Tak Sesuai Site Plan, Pasar Ganding Senilai Rp 10 Miliar Disoal

Pasar Rakyat Ganding, Sumenep

Sumenep, (Media Madura) – Proyek pembangunan pasar rakyat Ganding, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur yang telah menghabiskan anggaran kurang lebih Rp 10 miliar disoal sejumlah pihak.

Pasalnya, pasar yang dibangun pada tahun 2018 dengan anggaran sebesar Rp 5,4 miliar serta 2019 dengan anggaran hampir sama disinyalir tak sesuai site plan.

Salah seorang pedagang pasar, Sukiyanto (46) mengatakan, sejak selesai dibangun, pasar tersebut sudah beroperasi setahun lebih. Namun sampai saat ini, fasilitas pendukung seperti lampu dan air masih belum tersedia.

“Karena belum tersedia, akhirnya untuk penerangan kami mamasang kilometer sendiri,” ujar pedagang asal Desa Parebbeen, Kecamatan Ganding ini.

Selain pedagang, aktifis Komunitas Pemuda Anti Korupsi (KOMPAK) Sumenep Imam Hanafi juga mengatakan haal serupa.

Menurutnya, pembangunan pasar yang diresmikan oleh Bupati Sumenep, A. Busyro Karim pada 30 Januari 2019 lalu itu tidak sesuai dengan site plan yang telah ditentukan Pemkab.

Seharusnya, kata dia, di pasar tersebut tersedia tempat parkir, yakni di bagian depan dan di bagian belakang pasar. Namun hingga pasar tersebut dinyatakan selesai dan dimanfaatkan parkir tersebut tidak ada.

Di bagian belakang pasar terdapat banyak lapak pedagang. Di depan pasar pun juga demikian, lapak bambu berjejer rapi.

“Seharusnya ada tempat parkir, di depan dan di belakang pasar. Sekarang mana, gersang. Makanya dijadikan tempat berjualan oleh para pedagang,” tutur Hanafi.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumenep, Ardiansyah menjelaskan, untuk pengadaan fasilitas berupa tempat parkir, penerangan serta air pihaknya masih akan merealisasikan di tahun 2021 mendatang.

Ardiansyah berdalih, anggaran sebesar Rp 5,4 miliar untuk pembangunan pasar tersebut belum cukup untuk merealisasikan fasilitas-fasilitas tersebut.

“Rencananya memang di depan dan di belakang ada tempat parkir. Namun karena anggarannya belum cukup, dan untuk menampung luapan jumlah pedagang, sementara mereka kami biarkan untuk membangun,” katanya, Selasa (11/2020).

Tetapi mereka yang membuka lapak harus sudah ada izin dari pihak Disperindag. Jika tidak ada izin, sewaktu-waktu lahannya akan diambil, dan mereka harus rela menyerahkan.

“Parkir itu alokasinya sebenarnya di depan, belum ada karena setiap hari sebenarnya kosong. Di hari tertentu, di hari pasaran, depan belakang full, itu menandakan bangunan yang kami bangun belum mampu menampung sepebuhnya,” dalihnya.

Reporter : Rosy
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.