Kota Cinema Mall, Solusi Pascademontrasi


Oleh : Moh Faridi

Isu-isu penolakan sudah biasa dipertontonkan di Kabupaten Pamekasan, bahwa Pamekasan termasuk kabupaten paling ramai nomor 2 se-Indonesia perihal demonstrasi yang berisi penolakan-penolakan. Namun menjadi tidak biasa dalam demontrasi disertai aksi provokasi, umpatan, yang keluar dari batas-batas kepatutan serta adat ketimuran yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Madura, khususnya masyarakat Pamekasan.

Kondisi ini menjadi sangat menakutkan, sebagaimana dijelaskan oleh Friedrich Ratzel dalam teori ruang (lebensraum), ia menjabarkan bahwa setiap kolonialisme pasti berawal dari tindakan ingin menguasai, menduduki dan jika tidak mampu maka pilihan terakhirnya adalah menghancurkan.

Aroma pilihan terakhir dari teori ruang yaitu menghancurkan, begitu terasa dalam demontrasi penolakan Kota Cinema Mall di Kabupaten Pamekasan, terbukti pilihan-pilihan diksi dalam orasi para demontsran berkutat pada diksi “Bakar”, “jika Bupati tidak menutup kota cinema Mall, maka penyelesaiannya saya pasrahkan pada massa” dan demontrasi tersebut ditutup dengan kalimat “mon bupati paggun maksah, sengak demo selanjutnya ngibeh perreng se meli (kalo Bupati tidak menutup cinema mall, demo selanjutnya bawa bambu yang keras)”.

Pilihan-pilihan diksi tersebut merepresentadikan tindakan anarkisme sebagai sebuah solusi atas keberadaan kota cinema mall, sehingga wajar jika Sulaisi Abdur Razaq mengkritik demontstrasi tersebut dalam opininya sebagai sebuah pengrusakan nilai-nilai agama dan budaya Madura, padahal Islam rahmatal lil alamin selalu menyediakan win-win solution atas segala persoalan yang di hadapi manusia.

Paradok Nilai Islam

Islam sebagai agama keselamatan, menawarkan nilai-nilai solutif atas segala persoalan manusia. tidak ada satupun persoalan manusia yang tidak dibahas dalam Islam, termasuk persoalan hiburan, kemaksiatan dan cara mengkritisi hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. semua hal tersebut dikupas tuntas oleh Islam bagi mereka yang mau mempelajari secara mendalam. Namun, akhir-akhir ini keluasan dan kesempurnaan nilai Islam terciderai oleh pola keberagamaan orang-orang Islam itu sendiri, banyak orang-orang islam mempertontonkan nilai-nilai tidak Islami.

Kondisi ini seakan-akan membenarkan pendapat Jhon Naisbit dalam buku Global paradok yang menjelaskan bahwa setiap nilai-nilai kebaikan akan berjalan bareng dengan nilai ketidak-baikan, dari situlah nilai kebaikan akan terkalahkan oleh perilaku-perilaku penganutnya yang tidak baik. Atau seperti yang diungkapkan Mohamed Salah, pesepak bola muslim asal Mesir yang saat ini bermain di Klub Premier League Inggris, Liverpool, bahwa orang di luar Islam tidak akan membaca Alquran dan Hadis, tetapi membaca sikap dan prilaku umat Islam. Sehingga kondisi ini akan memunculkan tafsir-tafsir negatif atas nilai kebaikan disebabkan oleh perilaku penganutnya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebaikan itu sendiri. Jika keadaan seperti ini terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan kehancuran peradaban akan terjadi seperti yang telah ditulis oleh James Canton, Ph.D dalam The Extreme Future.

Tawaran Solusi Persoalan Kota cinema Mall

Tidak ada baiknya membiarkan persoalan ini berlarut-larut, semua lapisan masyarakat dan pemerintah berada pada titik kerugian, hanya dia kaum borjuis yang untung dari kejadian ini, maka menyelesaikan persoalan ini secepat mungkin, merupakan hal yang harus segera dilakukan.

Syarat utama dalan menyelesaikan persoalan ini jika menggunakan study perdamaian (Galtung:2003) yaitu melalui pendekatan diagnosa kesehatan, sebuah pendekatan yang bertolak dari anggapan sebuah masalah sosial persis sama dengan penyakit yang menyerang manusia. Pertama, perlu diagnosa yang tepat untuk melahirkan tindakan pengobatan. Kedua, tindakan pengobatsn dan ketiga, pengawasan lanjutan.

Dalam pendekatan ini, diagnosa menjadi hal yang sangat urgen untuk menyelesaikan persoalan, maka diperlukan sebuah upaya yang disebut dengan democratic conflict governance, yakni menempatkan hubungan antara berbagai aktor dan lembaga dalam ruang politik inklusif yang ditandai oleh aktivtias musyawarah untuk mengimplementasikan kebijakan perdamaian secara menyeluruh, yaitu terciptanya keadilan sosial.

pun demikian yang disampaikan oleh Jurgen Habermas, bahwasanya manusia merupakan makhluk dinamis, sehingga semua persoalan hanya bisa diselesaikan melalui komunikasi yang inten antar pelaku konflik. Mengacu kepada teori tersebut, tidak ada solusi lain dalam menyelesaikan persoalan kota cinema mall selain duduk bareng dalam sebuah musyawarah untuk melahirkan win-win solution dengan menanggalkan kepentingan-kepentingan pelaku konflik menuju kepentingan bersama untuk kebaikan bersama.(*)

*) Penulis adalah ketua satu PC. GP. ANSOR Pamekasan. Aktif sebagai ketua bidang penelitian yayasan Madura institute.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.