Gaya Komunikasi Visual Demo Mahasiswa

Oleh : Esa Arif AS

Ada yang menarik dan menjadi perbincangan dalam demo mahasiswa di berbagai wilayah di Indonesia beberapa hari ini, aksi tersebut digelar dalam rangka menolak sejumlah rancangan Undanga-undang, baik RUU KPK, RUU KUHP, RUU Pertanahan dan RUU minerba. Sejumlah peserta aksi membawa dan membentangka spanduk, poster bertuliskan sejumlah tuntutan. Tetapi menariknya gaya bahasanya yang digunakan sangat menggelitik dan unik.

Jika kita flash back pada sejumlah aksi yang digelar mahasiswa pada era 90-an dan 98, spanduk dan poster yang dibentangkan mahasiswa kala itu berisikan tuntutan yang narasinya sangat formal. Tetapi berbeda dengan aksi mahasiswa kali ini, justru narasinya informal dan cenderung lucu dan kocak. Barangkali inilah yang membedakan sebuah generasi, antara generasi baby boomers dan generasi milenial atau generasi Y.

- Advertisement -

Gaya komunikasi antar dua generasi mahasiswa era 1998 dan 2019 ini tentu saja akan sangat sulit diukur efektifitas dan pengaruhnya, tetapi kedunya tentu mempunyai kekhasan dan kekuatannya masing-masing sesuai dengan generasinya.

Gaya Baru

Gaya baru komunikasi publik yang dilakukan oleh mahasiswa milenial ini sangat kekinian, kreatif, unik, eksploratif dan menggelitik tetapi tidak keluar dari substansi dan konteks materi tuntutan aksi serta tujuan dari digelarnya demo tersebut.

Redi Panuju (2018) menyebutkan bahwa komunikasi publik adalah penyampaian pesan yang dilakukan kepada orang banyak (public). Isi pesan bisa berupa informasi, fakta, data, atau lainnya yang tujuannya untuk mempengaruhi publik untuk suatu urusan yang menyangkut kepentingan umum. Dalam hal ini tentu saja seorang komunikator mempunyai gaya bahasa dan narasi berbeda-beda dalam menyajikan pesan yang ingin disampaikan, dan mahasiswa saat ini sudah mempunyai gayanya sendiri dengan menggunakan komunikasi nonverbal ini.

Dalam ilmu komunikasi, ada komunikasi nonverbal yang merupakan bagian dari konunikasi visual, yakni sebuah komunikasi yang disampaikan melalui tulisan dengan unsur tipografi yang kuat, dan didalamnya memuat sebuah pesan untuk mempengaruhi halayak.

Mahasiswa telah mampu mengkomunikasikan tuntutan aksinya dengan cara kekinian dan mudah dipahami meskipun sesungguhnya materi tuntutannya merupakan bidang yang rumit dan sulit, yakni menyangkut hukum dan juga aspek politik yang terkandung di dalamnya.

Idealnya, seorang komunikator adalah orang yang memang mempunyai kompetensi dan keterampilan dalam menyusun pesan dan berbicara di muka umum (public speaking). Dalam konteks komunikasi visual maka komunikator harus mampu meramu narasi yang bisa menyedot perhatian dan sampainya pesan pada khalayak dan hal itulah yang dilakukan mahasiswa dalam aksinya kali ini.

Mahasiswa tentu mempunyai segala syarat untuk bisa meyakinkan publik, sebab mereka kelompok intelektual, kelompon terdidik, apalagi tuntutan mahasiswa memang menyangkut kepentingan umum, maka wajar aksi mahasiswa ini mendapatkan dukungan dari masyarakat luas, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Merebut Hati Publik.

Gaya komunikasi visual mahasiswa semacam ini tentu saja menjadi santapan yang renyah berbagai media, bahkan narasi unik tersebut banyak diulas di sejumlah media meanstream, menjadi headline media cetak, elektronik, media siber dan media sosial. Bahkan berbagai akun media sosial yang pengikutnya juataan, baik akun gosip serta influincer tidak henti-hentinya mengulas tentang poster lucu mahasiswa ini.

Narasi dalam poster dan spanduk yang diusung dan ditulis oleh mahasiswa dengan unik itu telah menguasai persepsi publik, maka wajar ketika totalitas dukungan dan perhatian publik mengarah pada aksi mahasiswa ini.

Tidak hanya persepsi, aksi mahasiswa ini juga mampu merebut hati publik, hal itu terlihat dari banyaknya meme lucu yang beredar dan mengundang gelak tawa di berbagai media sosial, meme lucu tersebut yakni tentang aksi serta substabsi dari tuntutan mahasiswa ini.

Ada sebuah teori yang menerangkan, jika ingin menguasai persepsi publik maka kuasai media, tetapi jika ingin memenangkan hatinya buat mereka tertawa. Dan aksi mahasiswa dengan gaya komunikasi visualnya ini telah mampu merebut keduanya, baik persepsi maupun hati rakyat Indonesia.

*) Penulis adalah akademisi, aktif sebagai dosen di Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Madura. Saat ini menjabat sebagai sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pamekasan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.