Mantan Kepala Disdik Sampang Ditahan, Jupri Bernyanyi

Jupri Riyadi memberikan keterangan kepada wartawan sebelum di bawa ke mobil tahanan, Senin (30/9/2019) pukul 15.15 WIB. (Ryan/MM).

Sampang, (Media Madura) – Kejaksaan Negeri Sampang akhirnya menahan mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang Moh Jupri Riyadi, Senin (30/9/2019) sore.

Ia ditahan setelah diperiksa penyidik kejaksaan selama 3 jam. Dalam penahanan itu, Jupri sempat memberikan keterangan kepada wartawan sebelum dimasukkan ke mobil tahanan.

Menurut Jupri, dirinya sangat kaget dalam kasus yang menimpanya. Sebab, ia hanya sebagai pelapor dalam peristiwa ambruknya pembangunan RKB SMPN 2 Ketapang. Meski begitu, ia menerima dengan ikhlas kasus tersebut hingga menyeretnya ke jeruji tahanan.

- Advertisement -

“Saya yang menjadi pelapornya, tapi sekarang saya menjadi tersangka, saya sudah mengirim surat teguran kepada CV untuk memperbaiki semasa pemeliharaan, karena tidak diindahkan maka lapor ke polisi, tapi ini resiko jabatan saya ikhlas untuk menjalani,” ujar Jupri.

Tak hanya itu, Jupri sempat melontarkan bahwa pembangunan di Sampang tak hanya gedung SMPN 2 Ketapang.

“Bisa dilihat sendiri kah, yang roboh bukan hanya di SMPN 2 Ketapang saja,” singkatnya menaiki mobil tahanan.

Sementara itu, Kasi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Sampang Edi Sutomo mempersilahkan Jupri Riyadi untuk bisa membuktikan pernyataan tersebut dalam persidangan.

“Silahkan dibuktikan dipersidangan nanti, kalau punya alat bukti kuat, silahkan dibuktikan,” kata Edi.

Dirinya menyampaikan, penahanan Jupri dilakukan selama 20 hari ke depan di Rutan Kelas IIB Sampang. Jupri diketahui sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam kasus perkara tersebut.

Penyidik menahan Jupri dengan alasan subyektif, yakni sesuai pasal 21 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

“Takut melarikan diri, takut menghilangkan barang bukti, dan mengulangi perbuatannya,” ujarnya.

Dirinya mengatakan, kemudian alasan obyektif berdasarkan pasal 21 ayat (4) KUHAP, penahanan tersangka karena ancaman hukumannya lebih dari lima tahun penjara.

Untuk diketahui, dalam kasus ambruknya pembangunan RKB dianggarkan senilai Rp 134 juta. Proyek itu dikerjakan oleh inisial MT dengan meminjam kepada Abd Aziz selaku Direktur CV Amor Palapa.

Abd Aziz diberi uang Rp 2,5 juta setelah berhasil meminjamkan CV. Ditengah perjalanan, ternyata MT masih melemparkan pekerjaan proyek tersebut kepada NR, nilainya pun menjadi kecil yaitu Rp 75 juta.

Reporter : Ryan
Editor : Ist

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.