Juru bicara Paswaskab Sumenep, Imam Syafi'ie

Sumenep, (Media Madura) – Komisioner Panitia Pengawas (Panwas) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur dibanjiri hujatan publik, khususnya pelaku media di Sumenep usai disidang soal kisruh rekruitmen Panwascam yang diduga sarat titipan.

Salah satu komisioner melontarkan kata-kata yang dinilai tak etis saat disidang Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) bertempat di Kantor Bawaslu Provinsi Jawa Timur, Jl Tanggulangin, Surabaya, Rabu (17/1/2017).

Kala itu, Juru bicara Paswaskab, Imam Syafi’ie menyebut nama-nama inisial yang beredar di sejumlah media itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, kata Imam, berita itu muncul di media yang tidak jelas kantornya bahkan tidak jelas siapa wartawannya. 

“Dan beritanya monoton dari satu nara sumber dan tanpa konfirmasi ke kami,” sebut Imam.

Padahal faktanya, prihal dugaan kecurangan rekruitmen Panwascam diberitakan oleh media-media lokal dan regional, dan disajikan seimbang.

Azam Khan & Partners, selaku kuasa hukum M Adnan dan Ach Farid Azziyadi, membeberkan pembahasan dalam persidangan di Bawaslu Jatim. Pihaknya menyampaikan, komisioner Panwaskab Sumenep melalui juru bicaranya terkesan alergi media.

“Mereka (komisioner paswaskab,red) mengaku, tidak pernah berbicara di media, juga sampai mempertanyakan mengapa media nulis begini dan begitu,” tuturnya dihubungi media melalui sambungan telepon pribadinya, mengulas pembahasan dalam persidangan.

Pihaknya tetap berkeyakinan bahwa media yang mempublikasikan berita terkait dugaan ‘titipan’ dalam rekrutmen Paswascam di Sumenep itu jelas dan memiliki legalitas. 

“Jika mereka (komisioner) sampai meragukan jurnalis, meragukan kredibilitas media, ini konyol,” tandasnya.

Menurutnya, dalam undang-undang nomor 2 tahun 2017 pasal 13 tentang kode etik DKPP itu jelas, harus secara terbuka untuk publik. 

“Caranya bagaimana, ya harus melalui corong media dong, masak komisioner harus dor to dor ke setiap orang, dari rumah yang satu ke rumah yang lain, dari sisi ini saja, mereka susah menjawabnya,” tandasnya.

Ketua Panwaskab Sumenep, Hosnan Hermawan saat dikonfirmasi disela acara pengambilan sumpah dan pembekalan Pengawas Pemilihan Lapangan (PPL) enggan berkomentar, ia malah melempar ke komisioner lain.

“Mendengarnya dari siapa, coba silahkan konfirmasi ke yang mengatakan itu, karena pak Imam yang bilang, langsung ke yang bersangkutan ya,” tuturnya sambil menunjuk ke arah komisioner lainnya.

Sementara Imam Syafie, saat ditanya sejumlah media tidak membantah apa yang disampaikan, pihaknya kemarin dalam persidangan menjelaskan tentang pemberitaan di sejumlah media, dimana ia mengaku tidak kenal dengan medianya, tidak kenal dengan wartawannya, dan juga mengaku tidak tahu dimana kantornya.

“Artinya kemarin, saya menyampaikan bahwa pemberitaan selama ini, tidak ada klarifikasi kepala Pakwaskab, sehingga kami kesulitan dan tidak mendapatkan akses ke sejumlah media,” akunya.

“Sementara kami tidak tahu kantor masing-masing media, maksud pernyataan ketidakjelasan itu, bukan saya menyatakan bahwa media itu abal-abal,” bukan,” tepisnya.

Ia juga mengaku, selama ini kurang memiliki ruang untuk rekan-rekan media karena kesibukan tahapan-tahapan dalam rekrutmen Panwascam.

“Pada waktu itu, kami sibuk dengan wawancara, yang kedua kami kesulitan akses untuk melakukan klarifikasi, yang ketiga kami tidak kenal dengan wartawannya. Hanya saja kedepan, kita akan mencoba lebih dekat dengan rekan-rekan media di Sumenep,” pungkasnya.

Reporter: Rosy
Editor: Ahmadi

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.