Sekretaris Dinkes Sampang Asrul Sani (kanan) didampingi Kabid Pelayanan Kesehatan Masyarakat dr Yuliono memberikan penjelasan kepada wartawan, Kamis (13/2/2020) pukul 13.00 WIB. (Ryan/MM).

Sampang, (Media Madura) – Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, memberikan penjelasan terkait meninggalnya bayi berusia 11 hari diduga karena imunisasi BCG (Bacillus Calmette Gueri). Bayi itu bernama Nur Aqifah, asal Dusun Klobur, Desa Sawah Tengah, Kecamatan Robatal.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan, kejadian bayi diduga meninggal usai disuntik imunisasi baru terjadi di Kabupaten Sampang. Atas kejadian tersebut tim medis telah melakukan pemeriksaan kepada sang bayi.

Dari hasil penelitian di lapangan, tidak ditemukan indikasi adanya kesalahan prosedur yang dilakukan bidan desa pada saat melakukan imunisasi.

“Imunisasi BCG itu adalah program nasional tahunan, fungsinya untuk pencegahan TBC, jadi tidak benar kalau dikatakan meninggal karena imunisasi, vaksinnya itu sudah standart, kita sudah klarifikasi kepada yang bersangkutan, secara prosedur sudah benar sesuai SOP baik cara penyimpanan dan pemberian vaksin,” ucap Sekretaris Dinkes Sampang Asrul Sani ditemui di kantornya, Kamis (13/2/2020) siang.

Asrul mengatakan, bidan desa yang melakukan imunisasi sudah menganalisa kondisi bayi. Saat itu, kondisi bayi dalam keadaan sehat. Jika sebaliknya bayi mengalami penurunan sebelum divaksin, petugas dipastikan tidak akan melakukan imunisasi.

“Tapi pada waktu itu kondisi bayi secara kasat mata masih sehat, kami tidak tahu apa yang terjadi dengan bayi itu setelah ada rentang waktu 3,5 jam atau sekitar 4 jam pasca divaksin,” tuturnya.

Kata Asrul, pihaknya memastikan bidan desa tersebut sudah mempunyai pengalaman mengenai cara pemberian vaksin imunisasi. Apalagi yang bersangkutan lebih dari lima tahun bertugas sebagai bidan di Desa Sawah Tengah serta tidak pernah mempunyai masalah.

Disinggung soal penyebab kematian korban, Asrul menduga korban meninggal akibat tersedak sehingga ada gangguan dalam saluran pernapasan. Hal ini terlihat dari wajah berwarna biru lebam saat korban meninggal dunia.

“Penyebabnya bukan karena imunisasi, yang dilakukan imunisasi pada waktu itu tidak hanya korban, melainkan juga ada anak-anak lainnya,” tegas Asrul.

“Kadang ada bayi di Sampang ini dikasih makan nasi dan pisang, padahal masih umur lima hari seperti tahun-tahun lalu,” imbuhnya.

Kemudian, Asrul mempersilahkan Kabid Pelayanan Kesehatan Masyarakat Dinkes Sampang dr Yuliono memberikan penjelasan secara teknis. Menurut Yuliono, untuk mengungkap penyebab kematian bayi perlu dilakukan analisa lebih lanjut.

“Iya tentu harus melalui otopsi dan tidak bisa dilakukan di rumah sakit Sampang karena disini tidak ada dokter forensik, paling harus ke RSUD Dr Soetomo Surabaya atau di RS Bhayangkara, waktunya paling tidak 10 hari untuk mengetahui penyebab kematian,” terang Yuliono.

Tak hanya itu, Dinkes Sampang juga tidak mempersoalkan ketika bayi yang masih berusia dini atau belum satu bulan diberikan suntik vaksin. Sebab, bayi yang baru lahir belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Untuk itu, perlu diberikan diimunisasi sebelum kondisi bayi terserang virus ataupun penyakit.

Yuliono menyampaikan, pemberian imunisasi secara bertahap semakin baik untuk memperkuat antibodi bayi.

“Lebih bagus lagi usai melahirkan, biasanya itu dilakukan saat lahir di rumah sakit, supaya terbentuk antibodi,” kata Yuliono.

Reporter : Ryan
Editor : Zainol

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.