Abdul Wafi menunjukkan bukti hasil print out buku tabungan Bank BTN berisi saldo fungsional yang hilang, Kamis (8/2/2019). (Ryan Hariyanto/MM). (Ryan Hariyanto/MM).

Sampang, (Media Madura) – Tunjangan profesi guru non PNS di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, bermasalah. Saldo rekening penerima tunjangan fungsional tiba-tiba hilang misterius tanpa melakukan transaksi.

Hal ini menimpa terhadap Yenni Tri Yulianti Anggraini (34). Seorang guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) asal warga Desa Sokobanah Daya, Kecamatan Sokobanah.

Penerima menilai bahwa mereka diduga menjadi korban sasaran kejahatan perbankan bermodus duplikasi data pribadi atau ‘skimming’.

Anehnya, pihak Kemenag Sampang yang bertanggung jawab proses pencairan berdalih hilangnya saldo tunjangan fungsional tersebut lantaran hanya kesalahan sistem.

Abdul Wafi (35) menceritakan, istrinya Yenni, merupakan penerima tunjangan yang diterima secara rapel sebesar Rp 3 juta. Saat akan mengecek ke ATM Bank BTN, ia dibuat kaget. Sebab, belum sempat mencicipi uang hak profesinya itu saldo rekening tunjangan fungsional hilang secara misterius.

“Kaget lihat saldo sudah tidak ada, padahal buku rekening dan ATM masih ditangan kami, waktu itu dicek ke ATM terdekat di Kecamatan Ketapang,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (7/2/2019).

Berbagai upaya dilakukan Yenni agar saldo tunjangan yang hilang tersebut ada titik terang. Guru yang sudah mengajar 12 tahun di MI Roudotul Islam Sokobanah Tengah ini sempat memberitahu ke Kantor Kemenag Sampang.

Termasuk mendatangi langsung Bank BTN. Disana, ia mengeprint buku tabungan untuk mengetahui hasilnya. Ternyata, saldo yang semula berjumlah Rp 3 juta itu sudah dilakukan proses pencairan melalui ATM selama dua kali.

”Yang diambil melalui ATM Minggu (13/1). Pertama dicairkan Rp 1.250.000. Kedua diambil Rp 1,5 juta, gk tahu siapa yang ngambil ini,” paparnya. 

Abdul Wafi meminta Kemenag dan BTN bertanggung jawab atas kejadian tersebut, bukan sebaliknya diminta untuk menunggu dan bersabar tanpa ada kepastian.

“Saya riwa-riwi kesana (Sokobanah) ke Kota sangat jauh, selain menyita waktu dan tenaga juga harus mengeluarkan biaya, lebih baik sibuk mengajar anak madrasah saja,” katanya.

Saat dikonfirmasi Kepala Kemenag Sampang H Juhedi melalu Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) Mawardi, menanggapi dingin atas kejadian itu. Dia hanya berjanji akan segera memproses tunjangan fungsional yang hilang milik Yenni.

“Kita akan cek ke BTN dan segera diproses, mungkin besok karena hari ini (7/2) kepala Bank tidak ditempat,” terang Mawardi ditemui diruangannya.

Dirinya menuturkan, saldo rekening tunjangan milik Yenni yang bermasalah dipastikan karena sistem error. Setelah sempat komunikasi dengan pihak Bank, uang tunjangan di saldo Yenni ternyata diterima oleh guru non PNS asal Kecamatan Sreseh.

“Oh ternyata uang milik Yenni ini masuk atau ketuker sama penerima di Sreseh, nunggu kepala Bank kalau tidak ada persetujuan dari beliau tidak bisa,” tuturnya.

Mawardi mengaku bahwa kejadian seperti itu bukan hanya dialami Yenni, melainkan guru penerima lainnya. Maklum, penerima tunjangan di Sampang mencapai 3 ribu guru non PNS se Kabupaten.

“Sampai saat ini sudah ada tiga orang guru penerima tunjangan bermasalah seperti itu, ada yang ketukar ada juga sampai saldo double, saking banyaknya penerima yang diproses, tapi akhirnya diproses ulang,” pungkasnya.

Reporter : Ryan Hariyanto
Editor : Ist

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.