Ramadan, Momentum Terbaik Meningkatkan Iman dan Imun di Tengah Pandemi

Oleh : Fahri Husaini

*) Penulis adalah Mahasiswa IAIN MADURA, Fakuktas Tarbiyah, Prodi Pendidikan Bahasa Arab.

Ramadan adalah bulan yang mempunyai keistimewaan yang lebih dibandingkan dengan bulan- bulan lain. Di bulan ini Alquran diturunkan, amalan ibadah dilipat gandakan, pintu surga dibuka lebar- lebar, Allah mudahkan di bulan itu untuk menunaikan ibadah. Namun di Ramadan kali ini tampak berbeda dengan ramadan sebelumnya. Bukan ramadannya yang mulai kekurangan karismanya, tapi Allah telah mengutus sebuah wabah yang membuat ramadan kali ini tampak berbeda dibanding dengan ramadan tahun – tahun sebelumnya. Di banyak tempat salat jemaah di masjid dilarang, buka bersama teman-pun dilarang, tak hanya itu wabah ini telah menghentikan kegiatan tahunan yang sering dilakukan sebagian besar umat muslim di berbagai tempat, seperti membangunkan orang sahur dengan arakan, silaturahmi antar tetangga-pun sepertinya akan dilarang pada perayaan idul fitri nanti nanti. Para perantau yang bekerja di kota kebingungan karena mereka tak bisa bekerja lantaran diPHK oleh perusahaannya ditempat di mana ia bekerja, sedang mereka tidak diperbolehkan mudik di tahun ini, di tengah krisis yang tengah mereka alami. Tak ada yang tahu kapan wabah ini akan musnah dan berakhir di muka bumi ini.

-Advertisement-

Setidaknya sudah tiga juta lebih penduduk bumi sudah terinfeksi wabah ini. WHO telah mengumumkan bahwa wabah ini telah menjadi pandemi. Amerika Serikat adalah Negara dengan jumlah kasus positif terbanyak dan kasus kematian terbanyak dan rekor kematian terbanyak perharinya yaitu 4.491 pada Kamis (16/4), dikuti spanyol dan italia diurutan kedua dan ketiga. Negara tersebut bukanlah Negara yang dikatagorikan Negara miskin atau lemah. Tapi Negara tersebut adalah Negara yang mempunyai kekuatan yang besar dalam kancah perekonomian maupun kesehatan dan pendidikan.
Selain banyaknya korban kematian yang ditimbulkan oleh wabah ini, dampak lain adanya wabah ini adalah stigma negative yang bertebaran dikalangan masyarakat. Di Semarang seorang perawat yang berada di garda terdepan meninggal karena terinfeksi oleh virus ini tidak diterima jasadnya untuk dimakamkan di tempat kelahirannya tersebut oleh oknum tak bertanggung jawab. Mereka beralasan takut akan terinfeksi virus tersebut dan virus corona tersebut akan menular kepada warga yang lain padahal mulai dari memandikan hingga mengkuburkan jenazah semua sesuai SOP penanganannya.
Di tengah pandemi ini, pemerintah menghimbau kepada masyarakat untuk tidak keluar rumah bila tidak dalam keadaan mendesak. Pemerintah juga menghimbau kepada masyarakat untuk menggunakan masker dan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir tiap kali selesai beraktifitas dan menjaga jarak social antar waraga lain. Selain itu, pemerintah juga memberlakukan PSBB di beberapa tempat. Di Tangerang satu keluarga tewas karena dalam dua hari mereka tak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya bisa meminum air gallon tanpa makan apapun.
Sebagai muslim yang taat, corona bukanlah suatu hal yang menakutkan. Corona juga mahluk Allah, yang juga memiliki kekurangan. Corona bisa saja menewaskan ribuan manusia dan membuat seisi bumi harus hidup dalam keadaan was-was ditengah krisis yang berkepanjangan belum tahu kesudahannya ini. Tapi yang wajib muslim takuti dibalik pandemi adalah berkurangnya keyakinan kita kepada sang pencipta lantaran rasa takut yang ditimbulkan oleh virus ini yang terlalu berlebihan. Dan berkurangnya aktivitas ibadah yang kita lakukan disebabkan rasa malas yang muncul dari diri kita, efek dari minimnya aktifitas yang kita dilakukan di rumah. Tidak ada alasan bagi muslim untuk berhenti dan stagnan dalam kedaan saat ini. Meskipun wabah ini telah memakan banyak korban mengubah peradaban manusia, menimbulkan kekacauan di mana–mana. Maka tetaplah bagi kita untuk senantiasa beribadah dan meng-upgrade keimanan kita walaupun masjid ditutup untuk salat berjemaah. Kita masih punya kesempatan untuk beribadah di rumah bersama dengan keluarga.

Apalagi kita sekarang tengah berada di bulan yang penuh rahmat, pintu taubat dibuka. Jadikan ramadlan sebagai momentum untuk meningkatkan iman dengan selalu mengingatNYA disetiap waktu. Dan puasa sebagai perisai untuk meningkatkan imun. Tadarus, tarawih bersama keluarga bisa kita lakukan di rumah jika ditempat peribadatan kita tidak memungkinkan untuk mengadakan shalat berjemaah karena ada himbauan dari pemerintah. Lakukan olah raga pagi secara rutin jangan terlalu banyak begadang dan minumlah dan makanlah makanan yang mempunyai kandungan vitamin C yang cukup guna menambah daya imun dalam diri kita.
Al-Qur’an itu adalah syifa’ bagi segala penyakit, baik penyakit yang bersifat batiniyah maupun penyakit yang sifatnya dlohiriyyah. Terkadang kita tidak sadar bahwa ketika batin kita dalam tekanan tinggi disitulah sistim imun kita mulai menurun. Dengan membaca Alquran jiwa akan merasakan ketenangan sebagai firman Allah dalam Alquran. Apalagi ketika kita membaca Alquran di bulan ramadan sembari merasakan nikmatnya puasa sebagai bentuk olah raga bathiniyah guna meng-upgrade keimanan kita kepada sang pemilik iman serta imun tersebut.

Selain dengan membaca alquran, puasa juga efek yang baik dalam meningkatkan system imun manusia. Berikut beberapa manfaat dari puasa bagi system imun ;

1. Tingkatkan Sel Darah Putih
Manfaat puasa bagi sistem imun tubuh yang pertama adalah dapat meningkatkan sel darah putih. Dikutip dari laman Telegraf, penelitian yang dilakukan University of Southern California menyebutkan bahwa puasa dapat memicu meningkatnya sel induk yang memproduksi sel darah putih baru dalam tubuh.
Bertambahnya produksi sel darah putih baru ini sangat berfungsi untuk melawan berbagai infeksi penyakit. Dalam hal ini, Profesor Gerontology and Biological Sciences dari University of Southern California, Valter Longo, menegaskan bahwa sel induk yang terus berkembang bekerja membangun kembali sistem kekebalan tubuh manusia.
Dengan begitu, bagian-bagian sel dari sistem yang rusak atau tua bisa disingkirkan dan diganti dengan sel-sel baru yang lebih sehat.
2. Mengurangi Efek Samping Kemoterapi
Manfaat puasa bagi sistem imun tubuh yang kedua masih berkaitan dengan poin sebelumnya. Dalam penelitian yang dilakukan oleh University of Southern California tersebut juga menemukan bahwa berpuasa dapat mengurangi efek samping kemoterapi dari pasien kanker.
Longo menjelaskan, bahwa kondisi lapar saat berpuasa dapat mendorong tubuh untuk menghemat energi, yaitu dengan mendaur ulang sel kekebalan tubuh yang diperlukan
“Ketika lapar, sistem tubuh mencoba menghemat energi, dan salah satu hal yang dapat dilakukan adalah mendaur ulang banyak sel kekebalan tubuh yang tidak diperlukan. Ini sebabnya puasa selama 72 jam juga akan melindungi pasien kanker terhadap dampak racun dari kemoterapi,” jelas Longo.Dalam uji cobanya, sejumlah pasien kanker diminta untuk berpuasa secara teratur dua dan empat hari selama 6 bulan.
Dari percobaan tersebut, didapatkan hasil yang cukup mengejutkan. Ternyata dengan berpuasa, bisa mengurangi enzim PKA atau yang berhubungan dengan penuaan dan hormon yang biasanya dapat meningkatkan risiko kanker dan pertumbuhan tumor.

3. Meningkatkan Sistem Pencernaan
Manfaat puasa bagi sistem imun tubuh yang tidak kalah penting adalah dapat meningkatkan sistem pencernaan tubuh. Seperti dilansir dari situs Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, seorang professor biologi dari Massachusetts Institute of Technology, David Sabatini, juga menemukan hasil penelitian yang cukup mencengangkan terkait manfaat puasa.
Dalam penelitiannya terhadap hewan tikus, dikatakan bahwa manfaat puasa dapat meningkatkan regenerasi sel-sel punca tikus yang terdapat pada bagian usus. “Berpuasa memiliki banyak efek pada usus, termasuk meningkatkan regenerasi untuk melawan penyakit yang menyerang usus, seperti infeksi ataupun kanker,” kata Omer Yilmaz, asisten profesor biologi MIT yang juga merupakan salah satu peneliti senior dalam riset ini, seperti dilansir Science Daily.
4. Meningkatkan Regulasi Protein
Manfaat puasa bagi sistem imun tubuh juga ditegaskan oleh penelitian yang dilakukan Baylor College of Medicine, Houston, Texas, Amerika Serikat. Seperti dilansir dari farmasi.ugm.ac.id, penelitian tersebut menunjukkan bahwa hasil pemeriksaan serum 14 orang yang melakukan puasa subuh hingga magrib terbukti baik untuk terapi pencegahan penyakit kanker.
Bukan hanya itu, puasa yang dilakukan secara terus menerus selama 30 hari ternyata juga dapat meningkatkan regulasi protein dalam tubuh. Hal ini sangat bermanfaat untuk melindungi diri dari risiko obesitas, diabetes, dan sindrom metabolik.

Lebih dari itu, puasa dapat memproduksi protein pengatur utama untuk perbaikan DNA dan sistem kekebalan tubuh. Serta dapat meningkatkan regulasi protein protektif terhadap gangguan Alzheimer dan neuropsikiatri.(*)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.