Rumah duka di Demangan, dipenuhi ribuan pelayat.

Bangkalan, (Media Madura)- KH Kholilurrohman atau Ra Lilur identik dengan kaus Singlet putih. Kaus itu selalu dikenakan baik menghadiri acara resmi atau sedang menerima tamu. Setelahnya celana pendek selutut warna gelap.

Ternyata, beberapa warga Bangkalan pernah dipinjamkan kaus itu oleh Ra Lilur sendiri. Kini, orang tersebut jadi kepala desa di salah satu desa di Kecamatan kota Bangkalan.

Karena belum meminta izin si kades apakah namanya boleh dimuat. Sebut saja nama si kepala desa dengan inisial SN. Ceritanya, awal 2016 lalu, Bangkalan menggelar Pilkades serentak. SN yang tak punya apa-apa, nekat ikut Pilkades di desanya.

SN mengandalkan metode dor to dor. Dia datangi semua rumah warga satu persatu untuk meminta dukungan ditemani sang istri.

“Karena dor to dor hingga larut malam, saya beberapa kali menginap di rumah warga,” kenang SN.

Yang membuat SN yakin, meski bokek nekat ikut Pilkades. Dia menghabiskan sebagian besar masa mudanya menjadi pelayanan masyarakat. Bila, ada warga meninggal, dia berinisiatif mendatangkan terop dengan mengajak para pemuda.

Di lain waktu, bila ada warga sulit membuat KTP. SN rela berpeluh menguruskannya sampai selesai. Dengan cara itulah, sosok SN dikenal baik oleh masyarakat. SN tak pernah minta upah, dia kadang sering keluar duit sendiri agar keperluan warga selesai.

“Itu modal saya buat maju Pilkades,” ujar dia.

SN menyadari, mustahil tak mengeluarkan duit ikut Pilkades. Dia ingat, total uang yang dia keluarkan selama kampanye hanya 10 juta. Uang itu dibelikan rokok untuk diberikan pada warga yang datang bertamu ke rumahnya.

“Mau money politik gimana, wong waktu hari H pencoblosan, duit di kantong hanya sisa dua ribu perak,”

Sehari, sebelum pencoblosan. SN sowan ke Ra Lilur di Desa Banjar. Ternyata Ra Lilur sangat respek saat SN datang. Setelah menyampaikan bahwa dia ikut Pilkades.

Ra Lilur membuka kaus Singletnya dan berpesan pada SN agar kaus itu dia pakai di hari pemungutan suara. Ra Lilur juga berpesan agar SN berjalan kaki dari rumahnya ke tempat pemungutan suara.

“Waktu pencoblosan saya pakai kaus itu dan saya tutupi jas,” katanya.

Singkatnya SN menang dengan selisih 200an suara dari inkumben.

“Kaus Ra Lilur itu tidak berbau, dan besoknya saya langsung kembalikan tanpa dicuci,” kenang dia.

Penulis : Mukmin Faisal
Editor : Ist

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.