Potret Kemiskinan di Sampang, Janda Tua Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot

Alan Kaisan anggota DPRD Sampang (kopyah hitam) didampingi Forpimcam melihat kondisi dalam rumah Makseh yang tak layak huni, Jumat (18/12/2020). (Ryan/MM).

Sampang, (Media Madura) – Di tengah gencarnya pemerintah daerah menargetkan pembangunan di segala bidang, namun belum bisa mengatrol kesejahteraan rakyatnya. Penduduk miskin di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, mencapai 202 ribu jiwa atau 21 persen hidup di garis kemiskinan (BPS 2019).

Ibu Makseh, adalah satu dari ratusan ribu rakyat miskin di Kabupaten Sampang. Janda tua itu hidup sebatang kara di gubuk reyot yang tak layak huni di Dusun Lenteng, Desa Moktesareh, Kecamatan Kedungdung.

Diusianya 50 tahun tak membuat patah semangat kerja keras sebagai penjual rujak kampung. Ia selalu bersyukur jika hasil jerih payahnya mengulek rujak mengantongi uang 20 ribu setiap hari. Impian harapan ini kadang pudar karena usahanya tak laku di saat musim hujan saat ini.

Pajuh neng settong kadeng sa’arenah, nak, esambih mole lontongah gebey ngakan dhibi’,” ucap Makseh berlogat Bahasa Madura.(Laku satu bungkus kadang sehari, sisanya dibawa pulang lontongnya dimakan sendiri), dalam arti Bahasa Indonesia.

Tampak luar bangunan rumah 4×4 inilah tempat tinggal Makseh. Bangunan tersebut reot dan terancam roboh jika hujan disertai angin kencang melanda di kawasan Kedungdung. (Ryan/MM).

Makseh mengatakan, semenjak suaminya meninggal dunia sekitar belasan tahun lalu, ia hidup sebatang kara karena tidak memiliki anak.

Di dalam gubuk berukuran 4×4 meter inilah tempat ia tinggal selama puluhan tahun. Tak ada skat ruang untuk membatasi tempat tidur dengan dapur.

Aset paling berharga hanya sebuah kasur diatas dipan bambu. Di situ juga dijadikan tempat beribadah untuk bermunajat kepada sang Ilahi.

Alan Kaisan Bantu Bangun Rumah Tinggal Makseh

Dilihat secara keseluruhan, rumah itu jauh dari kesan layak huni. Namun bagi Makseh, rumahnya bagaikan istana megah meski penuh debu dan bocor diatapnya.

Ketika masuk melihat kondisi rumahnya, dinding bilik bambu berlubang dan penuh sarang laba-laba menyambut kedatangan sosok seorang dermawan di rumah Makseh.

Dia adalah Alan Kaisan, putra daerah asal Kecamatan Kadungdung. Pria tinggi berkaos hitam berkopyah itu ternyata anggota DPRD Sampang yang dilantik pada Agustus 2019 lalu.

Alan datang bersama petugas berbaju loreng dan baju cokelat, disampinginya seorang pria berbaju koko putih berkacamata. Ternyata dia anggota TNI dan Polri, serta Camat Kedungdung Sulhan.

“Kami bersama Forpimcam ingin meninjau langsung kondisi rumah Makseh, kasian dan sangat miris ketika tahu keadaan rumahnya,” tutur Alan.

Kedatangan politisi Partai Gerindra ini berniat dengan tulus ingin membantu membangunkan rumah layak huni untuk Makseh.

Beberapa bahan material sudah disiapkan di sekitar rumahnya. Karena pembangunannya akan dimulai hari ini Sabtu (19/12/2020).

“Saya berniat membangunkan rumah Makseh dengan dana pribadi dengan niat tulus dan ikhlas, pembangunannya nanti dibantu tenaga sama babinsa dan Bhabinkamtibmas,” ucap Alan.

Alan menuturkan, sebelum ia menjabat sebagai wakil rakyat, upaya membantu beban Makseh pernah dilakukan. Yakni melaporkan kondisi rumah Makseh ke pemerintah daerah melalui Dinas Sosial Sampang. Maksud hati ingin mendapatkan bantuan program RTLH.

“Sudah pernah dua kali diajukan bantuan RTLH tapi tidak kunjung ada, setelah diusahakan ke pemerintah desa dan saat ini beliau (Makseh) masuk penerima bantuan Dana Desa,” pungkasnya.

Reporter : Ryan
Editor : Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.