Pengrajin tengah menganyam tikar dengan bahan daun siwalan yang disebut tikar rakara (foto: Rosy MM)

Sumenep, (Media Madura) – Musim kemarau tahun ini, tampaknya tidak hanya dirasakan manis oleh petani tembakau yang rata-rata menghasilkan tembakau dengan kualitas bagus, sehingga harga pun lumayan baik.

Tetapi, juga dirasakan pengrajin tikar rakara (daun siwalan.red). Pasalnya, harga tikar dalam beberapa hari terakhir naik drastis, bahkan di tingkat pengrajin nyaris tembus Rp 50 ribu per lembar.

Salah satu pengrajin di Dusun Topoar, Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur menuturkan, harga tikar saat ini memang luar biasa mahal. Mahalnya bisa melampaui harga tikar pada tahun 2013 lalu.

“Sekarang memang lagi puncaknya, mas. Naiknya antara empat sampai lima kali lipat dari harga normal yang hanya Rp 10 ribu. Tertinggi ada ada yang menghargai Rp 48 ribu,” kata Shapiya (45) saat ditemui mediamadura.com, Minggu (9/9/2018).

Menurut Shapiya, faktor meroketnya harga tikar saat ini karena harga tembakau musim ini yang lumayan bagus, sehingga dengan permintaan yang sangat tinggi, otomatis harga tikar pun terus naik.

“Kan tikar rakara ini untuk mengemas tembakau rajangan, mas, jadi wajar kalau sekarang mahal, karena tembakau lagi mahal. Naiknya juga berangsur, dari Rp 20 ribu sampai sekarang hampir Rp 50 ribu per lembar untuk ukuran 3 meter,” paparnya.

Sementara pengrajin lain, Fatmawati mengaku bersyukur dengan melambungnya harga tikar rakara. Sebab, diakui, momen seperti ini jarang terjadi. Hanya pernah terjadi sekali sekitar 5 tahun lalu.

“Tentu kami sangat memanfaatkan musim baik ini, dan mudah-mudahan harga masih akan terus berpihak pada kami,” tukasnya singkat.

Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan meruapakan salah satu sentra tikar rakara di Kabupaten Sumenep, selain juga di Desa Poreh, Kecamatan Lenteng dan beberapa desa di Kecamatan Batang-Batang.

Reporter: Rosy
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.