COVID-19 dan Teori Konspirasi

Oleh: Khoirul Hamamah

*) Penulis adalah mahasiswa IAIN Madura, Fakultas Tarbiyah, Prodi Pendidikan Bahasa Arab

Dunia saat ini tengah waspada dengan penyebaran sebuah virus yang dikenal dengan virus corona. Coronaviruses (CoV) merupakan bagian dari keluarga virus yang menyebabkan penyakit mulai dari flu hingga penyakit berat. WHO (World Health Organization) mengatakan, bahwa penyakit yang disebabkan virus corona atau dikenal dengan COVID-19, adalah jenis baru yang ditemukan pada tahun 2019 dan belum pernah diidentifikasi menyerang manusia sebelumnya. WHO juga menetapkan, virus corona sebagai pandemi pada 11 Maret 2020 Karena penularannya yang cepat.

Kasus virus corona muncul dan menyerang manusia pertama kali di provinsi Wuhan, China. Awal kemunculannya diduga merupakan penyakit pneumonia, dengan gejala yang umumnya menyerupai flu. Namun perbedaannya dengan influenza adalah virus corona mampu berkembang lebih cepat sehingga mengakibatkan infeksi lebih parah bahkan bisa gagal organ.

Virus baru ini menjadi ajang perlombaan untuk ditaklukkan dan dicarikan penawarnya sehingga banyak negara yang menghabiskan sepertiga waktunya untuk itu, terutama negara-negara maju, seperti China yang percaya dan mampu untuk memenangkan perlombaan. Virus menyebar bagaikan angin sehingga menjadi viral dan dengan keadaan yang memburuk. Maka dari itu, WHO mengatakan “Sekarang adalah waktu yang sebenarnya dan bukan waktu untuk takut”.

Di sisi lain, berbagai teori konspirasi terkait virus corona berhembus kencang secepat penyebaran virus corona di dunia yang seakan memperkeruh situasi pandemik ini, pasalnya sejumlah teori konspirasi meragukan langkah peneliti untuk mengembangkan vaksin virus ini. Teori konspirasi yang menyebutkan diantaranya, virus ini berasal dari laboratorium China yang sengaja dilepaskan sebagai senjata biologis, virus ini berasal dari Amerika Serikat, covid-19 bukan disebabkan oleh virus, melainkan radiasi teknologi 5G, dan yang cukup ramai di medsos akhir-akhir ini sehingga mengalahkan teori lainnya adalah banyak netizen yang mengatakan bahwa pendiri Microsoft (Bill Gates) ada kaitannya dengan pandemi covid-19 ini.

Berdasarkan data perusahaan analisis media sosial ‘Zignal Live’ dikatakan bahwa, 18 ribu konten yang mengaitkan Bill Gates dengan covid-19 terhitung sejak bulan maret sampai awal April 2020, data dari ‘The New York Times’ juga mengatakan bahwa informasi hoaks yang diarahkan kepada pendiri Microsoft lebih dari 16 ribu postingan di Facebook. Hal ini disebabkan, karena ramalan jitu Bill Gates dalam video pidatonya tahun 2015, ia memperingatkan mengenai penyakit inveksi yang akan menjadi ancaman besar kematian untuk umat manusia, bukan karena nuklir atau perang melainkan infeksi virus microba. Sayangnya, ramalan ini menjadi bomerang baginya sebagai dalang dalam pandemic covid-19. Meskipun dirinya sudah menyisihkan uang sebesar 3,8 triliun untuk fokus menemukan faksin, karena itu adalah cara satu-satunya untuk menaklukan virus ini.

Hari demi hari, jumlah orang yang mati dan positif terkena virus corona semakin meningkat. Virus ini sebenarnya tidak lebih mematikakn dari pada virus-virus yang telah ada. Akan tetapi, keadaan siap siaga yang menjadi ajang perlombaan bagi dunia, membuktikan bahwa negara-negara besar yang telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi perang biologis ini masih belum cukup siap untuk itu. Meskipun demikian, berbagai uji coba masih dilakukan untuk menemukan obat dan solusi sehingga virus corona bukan lagi menjadi virus mematikan bagi manusia.

Karena sampai saat ini masih belum ditemukan obat spesifik untuk menangani kasus infeksi virus corona, maka pemerintah beberapa negara memutuskan untuk menerapkan lockdown atau isolasi total atau karantina. Beberapa negara yang telah menerapkan lockdown adalah China, Spanyol, Italia, dan Malaysia. Pemerintah tersebut memtuskan lockdown, dengan menutup semua akses fasilitas public dan transportasi. Warga dihimbau untuk tetap di dalam rumah dan mengisolasi diri, dengan harapan virus tidak menyebar lebih luas dan upaya penyembuhan dapat berjalan dengan maksimal.

Sedangkan di Indonesia sendiri untuk mengahadapi covid-19 menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar) yang dianggap mampu memepercepat penaggulangan sekaligus mencegah penyebaran corona yang semakin meluas. Lalu, apakah ini langkah yang tepat dilakukan Indonesia sehingga tidak menerapkan lockdown karena akan menimbulkan masalah besar lainnya, atau karena prediksi bahwa covid-19 akan berlangsung lebih lama di negara kita?

Kekhawatiran sebenarnya akan datang dan lebih mungkin ketika virus mencapai ribuan pulau kecil di Indonesia timur. Kasus-kasus di sini akan sulit dideteksi karena ada beberapa fasilitas medis dan kurangnya kesadaran tentang Virus Corona COVID-19. Bahkan di tingkat nasional, perawatan kesehatan Indonesia termasuk yang termiskin. Indonesia memiliki rasio dokter-pasien 1 banding 6.250, berlawanan dengan rekomendasi WHO 1 banding 600. Namun di pulau-pulau itu, situasinya jauh lebih buruk, karena lebih dari 60% pekerja kesehatan terkonsentrasi di Jawa. Pada akhir pekan lalu setelah perutean pasar dan rupiah, Jokowi terlambat mengumumkan upaya pengujian besar-besaran di seluruh bangsa.

Indonesia mungkin akan menghadapi Corona COVID-19 lebih lama dari negara lain. Tanpa respons terpusat dan terpadu yang mencapai bagian terjauh dari negara ini dan pulau-pulau yang tak terhitung jumlahnya, mungkin Indonesia akan membutuhkan waktu yang lama untuk menuntaskannya.(*)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.