Kembalinya Senyum Penjual Bakso Saleho

Midi (47) penjual Bakso Saleho saat berjualan di gedung DPRD Pamekasan. Foto : Arf/MM
Advertisement

Pamekasan, (Media Madura) – Pandemi COVID-19 memang menimbulkan cerita sedih yang tak berkesudahan, tidak hanya karena jutaan nyawa yang hilang tetapi juga matinya sumber mata pencaharian. Kondisi itu juga dirasakan oleh penjual bakso keliling yang biasa berjualan di kantor Pemerintah Kabupaten Pamekasan yang dikenal dengan nama Bakso Saleho.

Saleho, begitu ia dikenal, menjajakan baksonya dengan berkeliling dari satu kantor ke kantor lainnya dengan menggunakan gerobak yang dipasang di atas sepeda motor. Sudah 26 tahun Saleho menekuni usahanya itu dan sudah cukup dikenal oleh para abdi negara di lingkungan Pemkab Pamekasan. Pejabat kelas wahid hingga staf sudah terbiasa menyantap bakso racikan Saleho ini.

Sedianya Bakso Saleho hanyalah panggilan yang entah datangnya dari mana, sebab nama asli penjual bakso ini Midi (47). Pria kelahiran Bojonegoro ini menikah dengan wanita asal Kelurahan Kowel dan mulai berjualan sejak tahun 1995.

Saleho bercerita, pada tahun itu harga baksonya masih Rp 500 dan tempat jualannya berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya, sebelum akhirnya mencoba berkrliling ke kantor-kantor pemerintahan.

“Dulu pertama jualan susah lakunya mas, tetapi karena memang saya membuat bakso bersama istri dengan memperhatikan kebersihan dan kualitas akhirnya banyak yang suka, dan sampai sekarang bertahan,” kata bapak dua anak ini.

Midi juga menjelaskan, saat ini harga baksonya satu porsi Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu tergantung pesanan pembeli.

Tetapi, cerita sedihnya saat pandemi melanda ia ketakutan untuk berjualan dan jikapun berjualan tidak ada yang beli.

“Pernah sehari saya jualan dari pagi sampai sore gak ada yang mau beli. Mungkin orang-orang takut Corona, Sedih tapi mau bagaimana lagi,” ucapnya dengan nada terbata-bata.
Padahal, kata dia, sebelum pandemi melanda, satu gerobak baksonya bisa membawa pulang uang Rp 1,5 juta.

“Modalnya kan saya pinjam, terus bakso tidak laku. Bagaimana saya mau bayar modal itu. Besoknya harus ngutang lagi. Hampir putus asa dan berhenti berjualan, tapi kasian melihat anak dan istri kalau saya gak kerja,” tuturnya.

Dalam kondisi terpuruk itu, bahkan untuk biaya hidup keluarganya harus berhutang, Midi tetap bekerja dan yakin bahwa pandemi akan segera berakhir sehingga situasi kembali normal dan dagangannya kembali dibeli.

Kondisi itu dijalaninya hampir satu tahun lebih. Tetapi kini ia kembali tersenyum karena situasi sudah kembali normal dan ia kembali berjualan seperti sebelumnya.

“Alhamdulillah sekarang sudah mulai kembali normal dan saya bisa berjualan seperti biasa meskipun belum seperti dulu. Semoga corona segera pergi,” harapnya.

Sementara itu, salah satu abdi negara yang bertugas di sekretariat DPRD Panekasan Siful mengatakan, Bakso Saleho memang sudah sejak lama berjualan di kantor wakil rakyat tersebut. Para ASN terbiasa membeli karena baksonya enak, bersih dan orangnya suka bercanda juga.

“Sudah lama memang jualan disini. Baksonya enak dan bersih. Makanya teman-teman suka, apalagi Saleho suka bercanda juga,” katanya.

Seperti diketahui, saat ini Kabupaten Pamekasan sudah masuk wilayah level satu di Jawa Timur. Bahkan terbaru, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa merilis bahwa seluruh wilayah Jawa Timur sudah masuk zona kuning, mulai ujung Ngawi hingga Banyuwangi.

“Artinya Jawa Timur masuk dalam kategori daerah resiko rendah COVID-19. Terimakasih kerja samanya semua pigak dan seluruh komponen nasyarakat Jawa Timur. Yum, kita pertahankan situasi ini agar ekonomi Jatim bisa segera pulih dan semakin CETAR. Jangan lupa tetap disiplin prokes dan vaksin ya. Maturnuwun,” tulis Khofifah di akun Instagramnya @khofifah.ip.(Arf/Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here