Foto kiri, Tugu Tèmbâ sesaat setelah dibangun pada tahun 1976 (Suparto-Repro) / Foto tengah dan kanan, Tugu Tèmbâ saat ini (Imam Chusnul)

Oleh : Dwi Budayana ED

*) Penulis adalah Arsitek, tinggal di Kabupaten Pamekasan

Bagi sebagian masyarakat atau pengendara yang melintas, tugu ini mungkin hanya sesuatu yang biasa saja. Ukurannya tidak begitu besar, sebagaimana tugu lazimnya. Bentuknya juga sederhana. Tidak menarik perhatian dan tidak eye catching. Apalagi posisi berdirinya berada di tikungan tajam. Ketika pandangan tidak bebas dan terbatas, tentu dibutuhkan konsentrasi tinggi. Tatapan mata harus lurus ke depan. Jangankan menoleh, melirik saja bisa berakibat fatal.

Lokasinya, berada di tepi jalan provinsi. Menghubungkan Kota Pamekasan dengan ibu kota Kecamatan Pakong. Tepat di perbatasan antara Desa Tlagah Kecamatan Pegantenan dan Desa Bicorong Kecamatan Pakong, Kabupaten Pemekasan.

Ide pembangunan tugu ini berasal dari Camat Pakong, kala itu. Namanya, Drs. H. Kadarisman Sastrodiwirjo, M.Si. Kebetulan ketika beliau menjabat sekitar tahun 1975, Kecamatan Pakong ditunjuk oleh pemerintah pusat sebagai wilayah UDKP atau Unit Daerah Kerja Pembangunan (Suparto, wawancara). Semacam kawasan prioritas unggulan, pada masa sekarang. Oleh karenanya, perlu dilakukan kegiatan kreatif dan inovatif. Baik fisik maupun non fisik.

Untuk fisik, salah satunya adalah pembangunan tugu. Bapak Drs. H. Kadarisman Sastrodiwirjo, M.Si, yang dulu menjadi Wakil Bupati Pamekasan dua periode (2003-2008 & 2008-2013), ingin adanya batas yang jelas antara wilayah Kecamatan Pakong dengan Kecamatan Pegantenan. Juga semacam pintu gerbang kala memasuki wilayah administratif Kecamatan Pakong. Selain itu, beliau juga berharap bahwa tugu yang akan dibangun adalah representasi dari berbagai potensi yang ada di wilayah Kecamatan Pakong.

Maka ide-ide tersebut tertuang dalam sebuah konsep perencanaan. Dilanjutkan proses pembangunan, pada tahun 1976. Gotong-royong dan swadaya menjadi kunci sukses pelaksanaan. Tidak hanya pengusaha lokal/pribumi, pengusaha keturunan Tionghoa juga turut menyumbang bahan-bahan bangunan. Sedang masyarakat dengan suka rela menyumbang tenaga (Suparto, wawancara). Tak butuh waktu lama, tugu sudah berdiri. Bangunan yang fenomenal dan luar biasa. Setidaknya pada masa itu.

Medio tahun 70-an, jalan raya tidak selebar dan sebagus sekarang. Rumah dan bangunan di sekitarnya juga belum banyak. Demikian pula intensitas kendaraan yang melintas. Itulah alasannya, mengapa tugu tersebut menjadi sebuah kebanggaan. Khususnya bagi masyarakat Kecamatan Pakong.

Adapun di tugu tersebut terdapat berbagai macam gambar timbul. Ada gambar tunas kelapa, tanaman tembakau, ikan air tawar, kepala sapi, sepasang wajah petani, cambuk/cemeti, kemudi kapal laut dan deretan rumah. Semua melambangkan bentuk dan simbol potensi, komoditas, kemakmuran dan keberhasilan pembangunan. Khususnya di wilayah Kecamatan Pakong.

Pada bagian paling atas, terdapat gambar bintang. Melambangkan kuasa, anugerah dan ke-esaan Allah SWT. Pada bagian bawah, terdapat patung berbentuk témbâ (timba) daun siwalan. Dua sisi, kanan-kiri. Disatukan dengan tali yang terikat pada sebuah kayu panjang (Kaju Pékolan) yang digenggam erat oleh sebuah tangan. Melambangkan alat yang digunakan para petani untuk menyiram tanaman.

Seiring perjalanan waktu, fungsi dan predikat dari tugu ini mengalami perkembangan. Dari semula yang hanya sebagai batas wilayah, pintu gerbang dan gambaran potensi, bertambah menjadi sebuah Tetenger. Bahasa kerennya, Landmark.

Fungsi tugu sebagai tetenger/landmark, diperoleh tidak dengan serta merta. Butuh waktu yang cukup lama. Diawali oleh masyarakat yang lazim menggunakan moda transportasi/angkutan umum dari Kota Pamekasan menuju Kecamatan Pakong. Demikian pula sebaliknya. Apabila tujuan akhir mereka ke tempat di sekitar tugu, kepada sopir atau kernet selalu berujar “Toron é témbâ”. Artinya adalah “Turun di (tugu) timba”.

Selanjutnya, masyarakat semakin akrab dan terbiasa menyebut “sebelum timba”, “sesudah timba”, “tepat di timba”, “sekitar satu kilometer dari timba” dan sejenisnya. Demikian seterusnya. Berulang-ulang selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya tempat di sekitar tugu, identik dengan nama Témbâ. Bukan nama kampung atau dusun, tapi merujuk pada objek dua buah timba yang ada di tugu.

Kini hampir setengah abad usia Tugu Témbâ. Keberadaannya masih terawat dengan baik. Masyarakat di wilayah Desa Bicorong dan Pemerintah Kecamatan Pakong, memberi perhatian maksimal. Dengan rutin melakukan perawatan. Terakhir, pada perayaan kemerdekaan RI ke 74, Agustus kemarin. Tugu Témba dicat. Lingkungan sekitarnya juga dibersihkan.

Sayangnya, ada beberapa bagian yang telah lenyap dan sudah tidak sama sebagaimana bentuk aslinya. Seperti “Kaju Pékolan” beserta talinya, bentuk tangan menggengam kayu di bagian paling atas, tulisan “Kec. Pakong” dan pagar pengaman.

Sebagai saran, mungkin akan lebih baik lagi apabila bentuk-bentuk yang hilang tersebut dibangun kembali. Semacam mengembalikan kejayaan masa lalu. Lebih bersyukur lagi kalau di sekitar tugu dibangun fasilitas penunjang seperti taman, lampu hias dan sebagainya.

Untuk selanjutnya mungkin dilakukan usaha-usaha untuk menumbuhkan dan menjaga kesadaran masyarakat agar selalu berperan aktif dalam usaha melestarikan tugu. Sebab, Tugu Témba ini memiliki kisah panjang dan telah sukses memperoleh pengakuan sebagai sebuah Tetenger atau Landmark.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.