Bupati Sampang, H. Slamet Junaidi. (Ryan Hariyanto/MM).

Sampang, (Media Madura) – Bupati Sampang H. Slamet Junaidi dibuat berang terkait realiasi droping air bersih untuk wilayah kekeringan. Hingga kini, bantuan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di 67 desa tersebar di 9 kecamatan itu belum terlaksana.

Alasan BPBD yang bertanggungjawab dalam mengatasi bencana kekeringan, droping air bersih belum dilakukan karena masih menunggu SK Bupati.

Padahal, Slamet Junaidi mengaku sudah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Siaga Bencana Kekeringan. Keputusan tersebut dikeluarkan beberapa waktu lalu.

“Sudah kok, kata siapa belum, beberapa hari yang lalu selesai ditandatangani, artinya droping air bersih sudah bisa dilakukan,” ujar Bupati Sampang menyindir Kepala BPBD Anang Djoenaidi, Kamis (11/7/2019).

Dia berharap, wilayah yang terdampak kekeringan bisa segera teratasi dengan bantuan air bersih. Termasuk kekeringan yang melanda di Kecamatan Karang Penang.

“Mudah-mudahan tahun ini segera teratasi seperti di Karang Penang,” kata Slamet.

Sementara Kepala BPBD Anang Djoenaidi, menegaskan belum melakukan droping air karena menunggu SK Bupati. Namun, pihaknya berencana akan segera melakukan droping air bersih.

“Kita usahakan minggu depan droping air, cuman sampai saat ini nunggu SK bupati dulu karena belum selesai, kalau memang sudah selesai pasti diberikan ke saya, informasi dari ajudan belum, coba besok tak cari tahu ke bagian hukum,” singkatnya.

Untuk diketahui, bencana kekeringan yang melanda di Kabupaten Sampang kian meluas. Pada tahun 2018, kekeringam mencapai 42 desa di 12 kecamatan. Sementara 2019, jumlah desa kekeringan mencapai 67 desa di 9 kecamatan.

Meluasnya desa rawan kekeringan disebabkan oleh faktor geografis yakni ketersedian sumber air minim. Di sisi lain, upaya penanganan kekeringan yang dicanangkan Pemkab Sampang seperti pembangunan SPAM dan embung air, belum merata ke semua desa wilayah kekeringan.

Reporter : Ryan Hariyanto
Editor   : Zainol

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.