Jumat, Mei 20, 2022

Digitalisasi Pendidikan : Belajar atau Pornografi?

Must read

Redaksihttps://mediamadura.com
Media online yang menyajikan informasi seputar Madura. Bernaung dibawah PT Media Madura Group.

Oleh : Hidayatus Sibyan

Digitalisasi pendidikan adalah sebuah konsekuensi yang logis dari sebuah perubahan dari zaman ke zaman ( 2020). Tidak dapat di prediksi begitu cepat digitalisasi pendidikan yang harus diterima, realitas yang terjadi pesatnya perkembangan teknologi di Indonesia utamanya dapat mempengaruhi anak didik pada pertumbuhannya, bermain, berinteraksi dan belajar.

Pada era revolusi industri 4.0 bertepabatan abat ke 21 teknologi tumbuh dengan platform digitalisasi seperti YouTube, Twitter, Facebook, dan Instagram. Dikutip dalam hasil penelitian bahwa anak berusia 2 tahun sudah mampu menggunakan Handphone dan tablet sebelum mereka bisa berbicara, dalam Studi bahkan 40% anak usia 2 sampai 4 tahun sudah bisa menggunakan ponsel pintar, iPad, iPod atau sejenisnya (Graafland, 2018).(Anggraini dan Maulidya 2020)

Digitalisasi merupakan hal yang harus dilaksanakan dalam dunia pendidikan sebab perkemangan teknologi tidak dapat dicegah di masayarakat apalagi didunia pendidikan yang semakin modern dalam proses pembelajaranya maka harus meningkatkan system pelayanan pendidikan baik dalam system kurikulum pembelajaran dan kulturnya dengan ini digitalisasi pendidikan harus segera direalisasikan serta diterima oleh semua pihak mau tidak mau maka pihak sekolah harus menerimanya perubahan dalam pembelajatan digitalisasi pendidikan dengan ini lembaga pendidikan harus mempersiapkan system yang akan dilaksanakan dalam perubahan pembelajaran dalam berbasis Teknologi sesuai dengan Kurikulum 2013.

Pada masa pandemi covid19 telah memaksakan para guru, siswa dan pengelola sekolah serta wali siswa untuk mencicipi dari pendidikan yang berbasis teknologi digital. Denga hasil sudah bisa diprediksi, bahwa hampir semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan mengeluh kesulitan dengan sistem baru berbasis teknologi digital yang sifatnya darurat pandemi, maka dengan adanya pandemi berlangsung dua tahun yang silam pendidikan di fokuskan belajar dirumah dengan berbasis digitalisasi seperti Zoom meeting, google meet, WA grup dan lain-lainya. Program belajar dari rumah merupakan keputusan pemerintah memberikan solusi pendidikan pada masa pandemi berlangsung dengan adanya penggunaan teknologi digital sebagai alternatif pendidikan untuk mengatasi terhambatnya pendidikan akibat dari pembatasan kegiatan berkerumun atau berkumpul.(Wulandari, Santoso, dan Ardianti 2021)

Peran penting teknologi informasi dalam pendidikan sangat membantu siswa dalam belajar dan juga mempunyai peran penting pada tenaga pendidik atau guru dalam melaksanakan proses mengajar untuk meningkatkan kualiatas belajar mengajar dalam menggunakan media teknologi pendidikan dan dapat memilih teknologi infirmasi dalam pendidikan yang tepat dan manfaat di gunakan dalam pendidikan (Saputra dkk. 2021), pada masa new kehidupan pandemi pendidikan sudah mulai penerapanya tatap muka disekolah maka kebutuhan teklonogi pendidikan masih kurang dimaksimalkan untuk proses belajar siswa dan mengajar para guru disekolah.

Mengingat pada waktu pandemi berlangsung bahwa semua siswa, belajar dengan mengunakan digitalisasi yaitu Handphone yang Android maka pada masa berakhir pandemic sekoilah sudah melaksanakan tatap muka, keberhasilan siswa dalam pengetahuan teknologi dan diperbolehkan pegang handphone android oleh guru dan walis siswa maka hal ini yang menjadi dampak buruk pada siswa dalam pendidikanya terutama dalam pemikiran dan pemahaman yang ada sebab kecanggihan teknologi digitalisasi adanya handphone android semua dapat diakses dengan adanya pengetahuan visul secara langsung digitalisasi modern ini yang memberikan kebenaran dan keyakinan dalam pandangan dan pemahaman siswa menerima informasi yang ada dengan ini menelanjangi, mengotori dan mencuci otak anak didik yang selama ini menyatakan kebenaran itu ada pada seorang guru dan disekolah.

Kalau dilihat dari dampak kemajuan teknologi dan digitalisasi pendidikan sangat miris sekali karena banyak kasus di sekolah dasar yang belum pernah di ungkap dan terungkap sebab kasus siswa sekolah dasar sangat runyam dengan adanya digitalisasi pendidikan yang kurang di perhatikan dan tidak diberi batas pemakaianya karena kasus yang terjadi diberbagai siswa sekolah dasar antaranya adalah,
1. Kata-kata kotor yang mengandung fornograsi pada siswa dasar dan lingkungan anak didik.
2. Kenakalan siswa SD/MI melakukan pelecehan seksual pada siswa yang lain seperti mencium, memegang kemaluanya dan memeluknya.
3. Melaksanakan hubungan seksual antara siswa dan siswi Sekolah dasar, hal ini pernah terjadi di SDN lingkungan pamekasan kota.
4. Adanya seorang Guru melaksanakan pelecehan seksual pada siswi SD, hal ini disebabkan sering nonton film di youtube.

Dengan adanya kasus yang telah terjadi diberbagai lembaga pendidikan dasar maka dampak digitalisasi yang tidak terbatas atau tidak dibatasi oleh sekolah dan orang tua siswa maka literasi yang didapat oleh anak didik atau siswa mempunyai pemikiran dan melakukan tindakan pornografi diantaranya yaitu :
1. Membuka dan mengakses internet di handphone dengan tidak sengaja muncul video atau gambar pornografi lalu mencoba diakses.
2. Menerima dan membuka kiriman pesan gambar, video pornografi dan di media sosial
3. Mencoba-coba mengakses konten pornografi dengan rasa penasaranya
4. Pergaulan dengan temen yang lain yang suka membuka atau melihat konten pornografi
5. Lemahnya perhatian dan pengawasan orang tua
Dengan hal di atas maka akan merusak jiwa dan mental anak didik atau siswa serta dilingkunganya seperti merusak otaknya, tercuci otaknya, kecanduan konten porno, komunikasinya sudah tidak terarah, dan melakukan kekerasan seksual serta kejahatan.

Dalam hal ini sudah banyak terjadi dikota-kota besar di Indonesia maka perlulah filter dan penagwasan yang harus dilakukan atau ditekankan pada anak didik baik disekolah maupun di rumah supaya tidak terbawa oleh arus digitalisasi yang tidak bermanfaat pada kehidupanya baik dipendidikan maupun dilingkungan masyarakat.


Pada dasarnya penggunaan Internet memungkinkan seluruh penggunanya mendapatkan segala informasi yang diinginkannya. Baik untuk memperoleh pengetahuan, informasi, atau keterampilan baru. Internet juga dapat membuat komunikasi dengan teman dan keluarga yang jauh maupun dekat lebih cepat dan efisien. Peluang tersebut membuat manusia membutuhkan bahkan semakin ketergantungan pada teknologi dan internet di setiap waktu, bukan hanya untuk orang dewasa, namun juga untuk para orang tua akan tetapi dampak yang tidak bisa terhindari penyalahgunaan internel atau gadget pada anak yang masih usia dini atau sekolah dasar menjadikan kerusakan pada jiwa dan moralnya.

Kesimpulanya bahwa adanya digitalisasi pendidikan pada masa pandemi Covid-19 sangat bermanfaat pada belajar dan mengajar ke efektifan siswa dan guru dalam memberikan materi pelajaran serta sangat dituntut untuk menggunakan digitalisasi pendidikan disekolah, mau atau tidak mau harus mampu melaksanakan perubahan dalam kurikulum pendidikan berbasis TIK, akan tetapi pada masa pandemic sudah akn berakhir sekolah mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka atau luring maka digitalisasi yang telah diperoleh oleh siswa dari masa pandemi masih dimanfaatkan untuk bermain bukan lagi untuk pembelajaran dari kesempatan ini siswa bisa mengakses konten yang pornografi dengan berbagai macam foto dan video yang ada.

Oleh karena itu maka harus memberikan batasan atau aturan bagi lembaga sekolah dalam pemakainya gadget atau brosing internet, bisa juag seorang wali dengan melaksanakan pengawsan pada anak memberika aturan tersendiri dalam pemakain gadget sehari-harinya karena kalau tidak dikikat dengan aturan maka tidak akan terhindari kerusakan yang akan terjadi pada generasi bangsa ini.

*) Penulis adalah Guru di SMP Mambaul Ulum Pegantenan, Kabupaten Pamekasan.

Pustaka ;
Anggraini, Trinita, dan Erine Nur Maulidya. 2020. “Dampak Paparan Pornografi Pada Anak Usia Dini.” Al-Athfaal: Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini 3 (1): 45–55.
Digitalisasi Pendidikan, Dampak, dan Infrastruktur Penunjangnya.” 2020. 3 Juli 2020.
Saputra, Dani Nur, Jumadi, Abdul Kholil, Susanti Faipri Selegi, Murjainah, Agus, Agung Setia, Kelly Sinaga, dan Ahmad Farisi. 2021. Landasan Pendidikan. Media Sains Indonesia.
Wulandari, Rizky, Santoso Santoso, dan Sekar Dwi Ardianti. 2021.
Tantangan Digitalisasi Pendidikan bagi Orang Tua dan Anak Di Tengah Pandemi Covid-19 di Desa Bendanpete.” EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN 3 (6): 3839–51.

- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest article