Sidang Perdana Kasus Pembunuhan Guru Budi Digelar Tertutup

Sampang, (Media Madura) – Sidang perdana kasus pembunuhan Ahmad Budi Cahyanto guru seni rupa di SMA Negeri 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, digelar di Pengadilan Negeri Sampang, Senin (19/2/2018).

Sidang dengan terdakwa HI (17) berstatus pelajar itu digelar tertutup dengan penjagaan ketat Polres Sampang.

Agenda sidang perdana adalah pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sidang yang digelar di ruang sidang anak itu, terdakwa didampingi orang tua, penasihat hukum dan petugas dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) setempat.

Jaksa Penuntut Umum, Munarwi mengatakan, pihaknya mendakwa anak tersebut dengan pasal primer 338 KUHP dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 15 tahun subsider pasal 351 ayat 3 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara juncto Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang sistem peradilan anak.   

Ia mengungkapkan, terdakwa melalui penasihat hukumnya tidak melakukan eksepsi atau tidak keberatan terhadap dakwaan itu. Maka sidang akan dilanjutkan dengan menghadirkan saksi-saksi dari pihak sekolah dan keluarga korban. Menurutnya, sidang dengan menghadirkan saksi-saksi itu akan dilaksanakan pada Rabu (21/2/2018) mendatang.

“Nanti saksi dari sekolah itu 11 orang, dari keluarga korban 3 orang,” ucapnya.

Kepala Bagian Humas Pengadilan Negeri Sampang I Gede Perwata, mengungkapkan sidang digelar tertutup karena kasus ini merupakan kasus yang melibatkan anak-anak. Sebab, sesuai Undang-undang perlindungan anak, terdakwa yang masih dibawah umur tidak boleh dipublikasi untuk khalayak.

Selain pembacaan dakwaan, sidang kali ini juga membahas upaya diversi kepada pihak keluarga korban dan keluarga terdakwa sebagai langkah untuk mempercepat proses persidangan.

“Karena mengacu UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA), kami akhirnya mengajukan diversi,” kata I Gede Perwata sekaligus anggota majelis hakim persidangan.

Namun upaya diversi tersebut tidak bisa dilaksanakan karena pihak keluarga korban tidak bersedia.

“Memang diversi itu bukan keharusan karena kasusnya agak rumit terkait dengan dugaan pembunuhan dengan penganiayaan dengan pelaku anak dibawah umur,” tuturnya.

Sementara itu, Mahfud, kakak korban Achmad Budi Cahyanto membenarkan jika majelis hakim menawarkan proses diversi. Namun pihak keluarga menolak upaya tersebut.

“Majelis Hakim menawarkan diversi, namun kami dengan tegas menolak. Karena kasus ini harus terapkan sesuai proses hukum yang berlaku, jadi kami menuntut keadilan,” tegas Mahfud.

Ia juga mengaku kecewa dengan pihak pengadilan, karena pada sidang perdana pihak keluarga tidak diberitahu sama sekali.

“Kami sangat kecewa karena tidak ada surat pemberitahuan jika digelar sidang pada hari ini. Kami ke sini hanya kebetulan saja karena firasat saya mulai tadi pagi tidak enak, makanya saya datang ke PN,” katanya dengan nada kesal.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.