Media Madura – Sejak kemunculannya pada Desember 2019 lalu di China, virus Corona kini telah menjadi Pandemi. Bahkan virus ini telah menyasar 199 negara dengan jumlah kasus sebanyak 597.267, jumlah pasien yang sembuh tercatat sebanyak 132.526 orang dan meninggal dunia sebanyak 27.215 orang, pertanggal 28 Maret 2020.

Sebelum kemunculan kasus di Indonesia, pada 2 Februari lalu, sebanyak 285 warga negara Indonesia (WNI) dijemput dari China dan dikarantina di Natuna. Setelah dinyatakan sembuh para WNI ini akhirnya dipulangkan.

Selang beberapa hari kemudian, Pemerintah juga menjemput 68 WNI yang menjadi kru kapal Diamond Princess, dan menjalani karantina selama 28 hari di Pulau Sebaru, Kepulauan Seribu.

Awalnya pemerintah Indonesia sangat percaya diri bahwa virus corona ini tidak akan sampai ke negara dengan penduduk nomor 4 terbanyak di dunia ini. Bahkan WHO heran karena negara tetangga Indonesia sudah ada laporan kasus, tetapi di Indonesia masih tidak ada.

Bahkan pada tanggal 26 Pebruari 2020, pemerintah justru membuat kebijakan yang mencengangkan, diskon tiket pesawat ke sejumlah lokasi wisata hingga mencapai 50%.

Pada tanggal 1 Maret, Menko Polhukam Mahfud MD mempertegas bahwa virus corona tidak ada di Indonesia atau zero case.

Tetapi keesokan harinya, tepatnya pada tanggal 2 Maret, Presiden Jokowi justru mengumumkan bahwa ada dua warga Indonesia yang dinyatakan positif terjangkit virus Corona.

Kabar baiknya, saat itu orang nomor satu di Republik Indonesia ini memastikan bahwa Indonesia mempunyai lebih dari 100 rumah sakit dengan standar isolasi baik untuk penanganan penderita Covid-19.

Saat itu juga pemerintah juga melakukan langkah dengan manfaatkan 2 penderita covid-19 untuk membuat vaksin. Tetapi justru pemerintah impor obat dari China yakni obat bernama Avigan dan Klorokuin.

Bahkan, pemerintah juga harus menerima bantuan logistik kesehatan dari China yang dijemput ke Bandara Pudong, Shanghai, dengan menggunakan pesawat Hercules C310 TNI Angkatan Udara. Berat logistik tersebut mencapai 12 ton.

Pada tanggal 2 Maret Pemprov DKI mempublikasi Jakarta Tanggap Covid-19. Disusul Jabar, Jateng dan Jatim. Setelahnya provinsi lainnya menyusul mengumumkan situasi darurat.

Provinsi Jawa Timur sendiri, pada tanggal 15 Maret membuat sejumlah kebijakan. Salah satunya merubah sistem pembelajaran di sekolah tatap muka menjadi jarak jauh. Dan maklumat Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa itu diikuti oleh kabupaten/kota di Jatim. Termasuk 4 kabupaten di Madura.

Keesokan harinya, tepatnya 16 Maret, Pemkab Pamekasan juga membuat sejumlah kebijakan terkait langkah pencegahan virus ini, termasuk membentuk satgas Covid-19.

Dalam catatan mediamadura.com, pada tanggal 20 Maret, di Pamekasan jumlah ODP masih 0. Tetapi pada 21 Maret ODP sudah 1 orang.

Yang mencengangkan, keesokan harinya tepatnya pada 22 Maret, di Pamekasan jumlah ODP sudah 34 orang dan PDP 1 orang.

Pada 23 Maret jumlah ODP sempat turun menjadi 22 orang dan PDP 1. Tetapi pada 25 Maret jumlah ODP naik drastis menjadi 59 dan PDP 1 orang. Tanggal 26 Maret ODP sebanyak 78 orang, PDP 1 dan pada 27 Maret ODP berjumlah 85 orang dan PDP 1 orang.

Bahkan yang terbaru, 28 Maret jumlah ODR di Pamekasan mencapai 1.923 orang, ODP 101 orang dan PDP 1 orang. Kabar baiknya tidak ada kasus positif covid-19 (Zero Case).

Hingga saat ini, yakni 28 Maret total penderita positif Covid-19 di Indonesia mencapai 1.155 orang, meninggal 102 orang dan sembuh hanyak 59 orang.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.