu, dengan jenis jamu seperti Jemo Bengkes, Galian Rapet, Galian Singset, Awet Ayu, Sehat Wanita, Sehat Alami, Ramuan Madura, Idaman, Sari Asmara, Rapet Wangi, Pegal Linu, Alergi Pernapasan, Hemaviton Cair, dan jamu Madura seduhan baik buatan sendiri maupun yang dijual di kios-kios jamu.

Umumnya tujuan minum jamu perempuan Madura ini untuk menjaga kesehatan badan, agar tubuh tetap bugar, fit, dan tidak loyo, disamping menjaga keharmonisan hubungan rumah tangga mereka. “Suami tidak pernah komplain, tidak pernah mengeluh dan oleh karena itu mendukung tindakan istri untuk terus minum jamu. Sudah tahu sama tahu, oleh karena itulah mereka sama-sama minum jamu untuk sama -sama mencapai kepuasan hubungan meski bila dibandingkan dengan istri, lebih banyak istri yang minum jamu dan juga lebih sering,” demikian kutipan wawancara seperti dilaporkan peneliti ini.

Sebagian perempuan Madura juga mengaku, jamu penting untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Sebab bagi mereka, keharmonisan rumah tangga tidak semata-mata ditentukan oleh kecantikan dan keindahan tubuh serta hubungan suami istri namun juga banyak faktor lain misalnya hubungan yang baik dengan suami dan keluarganya dan juga yang tak kalah pentingnya adalah dapat membantu suami mencukupi ekonomi keluarga. Semua faktor ini akan membuat suami senang dan enggan berpaling kepada wanita lain.
Dari serangkaian penelitian yang dilakukan Mutaminnah tentang kebiasaan wanita Madura minum jamu ini, setidaknya tersimpulkan beberapa hal.

Pertama, wanita Madura lebih banyak minum jamu dibandingkan laki-laki Madura
karena kebiasaan minum jamu erat kaitannya dengan siklus reproduksi mereka sejak menstruasi hingga melahirkan. Oleh karena siklus reproduksi perempuan lebih banyak dari pada laki-laki sejak menstruasi hingga melahirkan anak maka merekalah yang dituntut untuk lebih banyak minum jamu.

Kedua, minum jamu dilakukan sejak remaja namun lebih banyak dilakukan ketika
menikah. Ini menunjukkan eratnya kaitan antara minum jamu dengan upaya untuk mencapai keharmonisan keluarga. Sebagaimana dikemukakan informan, minum jamu bermanfaat untuk menjaga keharmonisan hubunga n suami istri.

Ketiga, terdapat kaitan antara upaya mencapai kesehatan tubuh melalui minum jamu
dengan peran perempuan Madura di sektor domestik dan publik. Dengan minum jamu secara teratur, mereka dapat menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh sehingga dapat melaksanakan perannya dengan baik di sektor domestik dan publik.

Keempat, minum jamu Madura bukan semata -mata untuk menjaga keutuhan keluarga
karena banyak faktor lain yang dapat mendukung usaha tersebut antara lain dengan membantu suami mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Kemampuan istri untuk membantu perekonomian keluarga juga ditunjang oleh kebiasaannya minum jamu.

Kelima, penelitian tentang pemanfaatan jamu bagi ibu rumah tangga di Madura
menunjukkan fenomena yang berbeda dengan yang diyakini seca ra umum bahwa jamu
dimanfaatkan terutama untuk kepuasan hubungan suami istri. Kenyataannya, jamu Madura lebih banyak dimanfaatkan sebagai ”jamu kuat” untuk mendukung peran perempuan Madura di sektor domestik dan publik.

Pemanfaatan jamu Madura yang lebih banyak dilakukan oleh perempuan, tidak lain
merupakan konsekuensi budaya patriarkhi, disamping tuntutan kaum perempuan Madura untuk membantu suaminya di sektor publik, sehingga harus ditunjang oleh badan yang sehat, dan dirasa perlu untuk minum jamu. (MM/ Hasil Penelitian tentang Pemanfaatn Jamu bagi perempuan Madura)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.