Kepala Desa Angsanah, Mohammad Masduki saat menunjukkan batik hasil karya warganya

Pamekasan, (Media Madura) – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat dipusatkan di Desa Angsanah, Kecamatan Palengaan. Kondisi tersebut, membuat wilayah itu identik dengan bau tak sedap.

Namun, baru-baru ini sekolompok mahasiswa dari Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan mencoba meyakinkan warga hingga perangkat desa bahwa wilayah itu punya potensi besar untuk dikembangkan.

Kebetulan, para mahasiswa tengah menjalani program Perkuliahan Kerja Nyata (PKN) di Desa Angsanah.

Mahasiswa melirik usaha batik tulis yang cukup besar di sana. Yang dinilainya dapat menunjang perekenomian masyarakat. Menurut mereka, masyarakat bisa sejahtera jika produksi batik betul-betul dimaksimalkan.

Tujuan lain mahasiswa juga, agar Desa Angsanah tak melulu dicap sebagai ‘tong sampah’. Apalagi, perajin batik di sana cukup melimpah. Saking melimpahnya sampai hijrah ke desa tetangga, Desa Klampar, Kecamatan Proppo.

Saat ini, Desa Klampar sudah terkenal dengan sebutan Kampung Batik untuk Pamekasan.

Kepala Desa Angsanah, Mohammad Masduki mengakui bahwa desanya kalah bersaing dengan desa pengrajin batik lainnya. Padahal, potensi ke arah persaingan sangat besar dimiliki desanya dan menjanjikan. Utamanya, produksi batik tulis.

Hal itu diketahui, setelah para mahasiswa melakukan observasi di sektor perekonomian warga. Temuan-temuan itu akhirnya mengerucut pada usaha batik.

“Sebelumnya kami sampaikan terima kasih kepada adik-adik mahasiswa IAI Al-Khairat Pamekasan, yang sudah meyakinkan kami untuk menggali potensi desa kami,” kata Mohammad Masduki.

“Hal ini tentunya membuat kami semakin bersemangat untuk terus menggali potensi desa. Selanjutnya kita branding dengan konsep desa tematik,” sambungnya.

Dalam usaha batik, Desa Angsanah bukan tanpa karya. Sebut saja, Putri Madura Batik hingga Udin Batik Podhek. Kedua batik ini, diakui Mohammad Masduki, sudah sangat terkenal.

“Keduanya (perajin batik.red) ini merupakan warga Desa Angsanah,” tegasnya.

Diakui pula, selama ini Desa Angsanah hanya dikenal sebagai TPA, bukan karena batiknya. Maka itu, pihaknya berkomitmen akan lebih menseriusi potensi desa yang ada. Menurutnya, usaha batik sangat menjanjikan bagi kesejahteraan warga sana.

“Sebagian masyarakat kami memang bergerak di sektor batik, bahkan hasil karya dari para perajin batik asal Angsanah, juga sangat terkenal. Sayangnya, ketenaran hasil karya mereka tidak ada embel-embel nama Angsanah,” ungkapnya.

Salah satu langkah yang akan disiapkan, imbuh Masduki, yakni menyiapkan wadah khusus bagi para perajin batik sana. Rencananya juga, batik Desa Angsanah akan dijadikan tema dalam program Desa Tematik yang digagas Pemkab Pamekasan pada 2020 mendatang.

“Orientasi kami harus mengangkat dan membranding batik sebagai potensi menjanjikan, sehingga kami tidak hanya dikenal sebagai desa tempat TPA Sampah,” pungkas Pak Masduki.

Reporter: Zainol
Editor: Arif

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.