Qasidah Burdah Versus Pandemi Wabah

Suasana pembacaan Qasidah Burdah (foto: Ali Banyupelle, Agus Bagandan, dan Esa Samiran)

Oleh: Dwi Budayana ED.

Beberapa malam terakhir, masyarakat di Desa Banyupellé, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, melaksanakan sebuah ritual keagamaan. Dimotori pemuda dan remaja, mereka berjalan keliling kampung sambil membaca Qasidah Burdah. Suaranya keras dan berkesinambungan. Di setiap teras rumah yang dilewati, mereka berhenti sejenak. Menurut salah seorang pemuda, kegiatan ini akan terus dilaksanakan. Berpindah dari satu kampung ke kampung yang lain. Sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Kegiatan serupa juga dilaksanakan di Kampung Bagandan, Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Pamekasan. Santri bersama masyarakat sekitar melaksanakan karnaval. Rutenya sama, keliling kampung. Yang dibaca juga sama, Qasidah Burdah. Bedanya, di setiap depan rumah tidak berhenti. Karena berada di daerah kota, justru masyarakat banyak yang menonton dan berjejer di pinggir jalan. Sambil mengikuti bacaan yang dikumandangkan oleh peserta karnaval.

Bisa jadi, pembacaan Qasidah Burdah secara massal juga dilaksanakan di tempat-tempat lain. Apalagi, beberapa organisasi masyarakat berbasis Islam sudah mengeluarkan himbauan. Tujuannya supaya “wabah mahkota 19” segera pergi bersama anak, cucu dan cicitnya.

Tahun 1960-an silam, pembacaan Qasidah Burdah secara massal untuk “mengusir” penyakit juga pernah dilakukan. Kala itu, wabah Kolera menyerang Indonesia. Konon, suasananya lebih mencekam. Di Pulau Jawa dikenal dengan istilah Pagebluk. Sedang di Pulau Madura dikenal dengan sebutan Panyaké’ Ta’on.

Dimulai dari Sulawesi Selatan. Selanjutnya menyeberang ke Pulau Jawa dan ke seluruh Indonesia. Lalu, seluruh Asia dan dunia. Jumlah korban meninggal di Indonesia mendekati angka 3.000 jiwa.

Konsentrasi pemerintah saat itu masih terpecah. Sebagai negara baru, yang paling mendesak adalah menata sistem pemerintahan. Selain itu, sibuk memadamkan pemberontakan di beberapa daerah. Diperparah lagi dengan kurangnya dokter dan tenaga medis lainnya. Juga minimnya persediaan obat-obatan. Setiap pasien positif hanya memiliki dua pilihan, penanganan seadanya atau dibiarkan saja hingga ajal menjemput. Itulah mengapa angka kematian akibat penyakit ini cukup tinggi.

Maka kalangan ulama merasa terpanggil. Mereka mengimbau kepada seluruh umat Islam di Indonesia untuk mengamalkan dan membaca Qasidah Burdah. Caranya, kurang lebih sama dengan yang dilakukan pada saat ini.

Sepuluh tahun kemudian, atau sekitar tahun 1970-an, wabah Kolera berangsur mereda. Hal ini tidak terlepas dari mulai ditemukannya obat-obatan anti Kolera. Juga, penanganan secara medis semakin baik dan terstruktur. Yang pasti, Allah mengabulkan doa dari seluruh rakyat. Hingga Indonesia benar-benar dinyatakan bebas Kolera oleh WHO.

Qasidah Burdah, adalah sekumpulan bait syair puji-pujian (sholawat) kepada Nabi Muhammad SAW. Penggubahnya adalah Imam Al-Bushiri (610-695 H/1213-1296 M). Beliau adalah seorang pujangga sekaligus ulama besar Mesir, kelahiran Maroko.

Syair-syair Qasidah Burdah dianggap lebih istimewa dibanding bentuk sholawat yang lain. Selain merupakan sebuah karya sastra berkualitas tinggi, juga mengandung beragam ajaran tasawuf dan pesan moral yang cukup mendalam.

Qasidah Burdah juga diyakini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Terkait khasiat ini, tidak lepas dari sejarah pembuatannya. Imam Al-Bushiri, menggubah Qasidah Burdah ketika menderita sebuah penyakit. Berbagai obat dan tabib tak mampu menyembuhkan. Berbulan-bulan, beliau hanya berbaring tak berdaya. Setiap saat beliau berdoa memohon rido dan kesembuhan hanya kepada Allah SWT. Juga memuji dan berharap syafaat Nabi Muhammad SAW. Doa dan pujian itulah, dirangkai dan diuntai menjadi sebuah syair qasidah dan diberi judul Al-Kawakib ad-Durriyyah fî Madh Khair al-Bariyyah (Bintang-bintang Gemerlap tentang Pujian terhadap Sang Manusia Terbaik).

Beberapa saat setelah gubahannya selesai, beliau bermimpi didatangi Nabi Muhammad SAW. Dalam mimpinya, Nabi mengusap-usap rambutnya dan menyelimutinya dengan Burdah (baju hangat yang terbuat dari kulit binatang) yang biasa dipakai Nabi. Setelah terbangun dari tidurnya, penyakit Imam Al-Bushiri sembuh total. Oleh karenanya, qasidah karya Imam Al-Bushiri lebih terkenal dengan nama Qasidah Burdah daripada judul aslinya.

Kemasyhuran Qasidah Burdah terkenal di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia. Ulama-ulama nusantara mengajarkan secara turun-temurun. Ada pula yang berkesempatan belajar langsung ke Mesir, tempat Qasidah Burdah lahir, untuk memahami secara detail makna seluruh untaian syair. Juga membedah khasiat yang terkandung di dalamnya. Salah satunya, khasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Saat ini, bangsa Indonesia sedang bersatu dan bahu-membahu. Layar telah terbentang, ditabuhlah genderang perang. Konfrontasi dengan “wabah mahkota 19” sudah diikrarkan. Meski musuh tak kasat mata, optimisme harus tetap dijaga. Ikhtiar dan doa, adalah kuncinya. Jangan ada kata lelah, apalagi menyerah.

Tindakan medis sebagai ujung tombak ikhtiar, wajib dilaksanakan. Kebijakan dan imbauan dari stakeholder yang berwenang, harus dijalankan. Kekuatan doa, jangan sampai dikesampingkan. Entah apapun agamanya, entah bagaimanapun caranya. Bagi umat Islam, Qasidah Burdah bisa menjadi alternatif pilihan.

*) Penulis adalah seorang Arsitek, tinggal di Kabupaten Pamekasan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.