Buka Sejak 1987, Warung Pak Soleh Tak Goyah Karena Pandemi

    Mohammad Solehoddin (64) pemilik warung yang terletak di Jalan Brawijaya, Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur / Mediamadura.com - Esa Arif

    Pamekasan (Media Madura) – Warung Pak Soleh, begitu para penikmat kopi di warung berukuran 2×8 meter yang terletak di Jalan Brawijaya, Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur ini menyebutnya. Didirikan sejak tahun 1987 dan hingga saat ini tetap eksis. Bahkan di tengah pandemi covid-19 warung ini tetap bertahan.

    Mohammad Solehoddin (64) pemilik warung ini menceritakan, awalnya warung ini didirikan dengan ukuran 2 x2 meter, dengan pelanggan rata-rata mahasiswa. Sebab tepat di depan warungnya merupakan kampus STAIN Pamekasan (Saat ini menjadi kantor pelayanan Haji Terpadu Kemenag Pamekasan).

    “Dulu yang ngopi di sini cuma mahasiswa, tetapi sekarang sudah dari berbagai kalangan,” katanya kepada media ini. Kamis (05/11/2020) siang.

    Pada awal berdiri, yakni 33 tahun lalu harga kopinya hanya Rp 500 dan saat ini sudah naik menjadi Rp 3000. Jenis kopi yang dijual juga sudah beragam, mulai kopi hitam, kopi jahe, kopi susu dan juga disediakan Mie Telur, telur rebus, gorengan, kerupuk dan juga rokok eceran.

    Pak Soleh beralasan, ia tetap tidak menaiikkan harga kopinya meskipun di tengah pandemi. Padahal para pelanggan di warung ini dari berbagai profesi, mulai aktivis mahasiswa, jurnalis, politikus, pejabat pemerintah mulai Bupati, kepala dinas, kepala desa, pengusaha, anggota TNI dan Polri bahkan abang becak.

    Wajar apabila kendaraan pelanggan di warung ini banyak beroda empat. Dan parkiran mobil memanjang di jalan Brawijaya tersebut. “Harganya ya tetap tidak saya naikkan, tetap Rp 3000 saja,” katanya.

    Berbeda dengan pedagang kopi pada umumnya, Pak Soleh begitu ia biasa dipanggil, memang mengutamakan aroma dan kualitas air mendidih alami. Oleh karenanya ia merebus air dengan kayu bakar bukan dengan kompor gas, ataupun minyak tanah.

    “Kalau masak menggunakan gas, aromanya berbeda. Makanya khusus untuk membuat kopi ini, saya sengaja tidak menggunakan kompor, tetapi pakai kayu,” paparnya.

    Selain pola pembuatan yang memang tradisional, kenikmatan kopi Pak Saleh juga karena dicampur jahe, dengan cara mencampur kopi dan gula yang cukup terukur, sehingga rasanya sangat khas.

    Di awal pandemi covid-19, kata dia, saat hampir seluruh warung kopi di Kabupaten Pamekasan tutup, warung ini tetap buka meskipun waktunya dikurangi dan tetap memperhatikan protokol covid-19.

    Jika sebelum pandemi warungnya buka dari pukul 07-00 hingga 23.00 WIB, pada awal Pandemi hanya buka siang saja. Hal itu atas permintaan pelanggannya khususnya jurnalis yang biasa nongkrong di warung ini. “Kalau sekarang sudah buka seperti biasa,” timpalnya.

    Di warung ini, kata ayah 5 anak ini, juga disediakan tempat cuci tangan untuk pengunjung. Bahkan petugas dari satgas Covid-19 juga sering melakukan penyemprotan disinfektan.

    Pak Soleh sangat bersyukur karena di tengah banyaknya warung kopi yang gulung tikar akibat pandemi covid-19, warung miliknya tetap bertahan dan pelanggannya tetap setia, sebab ia berkomitmen untuk tetap menjaga kualitas dan aroma dalam menyeduh kopinya.

    Ghozi Imaz, yang merupakan pelanggan tetap warung ini menuturkan, ia sudah lama menjadi penikmat kopi di warung kecil ini. Selain karena aroma kopinya yang khas, di warung ini juga tempat untuk berdiskusi tentang berbagai hal, termasuk tentang kondisi Pamekasan.

    Selain itu, kata pria yang merupakan jurnalis senior ini, warung ini menjadi tempat sejumlah wartawan berkumpul baik sebelum maupun sesudah liputan.

    “Kopinya memang enak, sangat khas, apalagi di sini menjadi tempat teman-teman berkumpul dan berdiskusi,” katanya.

    Dikatakan Ghozi, di Kabupaten Pamekasan banyak bermunculan kafe, tetapi ia tetap memilih warung kecil tersebut karena memang terlanjur nyaman.

    Berdasarkan data Disperindag Pamekasan, saat ini sudah bermunculan kafe dan resto, bahkan jumlahnya ratusan, tetapi yang tercatat berizin hanya sekitar 30.

    Plt Kepala Disperindag Pamekasan Nurul Widyastutik menegaskan, saat ini hanya 30 kafe dan Resto yang berizin, sementara kafe lainnya masih belum dan ada yang sudah dalam proses.

    Nama-nama 30 kafe dan Resto tersebut yakni Mukerenz, OTW, Gloss, Legenda, Cozy, Mark Us, Melati, D’Hoja, Insomnia, Three Five, Bani, D’Almuna, Kunyah-kunyah, Wiraraja, Joko Kendhil, Andayani, Daun Bambu, Kedai Garasi, Kedai Anglo, Cota, Singga Batu, Nirwana, Savori, Manifesco, Kongkow, Cafe’ Biru, Loka Cafe’, Grand Cafe’ dan Anita Cafe.

    Reporter : Arif
    Editor : Zainol

    Tinggalkan Balasan

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.