Pamekasan, (Media Madura) – Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur telah menetapkan break even point (BEP) tembakau, yakni sebesar Rp 39 ribu per kilogram tahun 2018.

Meski tergolong cukup tinggi, namun angka BEP itu dinilai belum berpihak kepada kesejahteraan petani tembakau di bumi Gerbang Salam.

Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Pamekasan, H Nasir mengatakan, harga tembakau kering rajangan senilai Rp 39 ribu per kilogram yang ditetapkan oleh pemerintah daerah masih jauh dari harapan para petani.

Sebab, menurutnya, modal yang harus dikeluarkan para petani tembakau setiap musim mengalami pembengkakan, mulai dari biaya tanam, perawatan hingga biaya panen.

“BEP sebesar Rp 39 ribu per kilogram yang ditentukan pemerintah daerah hanya cukup untuk menutup modal petani saja,” katanya, Kamis (31/5).

Seharusnya, imbuh dia, pemerintah daerah bisa mematok harga lebih layak atau setidaknya menyentuh angka Rp 45-50 ribu per kilogram.

“Kalau Rp 45-50 ribu sudah masuk standar,” ungkap H Nasir.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan, Bambang Edy Suprapto mengatakan, pemerintah daerah hanya bisa mematok BEP tembakau tahun ini sebesar Rp 39 ribu per kilogram saja.

Sebab, hal itu sudah berdasarkan pada hitungan biaya produksi yang dikeluarkan petani selama satu musim tanam. Bahkan, Bambang mengklaim, jika BEP terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Tercatat pada tahun 2016 pemerintah menetapkan BEP sebesar Rp32 ribu per kilogram. Kemudian tahun 2017 BEP naik menjadi Rp 34 ribu per kilogram. Artinya, tahun ini BEP hanya naik sebesar Rp 5 ribu.

“Kami sudah mengusahakan, namun pada dasarnya harga tembakau ya tergantung pabrikan juga, karena harga Rp 39 ribu per kilogram itu sudah merupakan hasil pertemuan kami dengan seluruh pabrikan tembakau di Pamekasan,” dalihnya.

Reporter: Zubaidi
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.