Siswa di Pamekasan Dibekali Membatik, Kepsek: Lulus Bisa Mandiri

Siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA) Ma’arif I, Desa Terrak tengah asyik membatik

Pamekasan, (Media Madura) – Siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA) Ma’arif I, Desa Terrak, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur dibekali cara membatik.

Hal itu menurut, Kepala SMA Ma’arif I, Abusiri, untuk melestarikan budaya nusantara yang merupakan peninggalan nenek moyang. Selain itu, agar para siswa ketika lulus bisa mandiri.

“Membekali anak-anak dengan keterampilan agar kelak tidak menjadi pengangguran dan bisa berkarya yang menghasilkan uang,” katanya, Rabu (12/2/2020).

Dijelaskan, mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan itu, para siswanya setelah kembali kepada orangtuanya bisa langsung punya aktivitas yang menghasilkan.

“Kalau seumpamanya melanjutkan kuliah kan nanti bisa sambil membatik, uangnya bisa buat bayar SPP dan biaya lainnya. Kalau tidak mau kuliah kan langsung bisa berproduksi seperti tukang batik lainnya,” tambah Busiri sapaan akrab Abusiri.

Di sekolah, para siswa saat jam istirahat memanfaatkan waktu luang untuk membatik. Sedangkan waktu khusus untuk membatik dijadwal pada hari Sabtu, sehabis istirahat hingga waktu pulang. Yang diberi nama waktu Action Class.

“Saat ini dapat orderan seragam batik anak-anak, lumayan kan di sekolah belajar dapat ilmu juga dapat uang,” tutur Busiri.

Para siswa di Rumah Batik Kolor, mendesain atau membuat pola, membatik dengan menjalankan canting malam, pewarnaan, pelorotan, dan penjemuran dilakukan secara mandiri. Guru pendamping, hanya memantau dan mendampingi.

“Proses hingga pemasaran dilakukan oleh siswa, kalau ada, hanya sebagian guru yang membantu mempromosikan, tapi akhirnya tetap dengan siswa karena sudah ada manajemen tersendiri,” urainya.

Soal harga, hasil karya siswa warga Nahdliyyin itu dipatok dengan harga minimal sebesar Rp 70 ribu, sedangkan paling mahal dengan kualitas sangat bagus dipatok sebesar Rp 250 ribu.

“Yang harga standar murni hasil kerja siswa, namun yang harga Rp 250 masih kerjasama dengan pembatik sekitar, karena tergolong agak rumit, tapi desain yang buat siswa,” tutup Pria alumnus Universitas Islam Madura (UIM) itu.

Reporter: Ahmad Rifqi
Editor: Zainol

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.