Salah satu bangunan warga di Kelurahan Rongtengah Kota Sampang yang mengalami kemiringan dan hampir roboh dampak proyek normalisasi sungai Kemuning, Selasa (20/8/2019). (Ryan Hariyanto/MM).

Sampang, (Media Madura) – Warga Kelurahan Rongtengah, Kecamatan Kota Sampang, Madura, Jawa Timur, memprotes proyek normalisasi sungai Kemuning. Sebab, pembangunan Sheet Pile baja untuk mengatasi banjir tahunan yang berada di dekatnya membuat sejumlah bangunan usaha maupun rumah warga mengalami kemiringan dan hampir roboh.

Pantauan di lokasi, dinding bangunan warga terlihat retak-retak dan lantai bangunan ambles hingga kedalaman 40 centimeter. Bangunan yang rusak itu terpaksa dikosongkan karena mengancam jiwa keselamatan. Warga kini banyak tinggal ke rumah kontrakan bahkan mengungsi rumah famili yang jauh dari lokasi proyek.

“Sekarang sudah banyak warga tidak bisa menempati lagi, cari aman karena sudah hampir roboh, rusaknya bangunan akibat proyek normalisasi di belakang rumah warga ini,” kata Lurah Rongtengah Wakil, Selasa (20/8/2019).

Menurut Wakil, ada 58 bidang tanah milik warga yang terdampak proyek nomalisasi sungai Kemuning. Sampai saat ini, tidak ada kejelasan ganti rugi dari pihak terkait meski bangunan usaha dan rumah warga mengalami kemiringan dan nyaris roboh.

“Warga yang punya bangunan usaha kecil-kecilan terhenti, rugi jadinya, padahal proyek ini sudah masuk tahun ketiga yang dikerjakan,” tuturnya.

Selama ini, lanjut Wakil, banyak warganya mendatangi kantor Kelurahan menanyakan perihal proses ganti rugi. Dari 58 dokumen bukti kepemilikan tanah warga bervariasi, ada yang dilengkapi sertifikat hak milik, ada yang hanya pepel/leter C dan ada juga yang dokumennya masih belum lengkap.

“Saya menjadi benturan warga karena banyak yang tanya kapan kepastian ganti rugi tanah, apalagi sampai sekarang di Rongtengah belum ada pengukuran peta bidang dari BPN,” imbuhnya.

Faruk, pemilik tanah terdampak proyek, mengaku pada prinsipnya warga sangat mendukung proyek normalisasi sungai Kemuning yang sudah berjalan tiga tahun tersebut. Namun harus ada kejelasan ganti rugi sebagai tindakan iktikad baik pihak rekanan.

Di lokasi proyek, ada dua lahan yakni ditempati usaha mebel dan rumah miliknya berada di pinggir sungai yang terdampak pemasangan dinding konstruksi tersebut.

“Sejak awal memang ada pihak pelaksana yang mendatangi kami dan menjelaskan janji ganti rugi tanah yang terdampak normalisasi, kebetulah tanah saya yang ditempati usaha mebel dipastikan terdampak jalan inspeksi nantinya kurang lebih 4×4 meter persegi, namun hingga saat ini belum ada pengukuran,” pungkasnya.

Reporter : Ryan Hariyanto
Editor : Zainol

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.