Sampang, 2/6 (Media Madura) – Memilih minuman sehat dan segar tentu menjadi dambaan semua konsumen, khususnya di bulan suci Ramadhan ini. Tingkat kebutuhan makanan dan minuman terus meningkat, namun perlu kewaspadaan. Tak ingin jatuh sakit karena penyakit akibat mengkonsumsi bahan berbahaya.

Di Sampang, Madura, Jawa Timur, tepat di Jalan Rajawali, Kelurahan Karang Dalam, polisi menggerebek sebuah rumah industri minuman temulawak berbahaya, pada Rabu (31/5/2017) kemarin pukul 10.00 WIB. Minuman yang dikemas didalam botol itu diduga mengandung zat kimia terbuat dari bahan pewarna dan pemanis buatan.

“Dari rumah yang dijadikan pembuatan minuman botol itu berhasil menyita sebanyak 1.118 minuman botol temulawak beserta pemiliknya. Termasuk menyita kendaraan mobil pick up yang hendak mengedarkan minuman ini,” kata Kasat Reskrim Polres Sampang AKP Hery Kusnanto, Jumat (2/6/2017) pagi.

Hery menuturkan, dalam penggerebakan tersebut selain menemukan minuman botol bermerek Bersaudara ukuran 600 ml yang diduga berbahaya itu, satu pelaku merupakan pemilik usaha berhasil diamankan. Ia adalah Pak Min (48).

Tersangka diduga telah memproduksi dan memperdagangkan minuman tanpa ijin edar serta tidak memenuhi standar minuman dan membahayakan kesehatan.

“Jadi pelaku ini ngawur membuat minuman temulawak karena dari air mentah biasa, dicampur bahan kimia yang komposisinya tidak sesuai, serta tidak mencantumkan tanggal kadaluarsa. Apalagi ijin edar seperti SIUP tidak berlaku sejak 2010 lalu,” jelasnya.

Dari pengakuan tersangka, usaha pembuatan minuman botol itu dilakukan sejak 7 tahun yang lalu. Daerah distribusi hanya sekitar lokal Kabupaten Sampang. Harga per botol minuman sebesar Rp 1.500, namun tersangka memanfaatkan moment bulan Ramadhan ini dengan menyuplai ribuan minuman botol setiap hari.

“Untuk ini bulan ini pelaku menjual banyak ke pedagang karena kalau hari biasanya penjualan sepi,” terangnya.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal 62 ayat 1 jo pasal 8 Undang Undang RI no 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dengan ancaman hukuman pidana 5 tahun dan pasal 106 UU RI no 7 tahun 2014 tentang perdagangan dengan ancaman hukuman pidana 4 tahun.

Reporter : Ryan Hariyanto
Editor : Arif

Tinggalkan Balasan