Oleh : Esa Arif As

Mendengar kata Madura, maka arus fikir publik di luar Madura langsung terarah pada Besi, Kadir (temennya Doyok), carok,tandus, primitif dan anekdot. Arus fikir publik seolah diarahkan dan publik Madura dipaksa mengamini branding dan labeling itu. Stigmasi terhadap Madura ini terjadi secara tidak secara alamiah, sayangnya kita sebagai warga Madura tidak mampu mencitrakan diri lebih baik dari yang dicitirakan tersebut dan terus digoreng bersama waktu.

Sesungguhnya Madura jauh lebih hebat dari asumsi-asumai liar dan stigma-stigma miring yang ada. Hanya saja kita tidak mampu membranding, mencitrakan dan mengkomunikasikan kepada halayak khususnya masyarakat Indonesia tentang hebatnya Madura. Selama ini banyak orang Madura yang larut dalam egoisme heroik, merasa hebat sendiri-sendiri dengan profesi dan intelektualitas masing-masing dan mengabaikan peran untuk majunya peradaban Madura. Celakanya lagi banyak yang tidak menyadari bahwa seluruh warga Madura adalah duta dan pembawa citra Madura di luar. Apapun yang kita lakukan, baik dan buruknya akan dibaca dan diterjemahkan sebagai prilaku orang Madura.

Di masa lalu, orang Madura telah terlibat dalam peristiwa besar yang bersejarah. Nama seperti Arya Wiraraja telah terlibat dalam strategi politik dan perang untuk meruntuhkan kerajaan Singosari dan pendirian kerajaan Majapahit. Sayangnya, catatan-catatan tentang kehebatan dan kecerdasan Arya Wiraraja dalam menyusun strategi politik dan perang, mengalir dalam ruas-ruas folklor, unhistoris, menjadi dongeng, mitos, sehingga peran tokoh Madura itu terdistorsi. Sangat sulit mencari referensi tentang perjuangan Arya Wiraraja secara khusus maupun Madura secara umum, mulai jaman kerajaan Kediri, Songosari dan Majapahit.

Kondisi tersebut wajar terjadi karena berbagai kemungkinan, kemungkinan pertama karena orang Madura di masa itu tidak pandai menulis, mencatat (pasti tidak ada wartawan kerajaan). Kedua, catatan-catatan dihilangkan seiring berjalannya waktu. Karena memang sejarah selalu berubah setiap pergantian kekuasaan. Maka dampaknya hari ini sangat sulit tulisan yang valid tentang sejarah kejaraan Madura.

Tetapi, setelah kerajaan Mataram berkuasa dan Belanda menguasai Indonesia, mulai banyak peneliti-peneliti dari Belanda yang menulis dan membukukan segala hal di Indonesia termasuk Madura, mulai sosial, budaya, politik, ekonomi, agama dan berbagai hal lainnya. Wajar ketika Prof. Dr Kuntowijoyo menulis buku yang berjudul “Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura” referensinya justru banyak dari perpustakaan di Belanda.

Kuntowijoyo meneliti tentang perubahan sosial dalam masyarakat agraris Madura hanya terbatas pada masa tahun 1850 hingga 1940. Untuk meneliti jauh sebelum itu, atau barangkali di jaman awal kerajaan Majapahit tahun 1293 sangat sulit mendapatkan referensinya. Itu hanya di sektor sosial, bagaimana dengan budaya, politik dan agama. Tentu semua itu berjalan pada ruas-ruas sejarah sekalipun saat ini jejaknya sudah usang dihapus waktu.

Buku

Buku ada karena adanya tulisan, tulisan ada karena ilmu pengetahuan, pengetahuan ada karena membaca, apa yang dibaca?. Jawabannya adalah Buku. Begitulah siklus rantai buku berputar. Tetapi poin yang menarik adalah pada aspek tulisan.

Saya menjadi teringat pada guru waktu masih sekolah dasar. Saat itu guru menyuruh kami sebagai muridnya untuk mencatat dan menulis, karena dengan menulis ilmu dan pengetahuan tidak mudah hilang sementara ingatan akan mudah dilupakan.

Memang saat itu saya belum menyadari tentang pentingnya mencatat dan menulis, begitulah siswa jaman itu (bukunya takut habis). Tetapi pada akhirnya saya menyadari tentang pentingnya mencatat dan menulis.

Seperti halnya Alquran berbentuk kitab suci seperti sekarang karena ada yang menulis dan mengumpulkan, mulai jaman Rasulullah dan diteruskan oleh Abu Bakar dan Utsman Bin Affan, begitupun dengan pengumpulan hadis dengan proses sejarah yang panjang.

Pramodya Ananta Toer mengingatkan tentang pentingnya menulis. Menurutnya orang boleh saja pintar, tetapi selama dia tidak menulis maka ia akan hilang ditelan jaman.

Sesungguhnya kemampuan menulis orang Madura sudah ada sejak lama. Madura pernah mempunyai penulis hebat di jaman kerajaan Mataram di bawah pimpinan Natakusuma II, yakni Sri Sultan Abdurahman (Pakunataningrat I). Bahkan ia sampai mendapatkan gelar doktor kesusastraan dari pemerintah Inggris.

Kemampuan menulis orang Madura tidak kalah hebat dengan penulis luar, terbukti banyak penulis asal Madura yang hingga kini masih produktif. Sebut saja Mahfud MD, Didik J Rachbini, Abdul Hadi WM, Budi Munawar Rahman, Abd A’la, D Zawawi Imron, M.Faizi, Ibnu Hajar, Abrari Alzael dan banyak penulis lainnya. Hanya saja sebagian penulis itu tidak berada di Madura. Karena memang Madura masih tidak memiliki okosistem yang baik bagi penulis. Untuk mengukur itu sangat mudah, kita bisa menghitung berapa banyak perpustakaan di Madura, berapa banyak taman baca, berapa banyak pengunjung pameran buku, dan adakah penerbit buku yang resmi di Madura, bagaimana atmosfir literasi di Madura. Kesimpulannya dengan mudah ditemukan di sana.

Film

Saya membayangkan, seandainya ada film yang berkisah tentang kehebatan orang Madura di masa lalu, baik Arya Wiraraja, Ronggsokowati, Jokotole dan berbagai kisah tokoh hebat lainnya, maka bisa saja Wiro Sableng, si buta dari gua hantu dan Nenek Lampir tidak akan seterkenal hari ini.

Saya juga membayangkan, jika ada seorang produser yang membuat film tentang Syaikhona Kholil Bangkalan, maka tentu kisahnya akan sangat inspiratif dan namanya akan semakin mengharumkan nama Madura dan Bangsa Indonesia. Sayangnya, produser film hebat tidak ada satupun yang orang Madura dan tidak tertarik membuat film tentang sejarah perjuangan tokoh Madura.

Justru yang menarik produser untuk dibuatkan film yakni Carok, dengan cerita tentang legenda Sakera dan Ke’Lesap, sekalipun eksplorasi sejarah perjuangan kedua tokoh tersebut tereduksi. Sehingga Carok selalu berkonotasi buruk dan mencitrakan kekerasan masyarakat Madura, sekalipun dibalut dengan alur cerita dan skenario perjuangan serta harga diri.

Wajar, karena memang produser yang bukan orang Madura cenderung melihat aspek bisnis dan segmen pasar, tidak akan banyak berfikir tentang dampak yang akan timbul secara psikologis terhadap masyarakat Madura.

Madura selama ini tidak begitu ramah terhadap seniman secara substantif, seniman sulit hidup dan mencari penghidupan di Madura. Hal itu berdampak pada sulitnya melahirkan produser hebat. Padahal, generasi saat ini begitu mudah terpapar pesan-pesan audio visual, sehingga dengan mudah mengarahkan generasi muda pada hal-hal positif melalui pemutaran film.

Selain itu, hingga saat ini Madura tidak mempunyai tempat untuk menonton film, sehingga masyarakat dan para pencinta film di Madura memilih untuk menonton di bioskop-bioskop yang ada di Surabaya. Tentu, setelah nonton film mereka membelanjakan uang di sana. Sehingga wajar apabila perputaran uang di masing-masing kabupaten, baik di Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep sangat kecil, karena orang-orang kaya di Madura membawa uang dari Madura untuk dibelanjakan di Surabaya.

Sesungguhnya di masa lalu, Kabupaten Pamekasan mempunyai sejumlah bioskop. Peninggalan sejarahnya masih kokoh berdiri hingga saat ini, yakni gedung dengan arsitektur eropa yang terletak di sisi timu monumen arek lancor, masyarakat Pamekasan mengenal gedung tersebut dengan nama Irama Plaza. Gedung tempat nonton film tersebut dibangun sejak jaman penjajahan Belanda dan berhenti beroperasi tahun 1997. Selain itu masih ada bioskop lainnya yakni bioskop Jaya. Menurut sejumlah referensi yang ada, ditutupnya bioskop Irama dan Jaya tersebut dipicu kondisi perekonomian warga Pamekasan yang sulit dan kurangnya minat warga dalam menonton film karena minimnya film berkualitas dan harga tiket yang mahal.

Kini dengan kemajuan teknologi dan terus membaiknya iklim perfilman nasional maupun mancanegara, membuat minat dan antusiasme masyarakat Madura dalam menontom film terus mengalami eskalasi yang signifikan. Sayangnya peluang bisnis tersebut belum ditangkap dengan baik oleh pengusaha Madura. Atau mungkin para pemilik modal itu khawatir untuk investasi karena dimungkinkan adanya resistansi dan penolakan dari kelompok-kelompok tertentu.

Wajar investor lokal maupun luar Madura takut dan hawatir untuk berinvestasi dan membangun bioskop atau pusat perbelanjaan di Madura khususnya di Pamekasan sebagai karesidenan. Hal itu karena branding negatif, primitif dan stigmasi buruk lainnya terhadap orang Madura yang dilakukan secara terus-menerus. Tetapi apapun itu, jikapun tidak ada bioskop dan pusat perbelanjaan di Madura, maka masyarakat Madura akan tetap baik-baik saja, dan tentu nonton filmnya tetap di Surabaya sebagai alternatifnya, serta menghabiskan uangnya di kota pusat-pusat perbelanjaan di kota pahlawan itu, sementara yang tidak punya cukup uang nonton cukup nonton TV di rumahnya masing-masing atau nonton layar tancap.

*) Penulis adalah pemerhati sosial. Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas dr. Soetomo Surabaya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.