Ilustrasi

Pamekasan, (Media Madura) – Angka kematiam bayi (AKB) di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur mengalami peningkatan dibanding tahun 2017.

“Tahun ini (2018.red) sepertinya ada peningkatan dibandingkan dengan tahun kemarin. Sekarang dalam proses perekapan,” kata Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan, Bambang Budiyono, Sabtu (12/1/2019).

Faktor penyebab kematian bayi, menurut Bambang, rata-rata karena terlambatnya penanganan medis.

Bambang mencontohkan, seperti warga yang tinggal di daerah dataran tinggi. Selain jarak tempuh ke rumah sakit dan bidan cukup jauh, mereka juga kesulitan akses.

“Seperti di daerah utara, Kecamatan Waru, Pasean, Batumarmar dan daerah lain. Masih ada jalan setapak yang tidak masuk kendaraan roda empat,” tambahnya.

Kendala itu juga menyebabkan ibu hamil mengalami pendarahan bahkan sampai terjadi eklamsi atau keracunan kehamilan. Ditemukan pula, warga enggan memeriksakan kehamilanya. Kasus ini banyak ditemukan pada wanita yang berstatus Tenaga Kerja Wanita (TKW).

“Biasanya TKW datang sudah hamil. Lalu, pergi ke bidan atau dokter saat mau lahir. Kan, itu mempersulit petugas. Sebab riwayat kehamilan sangat penting,” tutur Bambang.

Faktor lain, kematian anak atau bayi mayoritas karena fungsi jantung tidak normal. Seperti lahir dalam kondisi berat badan lahir rendah (BBLR).

“Itu karena si ibu mengidap beberapa penyakit, sehingga berpengaruh pada kesehatan buah hati,” tutup Bambang.

Bambang menambahkan, sedangkan untuk angka kematian ibu (AKI) relatif rendah.

Reporter: Ahmad Rifqi
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.