Oleh : Esa Arif AS

Awalnya tidak banyak warga Pamekasan dan mungkin Madura yang tahu bahwa ada bioskop yang baru dibangun bernama Kota Cinema Mall. Lokasinya berada di Jalan Raya Sentol, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan. Tetapi pascademo penolakan dari sejumlah orang dengan segala cerita yang terjadi dalam demo itu, kini banyak orang yang tahu dan penasaran.

Penolakan itu didasari pelebelan negatif terhadap bioskop, mulai tempat maksiat hingga narasi negatif lain yang barang kali publik tak mampu melogiskan dasar penolakan tersebut. Maka wajar perbincangan tentang penolakan hadirnya bioskop itu menjadi bahasan paling hangat di media massa (media meanstream) maupun jagad media sosial.

Selama ini, pencinta film di Pamekasan sudah terbiasa menonton film dengan akses internet dari berbagai platform penyedia film. Padahal kita tahu tontonan yang diakses di internet tidak terbatas, dan publik bebas memilih film apa yang akan ditonton, bahkan termasuk film porno. Lagi-lagi tergantung isi otak masing-masing.

Pilhan selanjutnya, pencinta film di Pamekasan biasa pergi ke Surabaya hanya sekedar untuk nonton film di bioskop. Dari pengalaman itulah lalu banyak muncul pertanyaan, di sisi manakah bioskop negatif?. Jikapun negatif seberapa besarkah negatifnya?. Pertanyaan-pertanyaan ini perlu jawaban, sebab pemahaman publik tentang bioskop selama ini tidak sedestruktif itu. Bagi kebanyakan orang bioskop adalah tempat untuk menonton pertunjukan film, tidak lebih dari itu. Apalagi di dalam gedung bioskop terpasang CCTV dan film yang diputar pasti sudah melewati lembaga sensor film.

Bahasa awamnya, kalau bioskop ditolak, kenapa tidak sekalian internet, media sosial dan TV juga ditolak, bukankah itu juga menghadirkan tontonan gambar bergerak yakni film?. Dengan begitu warga Pamekasan mungkin bisa kembali merasakan hidup di era tahun 1945, barang kali di kehidupan seperti itu lebih tentram, lebih bahagia dan lebih tercipta kesalehan sosial.

Respon Publik

Ada sebuah teori dalam ilmu komunikasi yang bernama teori Behaviorisme,
teori ini dikembangkan oleh Jhon B Watson (1878-1958), teori ini menegaskan bahwa selalu ada kaitan antara stimulus dengan respon dari sebuah prilaku. Demo penolakan itu telah menjadi stimulus, lalu direspon oleh publik dengan rasa ingin tahu. Maka wajar jika pada hari pertama dibukanya bioskop Kota Cinema Mall itu penontonnya membludak, mencapai 1.230 orang. Bahkan tiket ludes. Bisa saja itu karena efek branding gratis dari aksi penolakan, sehingga publik tertarik untuk datang ke bioskop baru ini. Meminjam teori gaya Newton, bahwa ada aksi pastilah ada reaksi.

Strategi Bisnis

Dalam teori bisnis, sebuah produk harus dikenal agar konsumen tertarik untuk membeli, maka penting produk itu diiklankan, bahkan terkadang perlu rekayasa sosial dan kontroversial agar publik tahu dengan produk yang akan dijual itu. Adanya penolakan bahkan demo dari ormas Islam terhadap hadirnya bioskop di Pamekasan ini tanpa disadari sesungguhnya telah menjadi iklan gratis yang mampu mempopulerkan Kota Cinema Mall.

Jika kita lihat, saat ini biaya untuk iklan sangatlah mahal, untuk iklan di TV nasional hitungannya per 30 detik sekitar Rp 20 sampai Rp 30 juta, harga itu untuk waktu tayang normal, bukan prime time yakni dari pukul 19.00 hingga 23.00 WIB. Harga iklan pada waktu prime time bisa lebih mahal sampai dua kali lipat dari harga biasanya. Demo yang kontroversial itu telah menjadi mata rantai dalam siklus bisnis, setidaknya di bagian branding yang gratis.

Tetapi celakanya, di sisi yang lain, penolakan hingga demo terhadap pembangunan kota cinema mall yang mampu menyerap tenaga kerja sampai 50 orang itu, serta rentetan gelombang demo yang kerap terjadi di Kabupaten Pamekasan seolah menjadi penegas tentang tidak ramahnya iklim investasi, padahal pemkab setempat sudah sangat keras membranding diri, membangun citra bahwa Pamekasan sangat ramah untuk investasi. Wajar bila investor tak tertarik dan bahkan enggan menanamkan modalnya. Membangun industri padat karya. Karena itulah tidak banyak lapangan pekerjaan, pengangguran produktif tak terpakai, padahal setiap tahun lembaga pendidikan menciptakan ribuan pengangguran baru.

Meskipun begitu, warga Pamekasan tak usah risau urusan rezeki meskipun tak punya pekerjaan. Karena Allah berfirman dalam Alquran surat Asy-Syura Ayat 19, yang artinya “Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang dikehendaki-Nya dan dialah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.

Dari ayat ini kita menjadi tahu, bahwa Allah maha lembut dan maha segalanya, tetapi sering kita menyaksikan manusia sangat kasar dan bahkan melakukan sarkasme. (*)

*) Penulis adalah dosen Ilmu Komunikasi di IAIN Madura. Aktif sebagai peneliti sosial di Madura Insitute.

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.